Tag

, , ,

Ahmad-Yunus

Bulan semakin beranjak naik. Malam semakin memekat hitam. Angin mengalir sepoi – sepoi. Bintang – bintang bertaburan, saling berkelip di konstalasi galaksi. Diiringi tasbih alam. Menakjubkan.

Dari kamar emak terdengar suara merdu dan lembut milik kak Danar melantunkan kalam Illahi. Memang sudah beberapa hari ini kak Danar ada di rumah dan selalu membacakan surat cinta dari Illahi itu untuk emak . D

ia baru saja di wisuda dari fakultas kedokteran dan sedang menunggu untuk PTT. Dia jugalah kebanggan keluarga kami dan warga kampung kami. Karena dia adalah anak dari kampung yang berhasil lulus menjadi seorang dokter dari universitas ternama di Jakarta . Dari beasiswa lagi, dari awal masuk kuliah sampai lulus tidak bayar sepeser pun. Hebatkan!

Emak memang sudah lama terbaring di tempat tidur karena sakit. Di usianya yang mulai senja, sakit emak sering kambuh dan bertambah parah. Tapi, sejak kak Danar ada di rumah, emak terlihat lebih bugar. Apalagi kak Danar selalu menjaga emak dan membacakan ayat – ayat suci untuk memompa semangat emak . Aku bisa lebih tenang.

***

Sore ini kulihat wajah kak Danar agak memburam. Kelelahan tampak dari wajahnya yang bersih. Sepertinya ia baru pulang dari Jakarta .

Sore ini ia tampak tak banyak bicara. Dia lebih tampak diam. Sepertinya ada sesuatu dengannya. Entah karena memang kelelahan atau ada sebab lain. Aku tak tahu!

Senja memerah di ufuk barat. Burung – burung berterbangan kembali ke sarangnya. Lantunan adzan maghrib membelah langit sore yang berlembayung merah. Memanggil untuk shalat.

Kulihat wajah kak Danar datar saat keluar dari masjid. Ia langsung lewat di depanku dan tak mengucapkan sepatah kata apa pun padaku. Aku jadi bingung ada apa dengannya?

Sesampainya di dalam rumah aku sudah mendengar suara merdunya melantunkan ayat – ayat cinta Illahi. Saat kulihat kamar emak , Adinda dan kak Danar duduk di samping emak . Tapi, tak ada yang aneh dengan sikap kak Danar di hadapan emak . Kulihat emak tersenyum mendengar anak sulungnya membacakan Al Qur’an untuknya. Memang sewaktu kuliah kak Danar jarang pulang ke rumah. Sebab kak Danar dapat beasiswa untuk kuliah di fakultas kedokteran di Jakarta . Jarak dari Jakarta ke kampungku memang sangat jauh dan mahal, jadi kak Danar memilih jarang pulang. Mungkin itulah yang menyebabkan emak sangat rindu padanya.

Selepas isya emak sudah tertidur. Sedangkan Adinda masih asyik dengan membaca buku di ruang tamu.

“Faiq, Dinda, kemari!” Panggil kak Danar dari kamarnya.

“ Ada apa kak?” Tanya Adinda yang nyampe duluan ke Kamar kak Danar.

“ Ada hal penting yang ingin kakak bicarakan.” Jawab kak Danar dengan tampang serius. “Minggu depan aku akan berangkat PTT. Aku akan PTT di Bengkulu.”

“Di Bengkulu? Jauh amat?” Suara Adinda kaget.

“Ya, Bengkulu. Karena kalau PTT di sini itu dua tahun. Kabupaten kita kan sudah dianggap kota . Tapi, kalau di pelosok itu hanya satu tahun. Biar cepat.”

“Nanti emak gimana?” Tanyaku

“Itulah permasalahannya. Aku ingin membicarakan itu sama kalian. Aku juga enggak ingin emak sedih karena aku semakin jauh darinya.”

“Apa yang harus kami katakan pada emak . Kalau kak Danar sudah ada di Bengkulu.”

“Kalian bilang saja kalau aku ada di Bandung . Di tugaskan di Bandung .”

“Apa enggak apa – apa bohong gitu sama emak .” Timpal Adinda.

