Tag

,

Ahmad-Yunus

Berita mengenai kurang dimanfaatkannya buku digital secara maksimal oleh para guru untuk menunjang pembelajaran, seperti yang diberitakan kompas edisi 6 Mei 2009 menarik untuk dicermati.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya bahwa Depdiknas telah membeli hak cipta buku pelajaran untuk kemudian dikonversi menjadi buku digital. Proyek buku digital sendiri dimulai pada tahun ajaran 2008. Tujuan buku digital sendiri adalah untuk penyediaan buku murah di indonesia dan percepatan mutu pendidikan.

Akan tetapi proyek ini juga tak sepi dari kendala dalam realisasinya. Seperti yang diberitakan oleh kompas (6/5) bahwa para guru masih lebih suka memakai buku teks pelajaran karena lebih praktis dan sesuai kebutuhan. Belum lagi jumlah buku teks yang tersedia di Buku Sekolah Elektronik Depdiknas (bse.depdiknas.go.id) masih terbatas dan belum mencukupi kebutuhan pembelajaran di sekolah, semisal buku – buku siwa SMK bidang pekerjaan sosial yang masih sedikit. Di daerah terpencil jauh lebih tragis, buku digital masih menjadi barang yang asing dan banyak guru yang tidak mengetahui tentang buku digital.

Buku Konvensional

Inilah bentuk buku yang biasa kita kenal. Buku yang tercetak dan memakai kertas sebagai bahan bakunya. Buku jenis ini memiliki kelebihan seperti bentuknya yang portabel sehingga dapat dibawa kemana – mana. Buku jenis ini juga bisa ditulisi semisal ingin memberikan catatan tambahan. Berbeda dengan buku digital, buku konvensional tidak membutuhkan pengetahuan dan keahlian tambahan serta alat bantu untuk mengakses dan menggunakannya. Kelebihan inilah yang menjadi alasan guru lebih menyukai buku teks pelajaran ketimbang buku digital. Akan tetapi biaya cetak buku ini mahal sehingga harganya pun relatif mahal.

Buku Digital

Adalah bentuk elektronik atau digital dari buku yang biasanya ada dalam bentuk kertas. Untuk masalah isi sendiri tidak jauh berbeda dengan buku konvensional, sama – sama berisis teks dan gambar. Namun, buku digital ini direkam secara elektronik dan disimpan sebagai data dalam komputer.

Kelebihan buku digital adalah dapat memuat banyak informasi dibandingkan buku konvensional. Buku digital juga mudah dalam menyimpan data, bisa disimpan dalam bentuk cakram atau alat penyimpan lainnya. Selain itu, buku digital mudah untuk diduplikasi serta mudah untuk disebarkan.

Akan tetapi buku digital juga memiliki kekurangan. Sebagai buku elektronik, buku digital membutuhkan alat bantu semisal komputer yang harganya lumayan serta pengetahuan dan keahlian tambahan untuk mengakses dan menggunakannya. Membaca buku digital lewat komputer sudah pasti membuat mata lelah, maka PDA (Personal Data Adapter) bisa membatu. Bentuk PDA yang kecil dan ringan memudahkan orang untuk membawanya kemanapun. Huruf di dalam PDA juga bisa diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan. Sayangnya harga PDA masih mahal, sehingga hanya mampu dimiliki kalangan tertentu.

Beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai solusi

Buku digital yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2008 bertujuan untuk penyediaan buku murah di indonesia dan percepatan serta pemerataan mutu pendidikan. Memang masih belum sesuai harapan. Akan tetapi proyek ini adalah sebuah inovasi yang visioner guna memajukan dunia pendidikan kita. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan oleh depdiknas sebagai solusi adalah:

Pertama. Penulis menyoroti sosialisasi yang telah dilakukan Depdiknas terkait proyek buku digital. Sosialisai yang telah dilakukan kurang memuaskan. Karena masih banyak guru di daerah terpencil yang masih asing dengan buku digital, bahkan tidak tahu sama sekali. Karena itu perlu sosialisasi yang lebih masif lagi baik melalui media online maupun offline. Jika diperlukan juga membuat buku katalog dan buku panduan tentang buku digital.

Kedua. Masih banyak guru yang tidak bisa menggunakan komputer, apalagi internet. Sedangkan untuk mengakses dan menggunakan buku digital diperlukan pengetahuan dan keahlian tambahan. Melihat kondisi ini perlu adanya pelatihan komputer untuk para guru. Dengan pelatihan seperti itu diharapkan para guru bisa menggunakan komputer dan bisa mengakses serta menggunakan buku digital untuk menunjang proses belajar.

Ketiga. Buku digital adalah jenis buku yang terbacakan mesin. Untuk itu perlu juga dipikirkan pengadaan alat pembacanya, misal komputer dengan perangkat lunaknya.

Keempat. Perpustakaan sekolah juga dapat diberdayakan untuk penggunaan buku digital. Perpustakaan bisa berperan aktif dengan menyediakan komputer yang sudah berisi program dan buku digital, sehingga ketika guru atau murid ingin mengakses dan menggunakan buku digital bisa terlayani. Pustakawan juga bisa berperan sebagai pemandu ketika pengguna perpustakaan tidak tahu bagaimana cara mengakses dan menggunakan buku digital yang telah disediakan oleh mereka. Selain itu juga, perpustakaan bisa menduplikasi buku digital dalam bentuk lain, semisal cakram untuk dipinjamkan atau dikopi isinya oleh si pengguna.

Buku digital memang tidak akan dapat menggantikan secara total peran buku dan perpustakaan konvensional dikarenakan kelebihan dan kelemahan yang ada. Namun buku digital dapat melengkapi buku dan perpustakaan nasional. Inavoasi yang dilakukan Depdiknas dengan menyediakan buku digital yang bisa diunduh secara gratis adalah sebuah terobosan penting untuk memajukan dunia pendidikan kita. Perlu adanya evaluasi menyeluruh mengenai proyek buku digital ini agar kedepan langkah yang diambil oleh pemerintah bisa lebih tepat sasaran.