Tag

Ahmad-Yunus

Sebenarnya saya bukanlah seorang penulis beken. Tapi, banyak sekali pertanyaan yang diajukan pada saya, gimana sih caranya jadi penulis? Yang dengan seketika saya mafhumi. Karena mereka sering melihat saya dengan begitu mudahnya merangkai kata – kata (padahal sejatinya sulit sekali.)

Tapi, sebenarnya saya pun mengalami suatu proses dalam menulis. Dari yang mentok melulu hingga akhirnya bisa lancar dalam menulis. Dan proses itu memakan waktu panjang.

Butuhkah bakat dalam menulis? Tidak juga. Seperti yang saya katakan di atas, proseslah yang membuat penulis jadi mahir untuk menulis.

anda tak perlu khawatir untuk mempublikasikan karya anda dan tak perlu takut untuk ditolak oleh media. Anda bisa memanfaatkan blog untuk mempublikasikan karya anda sendiri. lewat blog juga anda akan mendapatkan komentar dari pembaca tulisan anda yang bisa memberikan masukan berharga bagi perkembangan proses kreatif penulisan anda.

Baiklah, saya akan memotivasi anda yang ingin belajar menulis untuk bisa menulis, walaupun sedikit. Berikut ini tulisan yang saya kutip dari buku “Buku Sakti Menulis Fiksi.” Terbitan Annida.

Copy The Master.

Kadang kala kita sulit untuk memulai tulisan. Kita terkagum – kagum dengan karya orang lain. Boleh enggak sih meniru? Eh, siapa bilang enggak boleh? Tapi, baca penjelasan berikut ini dulu:

Konon pada zaman dulu di Cina, seseorang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik –biasanya dibuat oleh seorang master, ahli melukis. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi sampai semirip mungkin. Sesudah berpuluh – dua puluhan mencoba, sang murid akan mendapat sebuah master baru untuk ditiru. Begitu seterusnya sampai sang calon pelukis bisa melukis sendiri.

Nah, metode ini dinamakan copy the master. Metode ini bisa juga untuk menulis. Kita dapat menjadikan karya penulis beken sebagai latihan. Kita baca dan pelajari. Yang kita copy adalah kerangkanya, idenya, bahkan juga cara atau tekniknya. Tentu saja sebagai latihan! Bukan untuk menyalin atau menjiplak lho. (Ini mah pembajak!)

Wiliam Sinzsser mengatakan bahwa jangan pernah ragu meniru penulis lain, karena setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, kita akan menemukan gaya sendiri dan meanggalkan kulit penulis yang kita tiru.

Games.

Nah untuk latihan, kita akan bermain games. Ada dua gemes yang saya sadur dari bukunya Afra, How To Be Smart Writer, dalam games ini tak terlalu dituntut bahasa yang baku. Kamu bisa menggunakan kamus sebagai bantuan.

  1. Untuk games pertama ini akan mengetahui seberapa banyak perbendaharaan kosa kata kamu. Cobalah susun susun paragraph dengan kata – kata penyusun berhuruf awal urutan alphabetic.

Contoh:

Andai Bisa Cinta Di Entahkan. Firasat Galau Hanguslah. Ingatan Jadi Kepingan Lama. Maka Nanti, Organ Permukaannya Quarsa. Remah Sudah telinga. Ukuran Versi Wilders, Xinematografer Yang Zhalim.

  1. Susunlah kalimat dengan kata – kata penyusun bersuku kata dari 1 hingga 8.

Contoh:

Oh

Ka-u

Mer-pa-ti

Ke-pak-an-lah

Sa-yap-sa-yap-mu

Me-na-ri-na-ri-kan

Ke-le-mah-lem-but-an-mu

di-an-ta-ra-dir-gan-ta-ra

Nah, kalo kamu emang bener – bener ngebet ingin jadi penulis. Saya sarankan untuk membaca buku:

  1. Buku sakti nulis fiksi, Annida.
  2. How to be smart writer, karya Afifah Afra