Tag

,

Tanggal 22 Agustus 2010 kemarin, saya dipercaya oleh panitia Ramadhan IMLC 2010 sebagai pembicara bedah film. Rencana awalnya sih bareng mbak Asma Nadia (penulis cerpen EINH), tapi karena satud an laih hal, mbak Asma di ganti oleh Mbak Hilda.
Einh, film ini menceritakan tentang emak, seorang janda penjual kue keliling yang punya niat begitu suci: ingin naik haji. Emak hidup dengan anaknya bernama Zein, seorang duda penjual lukisan.
Kekuatan film ini ada pada ceritanya yang bagus dan logis. Didukung pula oleh penokohan dan acting yang kuat serta alami para pemainnya, serta aransemen musiknya yang memikat.
Film ini merupakan film terbaik yang pernah saya tonton. Begitu mengharukan dan bertabur hikmah nan dalam. Film ini dalam beberapa adegannya terkadang menampar kesadaran saya.
Wajah sosial kita
Film ini menyampaikan pesan moran dan kritik sosialnya dengan halus. Sebagai karya seni yang mencoba menangkap kegelisahn zaman, einh mencoba hadirkan beberapa wajah social masyarakat kita.
Ketika ibadah menjadi penanda status sosial. Ibadah haji merupakan hal lumrah dalam masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam. Yang terasa adalah ketika usia semakin bertambah maka semakin bertambah pula kerinduan untuk naik haji. Begitu juga dengan anak, setiap anak yang baik pasti mempunyai keinginan untuk memberangkatkan orang tuanya ke tanah suci.haji selain ibadah, ia juga punya fenomena social tersendiri. Haji menjadi symbol status social seseorang dalam masyarakatnya. Einh memotret haji saun yang pergi tiap tahun ke tanah suci sebagai orang terkaya di sekitarnya. Ada juga pak Joko yang ingin pergi haji agar dengan gelar hajinya dapat melenggang mulus dalam Pilkada yang akan diikutinya.
Jurang lebar kemiskinan. Satu lagi wajah bopeng strata social kita diperlihatkan dengan begitu gamlang. Mulai dari rumah haji saun yang megah bak istana berdiri angkuh di depan deretan rumah kumuh yang reot. Kondisi kehidupan tokohnya pun diperlihatkan nyaris sama kontrasnya, ada haji saun yang hidup mewah dan melimpah sampai-sampai ayam goring pun disuruh disajikan sebagai makanan kucing, sementara di depan rumah haji saun ada nelayan yang sakit sampai anak-anaknya memakai bangkai burung peliharaaan zein.
Pelajaran terpetik dari einh
Kebersihan niat. Jangan pernah remehkan niat, karena niat adalah landasan spiritual sekaligus moral yang mampu menggerakkan seseorang mampu mencapai cita-citanya. Yap, niat juga halus bersih jangan seperti Nita yang umrohnya karena ingin bareng artis.
Ketulusan berbagi. Einh menampar saya tentang hal ini. Bayangkan, emak yang lima tahun menabung untuk naik haji, rela uangnnya dipakai untuk berobat cucunya, ia juga tak marah ketika uangnya dipakai buat bayar utang mantan menantunya dan hanya bersisa 300ribu, tapi uang 300 ribu itu pun ia berikan dengan ikhlas kepada Aisyah, supaya bapaknya Aisyah bias berobat.
Kesabaran tak bertepi. Setelah usahany lima tahun menabung, tapi tabungannya tak bersisa serupiah pun ditambah lagi Zein yang kecelakaan semakin membuat harpaan emak untuk naik haji menipis dan nyaris mustahil berhasil, emak tatap sabar menanggapi cobaan hidupnya, “kalau pun Allah keburu mencabut nyawa emak, dan emak tidak pergi ke tanah suci, emak ikhlas kok.”
Kebarbaktian anak. Dalam film ini tak ada satu pun adegan yang menggambarkan Zein memrahi orang tuanya. Yang ada adalah Zein begitu hormat pada orang tuanya dan selalu meminta didoakan oleh emak.
Catatan Kritis
Yap, walaupun film ini bagus bukan berarti tak ada kritik. Kekurangan film ini terletak pada pemilihan judul. Kata “emak” bisa membuat anak muda balik belakang alias ngacir terlebih dulu sebelum liat filmnya. Kata “emak” juga seolah-olah film ini ditujukkan kepada orang dewasa dan “berumur”. Padahal, einh dari segi isi adalah film keluarga yang bias diterima oleh semua kalangan usia. Bahkan, einh adalah film keluarga berbobot yang langka di industry perfilman kita.