buku ini memang jadul karena terbit tahun 2008, dan saya pun pernah mempublikasikan resensinya, tapi bukan tulisan saya. tulisan ini adalah pandangan saya terhadap buku tersebut.

Bukavu: Wajah Perempuan dalam Bingkai Tragedi

untuk El, sekedar pengantar dongeng.

Sebenarnya saya bukanlah siapa – siapa di dunia sastra, apalagi mengontari bukunya Helvi Tiana Rosa. Tapi, karena buku itu menginspirasi saya. Maka, saya akan mengomenatri Bukavu menurut pandangan saya.

”Kivu kau yang terindah,” Bisik Heminggway.

Aku ingin menangis tapi danau tak dapat menangis.

Kata Kivu, sebuah danau di provinsi Bukavu, saat menyaksikan seorang muslimah meninggal dunia dalam tragedi perang antarsuku di benua Hitam, Afrika.

Seperti telah menjadi hukum alam. Tragedi adalah takdir yang harus dihadapi. setiap manusia, umat, bangsa, bahkan Negara dalam perjalanan sejarahnya pasti mengalami tragedi. Pemicunya bisa bermacam – macam, karena fanatisme kesukuan, cinta harta, gila jabatan dan kekuasaan, penjajahan atas manusia, atau bahkan karena cinta. Dan terkadang ia hadir lewat tangan alam bernama; bencana.

Ketika bencana yang menelurkan tragedi kemanusiaan menghantam, maka wanita, anak – anak, orang lanjut usialah yang menjadi korban utama. Mereka sering disebut sebagai kelompok terlemah dalam masyarakat bila dibandingkan dengan lelaki dewasa.

Dan wanitalah yang terkadang harus merasakan betapa pahit dan getirnya tragedi kemanusiaan. Menanggung dosa kezhliman manusia. Kehilangan anggota keluarga, anak, suami, saudara. Kehilangan anggota tubuh. Kehilangan derajat kemanusiaan. Dilecehkan, dinodai dan dilecehkan. Bahkan kehilangan nyawa.

Setidaknya gambaran itu hadir dalam kumpulan cerpen Bukavu. Kumpulan 18 cerpen karya Helvi Tiana Rosa dalam rentang waktu dari tahun 1992 sampai 2005, mengusung konsistensi tema tgragedi kemanusiaan dengan wanita sebagai tokoh dalam ceritanya.

Cerpen lorong kematian menggambarkan dengan jelas lakon tragedi kemanusiaan sebagai akibat nafsu ingin merampas dan berkuasa di negeri orang. Yang di mana korbannya adalah rakyat sipil tak berdosa, terutama wanita.

Tapi yang menarik dari kumpulan cerpen Bukavu ini adalah tokoh – tokoh yang diceritakan bukanlah wanita biasa. Bukan wanita yang hanya bisa meratap, mencaci, mengutuk, dan menangisi keadaan, bukan orang – orang yang hanya pasrah begitu saja menghadapi bencana, tanpa ada upaya untuk berbuat suatu hal yang dapat memperbaiki nasib dan keadaan. Tokoh – tokohnya adalah manusia – manusia luar biasa yang masih memiliki semangat hidup dan elan perjuangan yang membara menghadapi tragedi. Mereka kokoh berdiri di tengah keputusasaan dan kelemahan orang – orang yang ada di sampingnya. Luar biasa dan begitu menginspirasi.

Dalam waktu yang sama kontradiksi – kontradiksi tragik dapat menimbulkan perasaan sakit dan menderita. Namun di sisi lain, terutama dalam hal – hal kepahlawanan, kontradiksi tragik seorang pahlawan bukan hanya dapat membangkitkan kesedihan hati manusia namun juga perasaan – perasaan estetik yang dapat memurnikan kesadaran, menumbuhkan kebencian terhadap motif – motif keji, dan menguatkan kehendak serta keberanian. (Abu Ridho, 2008.)

Dalam cerpen Cut Vi, diceritakan bagaimana seorang mahasiswi asal Aceh yang hanya tinggal berdua bersama ibunya, menjadi relawan LSM dan tak pernah jemu memperjuangkan kata hati nuraninya di tengah konflik berkepanjangan antara TNI dengan GAM sebelum akhirnya tsunami datang menerpa. Di sini terlihat vitalitas tokoh yang diceritakan dalam mereaksi keadaan sekitarnya dan bertahan hidup.

Begitu juga PeriBiru. Cerpen yang mengisahkan perjuangan hidup gadis belia yang bercita – cita menjadi penulis terkenal. Ia hidup di tengah keluarga yang bermasalah, ibunya mengidap traumatis akibat diperkosa, kakaknya mengidap keterbelakangan mental, sedangkan ayahnya meninggalkan mereka setelah terpukul mengetahui istrinya diperkosa dan memilih untuk menetap di Malaysia. Ia terpaksa harus memendam sementara waktu keinginannya itu setelah kakeknya sakit dan tak sanggup lagi membiayai kehidupan keluarganya, keluar dari sekolah dan mencari pekerjaan. Di tengah kondisi serba terbatas seperti itu, semangat dan keinginannya untuk jadi penulis terkenal tetap menggebu, walaupun halangan selalu setia menghadang.

Bahkan Ze, seorang gadis belia dari Timor Lorosae dengan berani menyuarakan isi hatinya ditengah ketegangan pasca refrendum, walau pun harus berakhir tragis; mati ditembak.

Dan masih ada cerpen – cerpen lain yang menceritakan tokoh utama dengan vitalitas hidup luar biasa. Namun, dibalik orang tua pasti ada orang – orang lemah, yang dihadapkan pada masalah sedikit saja sudah layu. HTR menyadari itu dengan baik. Ia tidak hanya menulis cerpen dengan vitalitas tokohnya yang luar biasa, tapi juga mengimbanginya dengan tokoh – tokoh yang kepribadiannya lemah.

Titin misalnya, dalam cerpen Titin Gentayangan, digambarkan sebagai sosok yang kepribadiannya lemah dan vitalitas hidupnya sangat payah. Hanya karena ditinggal kawin oleh pacarnya, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Berbagai cara ia lakukan untuk mengakhiri hidupnya dan menghapus luka asmaranya itu, walaupun pada akhirnya selalu gagal.

Juga pada cerpen Idis yang mengambil setting zaman penjajahan Belanda, digambarkan bagaimana si tokoh utamanya adalah orang yang penakut dan tramatis akibat kedua orang tuanya dibantai di depan matanya. Ia memilih berkelana untuk bertahan hidup sampai akhirnya bertemu dengan seorang yang menolongnya, yang dikemudian hari ia ketahui adalah Idis, buronan nomor wahid penjajah Belanda sebelum Idis diekseskusi mati, dan membuatnya lebih berani.

Bukavu adalah potret wajah perempuan dalam bingkai tragedi. Baik tragedi Aceh, Ambon, Timor Lorosae, Bosnia, Palestina, sampai Rwanda, dan bahkan dalam lingkup keluarga. HTR memotret itu dengan jeli kemudian ia tuangkan kedalam tulisan. walaupun sebagian besar cerpennya ditulis dalam keadaan berjarak, dalam artian penulis tidak hadir dalam tempat kejadian, tapi itu tidak mengurangi kualitas dari cerita. Ia seperti mewakili suara mereka yang hidup di tengah tragedi. Mewartakannya untuk umat manusia tentang kisah lara sebuah kehidupan.

Gelap FIB UI, 141008

Ahmad Yunus, Penikmat Sastra.