“Kalau bilang aku ada di Bengkulu. Emak sedih enggak mendengarnya?” Aku dan Adinda tak menjawab pertanyaan kak Danar itu. “Plis. Tolong kakak yah.”

Semenjak saat itulah kalau emak menanyakan kak Danar ada di mana? Aku dan Adinda selalu menjawab kak Danar ada di Bandung , masih sibuk dengan tugas – tugasnya. Hanya diksi itu yang terlontar dari mulut kami tiap kali emak menanyakan ada di mana kak Danar dan kapan pulangnya.

Atau sesekali aku meminta kak Danar menelepon emak , kalau aku dan Adinda sudah tak sanggup lagi membendung kerinduan emak pada kak Danar. Dengan begitu emak sedikit tenang.

***

Sebentar lagi puasa. Besok sudah hari pertama. Berarti lebaran tinggal sebulan lagi. Tapi, tampaknya lebaran kali ini akan kurang kebahagiaanya. Karena kak Danar masih berada di Bengkulu. Ia baru pulang sekitar tiga bulan lagi.

Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan pada emak . Kalau ia bertanya kepadaku tentang kak Danar. Tiap kali kata yang terucap dariku selalu membuat guratan kekecewaan di wajah emak . Emak pun tampak semakin kurus sejak kepergian kak Danar.

Suara Adzan Isya sudah menyentuh telinga. Aku pergi ke masjid untuk shalat Isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat tarawih. Malam ini adalah malam pertama shalat tarawih di mulai.

Setengah sembilan aku baru pulang dari masjid. Sampainya di rumah aku langsung dikejutkan dengan sikap Adinda. Adik perempuanku satu – satunya itu memasang wajah awan hitam. Tak lama berselang ia menangis di hadapanku. Aku jadi bingung ada apa dengannya. Apa yang telah terjadi?

“Dinda, apa yang terjadi?” Tanyaku.

“Kak… Da..nar” Jawabnya tersenggal.

“Apa yang terjadi ama kak Danar?” Tanyaku memburu. Adinda bukannya menjawab pertanyaanku. Malah memelukku dan menangis semakin menjadi. “Dinda, ada apa sama kak Danar?”

“Kak, liat TV!”

Aku menghidupkan televisi dan mencari berita…

Masya Allah . Gempabumi di Bengkulu. Berpotensi tsunami. Jantungku berdegup dua kali lebih gencar. Persendianku langsung lemas mendengar berita itu. Ya Allah, kak Danar ada di Bengkulu sekarang. Bagaimana dengan keadaannya?

Emak tahu?” Tanyaku pada Adinda.

Emak enggak tahu kak Danar sebenarnya ada di mana. Emak juga udah tidur.” A

ku bisa bernafas sedikit lega. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika emak mengetahui di mana kak Danar berada sebenarnya. Dan mendengar berita itu.

“Kak, Kak Danar gimana?” Suara Adinda berat. Tangisnya sedikit mereda.

“Aku enggak tahu. Semoga dia selamat.” Ucapku penuh harap.

“Amin. Kak Coba di telepon.”

“Oh, iya. Kenapa enggak terpikirkan.”

Aku mengambil telepon selulerku yang tergeletak di atas meja kamar tidurku. Aku menekan keypad telepon seluler mencoba untuk menghubungi kak Danar.

Tuuut…tuuuuttt…

“Gimana kak?” Tanya Adinda penasaran.

Aku menggelengkan kepala. Kembali aku coba menghubungi kak Danar. Tuuuttt….tuuuuutttt… ah, selalu tulalit yang kudengar.

“Enggak bisa dihubungi, Nda.” Ucapku pias.

“Kak Danar.” Suara Adinda parau.

Kulihat di matanya ada kabut tipis yang turun perlahan mengirimkan tetesan air embun ke pelupuk matanya yang memerah. Aku memegang pundak Adinda. Kutatap lekat wajah bulat bening adik perempuanku yang kini mengijak bangku SMA itu.

“Nda, tenang dan sabar, hanya itu yang kita bisa lakukan sambil berdo’a semoga kak Danar selamat dari musibah.” Aku mencoba menenangkannya. “Satu lagi, jangan bilang ke emak mengenai hal ini!”

