Tag

Aku tak tahu harus berbuat apa dengan rasa ini. Tiba – tiba saja datang tanpa diundang, membuat perasaanku tak menentu. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah, aku tak tahu jawabnya pasti!
Hanya saja, entah kenapa? Tiap kali aku melihat sosok wanita yang penampilannya menurutku sempurna itu, jantungku langsung berdebar. Ada ingin untuk selalu bisa dekat dengannya. Ada ingin untuk bercakap dengannya. Ada rasa kekaguman yang menawan hati untuk menyanjungnya. Apakah ini yang dinamakan cinta?
“Cinta merupakan karunia Ilahi, hadirnya tanpa diundang, tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam laksana akar pohon yang rindang. Menggetarkan jiwa, menggelorakan semangat dan rasa. Dunia pun menjadi aneh dibuatnya.” Begitulah ungkapkan tentang cinta yang kudapat dari sebuah buku.
Sousan Mumtaz. Namanya indah seperti orangnya. Dialah wanita yang telah menawan hatiku. Wajahnya yang putih bersih, cantik nan jelita dengan lesung pipi indah yang menawan hati. Matanya bulat bening berwana coklat, teduh namun tajam menatap dunia. Bibirnya merah muda, halus menawan. Senyumnya tulus menganggumkan, menambah kecantikan paras wajahnya. Suaranya lembut mendayu, tenang namun menghanyutkan. Ia semakin terlihat anggun dengan mahkota jilbabnya. Ditambah lagi dengan pandangannya yang luas. Otak yang cerdas. Akhlaknya pun sungguh sangat menawan. Semuanya ada padanya. Kecantikan yang menawan dibalut busana surgawi dengan bingkai akhlak imani dan pikiran yang cerdas. Sesuai dengan namanya, Sousan Mumtaz, teratai yang istimewa.
Pertama kali aku kenal dengannya adalah saat sebuah acara di kampus. Saat tingkat pertama dulu. Dari perkenalan itulah kemudian aku kenal dengan baik siapa dia, walaupun saat itu sampai sekarang hubungan aku dengannya hanya sebatas teman. Dan aku pun jarang sekali berinteraksi secara langsung dengannya. Namun, wajahnya yang cantik menawan, tutur katanya yang sopan dengan suara lembut mendayu saat aku berbincang dengannya, dan pikirannya yang matang dalam memandang suatu masalah lewat tulisan – tulisannya yang kubaca di berbagai media. Membuat bibit rasa ini tumbuh, perasaan cinta yang sekarang menderaku tumbuh semakin lebat.
Kurasakan getar hatiku manakala bercerita penuh harap kepadanya. Ia laksana kilau permata yang penuh cahaya dimataku. Mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat.
Aku jadi ragu untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya. Apakah ia mau menerima cintaku. Aku hanya seorang lelaki biasa, sedangkan ia seperti mahadewi yang menjadi rebutan para arjuna. Dia cantik, cerdas, berakhlak menawan, dan anak orang kaya yang memiliki jabatan. Diriku hanyalah anak kuliahan biasa, aku juga tak terlalu cerdas dan aku anak seorang petani miskin dari desa yang bekerja keras untuk membiayai kuliah anaknya. Cintaku seperti punguk merindukan bulan.
Tapi, bagaimana dengan rasa ini? Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Tiga tahun aku kenal dengan dia. Sudah dua tahun ini rasa cinta itu tumbuh dan terus tumbuh semakin lebat. Buku yang kubaca, tapi wajahnya yang hadir berkilatan. Suara angin mendesir pun berubah menjadi suaranya yang lembut dan tenang. Kalau tak segera kuungkapkan rasa ini, bisa gila aku dibuatnya!
aku ingin mengutarakan cintakan. mengatakan seperti pusisinya Sapardi. ah Sousah,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku mengumpulkan keberanianku. Rasa cinta ini menggelorakan semangat dan perasaanku. Kutuliskan surat cintaku di secarik kertas. Siang ini akan aku berikan padanya. Selepas rapat sebuah organisasi.
