Tag

, ,

Hari ini (23 Maret), saya berkesempatan mengunjungi ANRI, sebenarnya kunjungan kuliah plus praktek preservasi dan konservasi koleksi,  sesuai tujuan awal, mula-mulanya nonton video profil ANRi, habis itu jalan-jalan ke ‘dapur’ ANRI, di sini saya melihat dan praktek restorasi koleksi arsip yang sudah rusak.

sampailah saya dan kawan-kawan diajak masuk ke diorama Sejarah Perjalanan Bangsa (selanjutnya disingkat dspb). wah seru juga, bisa melihat melihat sejarah perjalanan bangsa Indonesia dengan suasana dan sarana yang menarik.

kawan, dulu kalau ngomongin sejarah bawaannya harus baca buku dan terkadang seperti dongeng, konsekuensinya saya harus membayangkannya, padahal saya hidup di zaman yang sangat berbeda dengan persitiwa sejarah yang dipelajari di sekolah (hayoo ngaku sama, kan?). nah, dspb ini bisa membantu kita dalam mempelajari sejarah dengan media yang berbeda dan pastinya seru.

Gagasan untuk membangun Diorama sejarah perjalanan bangsa sendiri adalah untuk mengangkat peranan arsip sebagai bagian penting dalam kehidupan kebangsaan, memupuk semangat kesatuan dan persatuan bangsa, dan memupuk rasa kecintaan terhadap tanah air, serta sebagai simpul pemersatu bangsa.

Saya akan membahas fasilitas dspb yang diresmikan oleh Presiden SBY ini dari reportase Koran kompas (1/9 2009) untuk wisata sejarah dan tulian dalam kurung adalah catatan tambahan dari saya:

Wisata sejarah

Selepas kepergian SBY, Kompas.com diperkenankan melihat diorama yang menggunakan ruangan gedung ANRI seluas 750 meter persegi itu. Ada delapan aula yang masing-masing bertutur tentang perjalanan sejarah Indonesia sejak zaman Sriwijaya hingga sekarang. Menyusuri lorong-lorong aula itu kita seperti terlempar ke masa lalu.

Di gerbang depan DSPB, para pengunjung disambut dengan senyum enam patung presiden Indonesia. Lalu kita masuk ke aula A, satu dari delapan aula yang ada. Di aula ini disediakan fasilitas buku digital berupa katalog DSPB.  Selanjutnya, di aula B yang berukuran kira-kira 5×5 meter tersedia informasi dua kerajaan yang pada masanya pernah menguasai nusantara yakni Sriwijaya dan Majapahit.

sumber gambar dari kompas

Di aula itu juga ada profil para pahlawan. Ada satu monitor berisi daftar pahlawan. Kalau kita pilih salah satu, maka profilnya akan tampil di layar proyektor dan lampu di bola dunia akan berkedip menandakan tempat sang pahlawan berasal.

Selanjutnya, di aula C pengunjung dibawa ke suasana pergerakan tokoh-tokoh pemuda yang diawali tahun 1908-1928. Yang menarik, peristiwa Sumpah Pemuda disajikan dengan teknik penempatan mengambang atau floating diorama.

sumber gambar dari kompas

Di sebelahnya ada aula D, tempat perpaduan arsip detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan seni dan teknologi. Di sini ada representasi Ibu Negara Fatmawati yang sedang duduk di depan mesin jahit dan tangannya memegang kain merah dan putih (kain merah putihnya asli loh. di salah satu sudutnya apa diorama pembacaan teks proklamasi, kalau kita tekan mic-nya akan keluar suara Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi. Di dinding kacanya juga ada surat Preiden Soekarno kepada Jendral Besar Soedirman, kalau baca surat itu, jadi tau mengapa Soekarno bisa punya banyak isteri.).

Di ruangan ini pula ada instalasi teks-teks kemerdekaan yang diukir di kaca. Di saat kekaguman belum habis kita sudah disajikan suasana heroik pergolakan Indonesia tahun 1945-1965 di aula E.

Sesuatu yang berbeda juga terdapat di aula F. Arsip-arsip di sini tampil elegan dalam lekukan ruangan yang disusun seperti di dalam gua. Tampaknya, perancang hendak membawa para pengunjung ke dalam refleksi peristiwa 30 September 1965.

Keluar dari “Lubang Buaya” kita masuk ke aula G yang menyerupai rumah siput. Di sinilah terdapat kumpulan peristiwa terpilih sepanjang rentang waktu 1998-2008 (ada juga surat pertanyaan mundur presiden Soeharto plus tulisan tangan dibalik teks pidatonya yang berisi permintaan maaf beliau selama memimpin negeri ini 32 tahun tanpa jeda dan juga rekaman pidatonya).

Terakhir, sampailah kita pada aula H. Di tempat ini para pengunjung rombongan, misalnya anak sekolah, bisa menonton film perjuangan secara gratis. Ada 42 kursi dengan desain menarik di ruangan itu (filmnya seru-seru dan mendidik, terasa banget suasana peristiwa sejarahnya. sayang enggak bisa digandakan).

Media Pembelajaran Baru Tentang Sejarah Indonesia yang Gratis.

DSPB ini dibuat dengan arsip sebagai sumber informasi utamanya (kalau saya menyebutnya kemas ulang informasi), jadi diorama ini bisa dimanfaatkan oleh dunia pendidikan dan masyarakat luas pada umumnya untuk mempelajari sejarah Indonesia. Tentu ada kejenuhan jika belajar melulu pada teks, kejenuhan itu akan teratasi dengan suasana yang berbeda saat mempelajari sejarah Indonesia lewat diorama.

Diorama sejarah perjalanan bangsa adalah pengungkapan proses dinamika bangsa dari masa ke masa yang ditampilkan melalui perpaduan arsip, seni, dan teknologi. Pengubahan bentuk arsip menjadi karya seni dengan sentuhan teknologi ini seyogianya untuk memperkenalkan arsip kepada masyarakat dengan cara yang mudah dipahami dan menarik (kompas, 31 /8 2009).

Silahkan kunjungi Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di ANRI yang beralamat di Jalan Ampera Raya No. 7, Cilandak, Jakarta Selatan yang dibuka untuk umum setiap harinya serta gratis. Untuk informasi lebih lanjutnya silahkan hubungi Tel. 021 7805851 Faks 021 7810280 – 7805812. e-mail: info@anri.go.id