Adinda menganggukkan kepala. Malam ini terasa sangat lama untuk berlalu. Persaanku juga berat. Aku dihantui kecemasan dan kekhawatiran dengan keadaan kak Danar yang sekarang ada di Bengkulu. Aku tak bisa tidur. Mata ini tak terasa ngantuk. Aku mengambil air wudhu, bermujanat pada Yang Maha Pemberi, agar ia mengabulkan do’aku. Semoga kak Danar selamat.

Sampai saat kami sahur tak ada kabar dari kak Danar. Aku mencoba meneleponnya namun selalu gagal. Berbagai perasaan buruk menyelimuti hatiku.

“Faiq, emak kangen sama Danar.” Suara emak lembut di pagi itu. Tapi terdengar bagaikan petir di siang bolong. Menyentakkan dadaku yang bingung harus berbuat apa. Aku menatap Adinda. Adinda mengangkat bahunya, tanda bingung harus berbuat apa.

“Tadi malam Faiq udah telepon kak Danar. Katanya, hari ini sibuk enggak bisa diganggu.” Kataku, lagi – lagi harus berbohong pada emak .

“Oh, gitu ya.” Ucap emak dengan nada kecewa.

“Tapi, Faiq udah bilang ama kak Danar untuk nelepon emak kalau udah enggak sibuk.” Ucapku mencoba untuk menyenangkan emak , walaupun harus berbohong.

Matahari terus merangkak naik. Hari ini aku sengaja tidak masuk kerja. Aku ingin menemani emak dan mendapatkan informasi tentang gempa di sumatera lewat televisi. Tapi, bukannya ketenangan yang kudapat malah sebaliknya, kecemasan yang semakin menyelimuti hatiku yang khawatir. Gempa – gempa besar masih terus terjadi. Jambi, Bengkulu, Padang dan seantero Sumatera terus digoyang oleh gempabumi yang bersusulan hadirnya.

Bagaimana ini, kok semakin gawat? Bagaimana dengan kak Danar? Telepon selulerku berdering. Ada panggilan masuk. Kulihat dari screen tertulis nama kak Danar. Aku segara mengangkatnya. Ada rasa kebahagiaannya yang tiba – tiba saja melonjak deras.

“Kak Danar, kak Danar enggak apa – apakan?” Tanyaku langsung memburu.

“Maaf, saya bukan dokter Danar.” Jawab suara perempuan di ujung telepon. “Anda siapa?” “Saya adalah bidan Dewi. Rekan kerja pak Danar.”

“Bagaimana keadaan kakak saya?”

“Begini pak, saat gempa terjadi dokter Danar masih berada di puskesmas. Dan kami menemukan beliau dalam keadaan sudah tertimpa reruntuhan gedung.” Ungkap bidan Dewi.

“Kakak saya tertimpa reruntuhan gedung?” Tanyaku seperti tak percaya.

“Iya, kakak anda tertimpa bagunan puskesmas. Dia mengalami luka di kepala, tulang punggungnya retak dan kakinya patah. Tapi, kami sudah berusaha menolongnya.” Jelasnya yang membuat jantungku terasa copot.

“Kak Danar akan selamatkan, bu?” Tanyaku penuh emosi. Cairan bening kristal turun dari pelupuk mataku.

“Sekarang dokter Danar dalam keadaan kritis. Dia harus melewati masa kritis sampai empat hari kedepan. Dia sekarang ada di persimpangan antara hidup dan mati. Semua itu tergantung keputusan yang di atas.” Lanjutnya membuat perasaanku teraduk.

Apa yang akan aku katakan pada Adinda tentang keadaan kak Danar. Dan apa lagi yang harus aku katakan pada emak jika beliau menanyakan kak Danar. Kabut tipis yang perlahan turun berubah menjadi hujan lebat di mataku. Aku sudah tak dapat mendengar lagi suara di ujung telepon. Persendianku terasa lemas. Telepon seluler yang kugenggam pun terjatuh dari tanganku. Rasa sedih menyeruak di rongga dadaku. Sesak dan perih rasanya aku mendapatkan kabar dari sumatera itu.

Negeri yang Merintih. 150907.