Sousan, Sebagaimana Allah menghadirkanku ke dunia ini dengan rasa cinta, melalui perantara seorang ummi yang penuh kasih, karena itulah, rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbuku adalah rasa cinta (ingin dicintai dan mencintai).
Aku tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul. Bersama itu pula timbul hasrat dihatiku untuk mencari pasangan hidup, teman berbagi suka dan duka di alam ini.” Aku membaca kembali kata – kata dalam secarik kertas, kalimat yang kucontek dari sebuah buku yang akan aku berikan pada Sousan bersama setangkai bungan mawar.
“Sousan.” Panggilku saat ia keluar dari sebuah ruangan.
“Assalammu’alaikum. Faris, ada apa?” Sapanya lembut.
“Wa’alaikum salam. Aku…ee..” Mulutku terasa gagap, aku tak sanggup bicara padanya, melihat wajahnya pun aku tak sanggup.
“Faris, kamu ingin bicara apa padaku?” Tanya Sousan penasaran.
“Aku…ini untukmu!” Aku memberikan amplop berwarna biru langit dan setangkai bungan mawar padanya.
Kulihat Sousan mengernyitkan dahi. Sejenak ia terpaku menatap amplop dan bunga mawar yang kuberika padanya. Persendianku terasa lemas, seperti menunggu sebuah vonis darinya. “Ini untuk apa?” Tanya Sousan sambil mengangkat amplop dan bunga mawar itu dengan kedua tangannya.
“Itu tentang perasaanku!” Jawabku singkat sambil berlalu meninggalkannya.
***
Hatiku berdebar semakin kencang. Tanganku bergetar memegang sepucuk surat dari Sousan. Perlahan kubuka surat itu dan kubaca isinya:
Assalammu’alaikum.
Sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu yang telah mencintaiku. Jujur, aku sangat senang ada orang yang telah mencintaiku sepenuh hatinya. Hanya saja perlu kau ketahui bahwa aku tidak memerlukan seorang pacar, yang aku butuhkan adalah seorang lelaki untuk menjadi suamiku. Dan aku TELAH DIJODOHKAN dengan seorang LELAKI PILIHAN kedua orang tuaku. Yang tak bisa aku menolaknya karena keputusan kedua orangtuaku, kuyakini sebagai keputusan yang terbaik bagi diriku. Orangtuakulah yang lebih tahu tentang aku sebagai anaknya. Lelaki itu pun telah meminangku. Kau tahukan! Seorang lelaki tidak boleh meminang diatas pinangan saudaranya.
Namun satu hal yang harus kau ingat! TAK SELAMANYA CINTA ITU HARUS MEMILIKI. Ibarat Qalbu yang bebas bergerak tanpa bisa ku cegah. Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir. aku saja tak dapat memiliki hatiku, apalagi orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah.
Sesungguhnya cinta dijadikan Allah di dalam Qalbu. Keindahannya akan kau temukan manakala kau dapatkan hatimu mencintai Allah. Tak ada satu pun yang sempurna di muka bumi ini kecuali diri Nya. Cobalah kau pahami firmanNya:
Laa tahzaan wa laa takhaaf, Janganlah sedih dan janganlah takut, Innallaahaa ma’ana, Sesungguhnya Allah bersama kamu.
Betapa dengan sayang Nya Ia berkata: ‘Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna litthayyibaati’ Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS.An Nur 24:26).
Terimakasih atas perasaan cintamu padaku. Tapi maaf, aku telah dijodohkan dan dipinang oleh lelaki lain. Masih ada wanita lain yang dapat kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Yang aku yakini sesuai Firman Nya adalah Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.
Mataku basah membaca surat itu. Cintaku kandas. Ternyata ia telah dijodohkan dan dilamar oleh orang lain. Langit seolah runtuh menimpa hatiku. Tubuhku remuk redam dihantam gelombang kenyataan. Perih dan sakit! Itu yang kurasakan sekarang.
