Tag

, , ,

Saat ini setiap bangsa tidak bisa memproteksi diri dari “intervensi” bangsa lain, dalam artian tidak bisa lagi mencegah pengaruh yang datang dari luar negeri. Kenichi Ohmae menyebutnya “dunia tanpa batas” (Borderless World). Dan benteng kokoh semua bangsa dan Negara yang hakiki adalah karakter dan kompetensi bangsa itu sendiri.

Rasanya sulit membayangkan menghadapi persaingan global yang semakin menggurita dengan kompetensi rendah. Hal ini hanya akan mengakibatkan kita menjadi kuli di rumah sendiri, atau terpaksa mengekspor anak bangsa sebagai buruh kasar nan rendah ke negeri orang.

Kenyataanya kita telah jauh tertinggal, bahkan oleh negara kecil dengan sumber daya alam terbatas pun kita tertinggal. Jika dulu anak-anak Malaysia datang ke Indonesia untuk belajar, dan kita berbangga karenanya, kini kondisi itu telah terbalik. Padahal kita menyimpan potensi melimpah, siapa yang tidak tahu kekayaan alam kita? Sumber daya manusianya pun memiliki potensi besar jika dikelola secara benar, anak-anak muda Indonesia yang menorehkan tinta emas disejumlah kompetisi ilmiah bergengsi tingkat dunia adalah buktinya.

Kita saat ini telah memasuki era baru, Alvin Toffler menyebutnya era Informasi,  adalah peradaban yang didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan pengolahan data, penerbangan dan aplikasi angkasa luar, energi alternatif dan energi terbarukan serta rekayasa genetik dan bioteknologi, dengan komputer dan mikro teknik sebagai teknologi intinya. Pada era ini jaringan komunikasi, data dan informasi, komputer, latihan dan teknologi modernlah yang terpenting. Informasi merupakan faktor penentu. Jika pada gelombang kedua mengutamakan kekuatan fisik manusia, pada gelombang ketiga menekankan pada kekuatan pikiran.

Tapi, apakah cukup hanya mengandalkan pada kekuatan pikiran saja? Tidak! Di negeri ini sudah banyak orang  pintar, namun kualitas spritualnya lemah. Yang menyebabkan terkorupsinya akhlak dan membuat banyak orang pintar di negeri ini tak malu lagi mencuri uang negara. Bahkan Taufiq Ismail mencibir lewat puisinya, Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak, Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.

Hal ini berbeda dengan tetangga kita Singapura, terkenal sebagai negara pengekspor SDM berkualitas karena didukung dengan system pendidikan bermutu. Tapi juga, karaterisitik bangsanya yang anti korupsi, ini terbukti lewat  Indeks Persepsi Korupsi, Singapura peringkat 3 dengan skor 9,2.

Kita butuh SDM yang berkualitas dan ideal untuk menjawab tantangan masa depan dan membawa negeri ini pada gerbang kejayaan. Namun, sosok ideal hanya akan lahir dari sebuah sistem pendidikan terpadu dan seimbang antara aspek spritual dan keilmuan. Hal ini terlukis jelas dalam riwayat pasukan Al Fatih ketika menaklukan Konstatinopel, Dari sisi keshalihannya, Muhammad Al-Fatih disebutkan tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak baligh hingga saat wafat. Dan kedekatannya kepada Allah SWT ditularkan kepada tentaranya. Tentara Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh. Dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh. Itulah barangkali kunci utama keberhasilan beliau dan tentaranya dalam menaklukkan kota yang dijanjikan nabi SAW. Rupanya kekuatan beliau bukan terletak pada kekuatan pisik, tapi dari sisi kedekatan kepada Allah

Dalam situs eramuslim, dipaparkan juga bahwa ”Satu hal yang jarang diingat orang adalah proses pembentukan pasukan yang sangat profesional. Pembibitan dilakukan sejak calon prajurit masih kecil. Ada team khusus yang disebarkan ke seluruh wilayah Turki dan sekitarnya seperti Balkan dan Eropa Timur untuk mencari anak-anak yang paling pandai IQ-nya, paling rajin ibadahnya dan paling kuat pisiknya. Lalu ditawarka kepada kedua orang tuanya sebuah kontrak jangka panjang untuk ikut dalam tarbiyah (pembinaan) sejak dini.

Bila kontrak ini ditandatangani dan anaknya memang berminat, maka seluruh kebutuhan hidupnya langsung ditanggung negara. Anak itu kemudian mulai mendapat bimbingan agama, ilmu pengetahuan dan militer sejak kecil. Mereka sejak awal sudah dipilih dan diseleksi serta dipersiapkan.

Maka tidak heran kalau tentara Muhammad Al-FAtih adalah tentara yang paling rajin shalat, bukan hanya 5 waktu, tetapi juga shalat-shalat sunnah. Sementara dari sisi kecerdasan, mereka memang sudah memilikinya sejak lahir, sehingga penambahan ilmu dan sains menjadi perkara mudah.

Pertanyaannya, apakah sistem itu ada dan telah diterapkan di Indonesia? Belum. Itulah tugas berat dunia pendidikan kita untuk menyiapkan SDM unggul dan berkarakter.