Dalam surat itu pun ada undangan pernikahannya. Ia akan menikah satu minggu lagi. Aku mencintainya ibarat kuncup bunga hati yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat. Namun, ternyata jangankan mekar yang kudapat. Kuncup itu layu sebelum berkembang.
Sungguh beruntung lelaki yang mendapatkan cintanya. Aku tak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Entahlah akupun tidak tahu. Namun yang terpenting dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia, bagiku dialah yang terindah, terbaik, dan paling mempesona! Pancarannya begitu tajam menghujam. Sungguh, tak akan ada yang bisa menggantikannya walaupun dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!
***
“Faris, ada apa dengamu?” Tanya Angga padaku yang temenung bersandar di samping jendela kamar kost, melihat bulan purnama yang tertutup sebagian awan.
“Aku mencintai Sousan. Tapi, ia menolakku! Dan ia akan nikah minggu besok.” Jawabku lirih.
“Ris.” Angga menaruh telapak tangannya di pundakku. “Bersyukurlah ris, Allah kini menyadarkan kamu dari kekhilafan. Kau sampai lupa untuk mencurahkan cintamu pada yang seharusnya lebih kau cintai dari pada Sousan. Sadarlah ris, bahwa teramat sulit menggapai cinta Allah, yang telah bisa kupelajari dari mahluk Nya yang bernama manusia. Karena itu, kau harus bangkit untuk menjadi yang terbaik.”
“Sadar dan bangkit?”
“Iya.” Jawab Angga tanpa ragu. “Sesungguhnya yang ada padamu sudah teramat sempurna yang telah Allah berikan. Namun? Sinarannya belum terlihat, masih pudar dan perlu kau bersihkan, itulah hati. Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan, kilaunya akan memancar ke luar, itulah namanya kecantikan atau ketampanan hakiki. Bukankah kasih tak sampai benteng diri untuk senantiasa menjaga kesucian? Terutama hatimu yang senantiasa wajib kau jaga kesuciannya. Karena itulah… Kasih Tak Sampai merupakan sebuah cermin bahwa untuk mengerti arti cinta sejati yang sesungguhnya.
Seseorang mencintai orang lain tidaklah melihat dari kecantikan, ketampanan atau kekayaan. Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada hatinya. Kenapa? Karena kecantikan atau ketampanan akan sirna bersama berlalunya waktu. Begitu pun kekayaan akan lenyap bersama perputaran roda kehidupan. Pangkat dan jabatan pun akan berakhir dengan habisnya masa. Sedangkan pancaran hati akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi.” Lanjut Angga yang membuatku terisak.
Angga mengangkat tangannya dari pundakku. Kemudian ia pergi berlalu meninggalkanku sendirian di kamar itu.
Aku membenamkan kepalaku. Larut dalam keheningan malam. Dalam sepi ku berdo’a:
“Ya Allah. Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup. Satukanlah hatinya dengan hatiku. Titipkanlah kebahagiaan diantara kami. Agar kemesraan itu abadi. Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi. Seiringkanlah kami melayari hidup ini ke tepian yang sejahtera dan abadi.
Tetapi ya Allah. Seandainya telah Engkau takdirkan…dia bukan milikku. Bawalah ia jauh dari pandanganku. Luputkanlah ia dari ingatanku. Ambilah kebahagiaan ketika dia ada disisiku dan peliharalah aku dari kekecewaan. Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti. Berikanlah aku kekuatan melontar bayangannya jauh ke dada langit, hilang bersama senja merah. Agar aku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya.
Dan ya Allah tercinta. Gantikanlah yang telah hilang. Tumbuhkanlah kembali yang telah patah. Walaupun tidak sama dengan dirinya. Ya Allah ya Tuhanku. Pasrahkanlah aku dengan takdir Mu. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buatku. Karena Engkau Maha Mengetahui Segala yang terbaik buat hambaMu ini…”
Gintung, 010807. 06.43 Wib

catatan penulis: nih cerpen sebenarnya udah lama nulisnya. waktu terinfeksi virus merah jambu. tapi direvisis lagi tahun lalu. untungnya aku ditolak. he.. he.. orang aneh, ditolak malah seneng.