Tag

,

Meningkatkan Peran Pemustaka Dalam Pelestarian Bahan Pustaka

Ahmad Yunus

Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi, bertugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan bahan pustaka untuk dapat dimanfaatkan oleh pemustaka secara efektif dan efisien. Agar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan dapat diguinakan dalam jangka waktu yang relativ lama, perlu suatu penanganan agar bahan pustaka terhindar dari kerusakan, atau setidaknya diperlambat proses kerusakannya, dan mempertahankan kandungan informasi itu yang sering kita sebut sebagai preservasi bahan pustaka.

Tugas pemeliharaan, perawatan, dan pelestarian bahan pustaka bukanlah tugas yang mudah. Sejak zaman dahulu perpustakaan telah berusaha untuk mencegah dan mengatasi kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh faktor alam, serangga, dan manusia.

Pemustaka manusia sebagai pemustaka juga turut andil sebagai faktor perusak bahan pustaka, maka perlu sebuah perhatian khusus bagi pengelola perpustakaan agar pemustaka tidak lagi menjadi perusak bahan pustaka dan harus diberdayakan sebagai pihak yang ikut serta dalam pemeliharaan bahan pustaka.

Klasifikasi Pemustaka

Pemustaka adalah orang atau badan yang menggunakan perpustakaan. Hermawan dan Zen (2006) membagi pemustaka Perpustakaan menjadi lima kelompok, yaitu:

  • Anggota. Pemustaka adalah mereka yang telah menjadi anggota perpustakaan.
  • Pembaca. Orang yang membaca berbagai jenis bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan.
  • Pelanggan. Dalam hal ini, perpustakaan menganggap pemustaka sebagai pelanggan yang ahrus dilayani.
  • Klien. Dalam hal ini, hubungan perpustakaan dengan pemustaka sudah seperti hubungan pengacara (ahli hukum) dengan orang yang dibelanya. Posisi pustakawan sudah sebagai penasehat.
  • Patron. Pada dasarnya patron ini lebih kepada orang-orang yang peduli dan ikut menyeponsori perpustakaan.

Penulis memanbahkan satu lagi kelompo pemustaka yaitu perusak, karena ada juga pemustaka yang menjadi perusak (destroyers) bahan pustaka.

Jenis-Jenis Kerusakan Bahan Pustaka oleh Pemustaka

Biasanya bahan pustaka perpustakaan dilayankan dengan sistem terbuka kepada pemustaka. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada pemustaka untuk memilih bahan pustaka yang diinginkan dan sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat baca. Pemustakapun akan memiliki alternatif lain seandainya bahan pustaka yang dikehendaki tidak ada, maka ia dapat memilih bahan pustaka yang lain yang sesuai. Namun hal yang sangat disayangkan dari dilaksanakannya sistem layanan terbuka ini adalah timbulnya tindakan penyalahgunaan bahan pustaka perpustakaan oleh pemustaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulistyo-Basuki (1992:41) yang menyatakan bahwa : “Kerusakan fisik seperti dokumen kotor, goresan pada foto dan rekaman, halaman koyak, dan coretan pada dokumen sering terjadi bila unit informasi terbuka untuk umum.” Kerusakan fisik seperti itu adalah salah satu bentuk akibat dari tindakan penyalahgunaan bahan pustaka perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeatminah (1992:) yaitu: “Manusia yang tidak bertanggungjawab merupakan perusak yang paling hebat, karena tidak hanya menyebabkan kerusakan tetapi juga hilangnya bahan pustaka.” Pemustaka perpustakaan dapat bertindak sebagai lawan atau juga kawan dalam usaha pelestarian bahan pustaka. Sulistyo-Basuki menegaskan bahwa: “Manusia dalam hal ini pemakai perpustakaan dapat merupakan lawan atau juga kawan. Pemakai perpustakaan menjadi kawan bilamana dia membantu pengamanan buku dengan cara menggunakan bahan pustaka secara cermat dan hati-hati. Pengunjung akan menjadi musuh bilamana dia memperlakukan buku dengan kasar, sehingga sobek atau rusak.”(Sulistyo-Basuki, 1991:272).

Pengertian tindakan penyalahgunaan bahan pustaka adalah bentuk tindakan perusakan dan pemanfaatan yang salah dari bahan pustaka perpustakaan. Obiagwu (1992) menggolongkan tindakan pengerusakan bahan pustaka menjadi empat macam yaitu :

  • Theft (pencurian). Adalah tindakan mengambil bahan pustaka tanpa melalui prosedur yang berlaku di perpustakaan dengan atau tanpa bantuan orang lain. Pencurian bermacam-macam jenisnya, dari pencurian kecil-kecilan sampai yang besar. Bentuk pencurian yang sering terjadi adalah menggunakan kartu perpustakaan curian.
  • Mutilation (perobekan). Adalah tindakan perobekan, pemotongan, penghilangan, dari artikel, ilustrasi dari jurnal, majalah, buku, ensiklopedia dan lain-lain tanpa atau dengan menggunakan alat.
  • Unauthorized borrowing (peminjaman tidak sah). Adalah kegiatan pemustaka yang melanggar ketentuan peminjaman. Tindakan ini meliputi pelanggaran batas waktu pinjam, pelanggaran jumlah bahan pustaka yang dipinjam, membawa pulang bahan pustaka dari perpustakaan tanpa melaporkannya ke petugas/pustakawan, meskipun dengan maksud untuk mengembalikannya dan membawa pulang bahan-bahan yang belum diproses dari bagian pelayanan teknis. Bentuk lain dari peminjaman tidak sah adalah peredaran buku yang tersembunyi di dalam perpustakaan untuk kepentingan tertentu atau pribadi.
  • Vandalism (vandalisme). Adalah tindakan perusakan bahan pustaka dengan menulisi, mencorat-coret, memberi tanda khusus, membasahi, membakar dan lain-lain (Obiagwu, 1992:292). Mengenalkan virus secara sengaja pada program komputer atau menekan disket database juga termasuk perbuatan vandalis.

Tindakan Pencegahan terhadap Tindakan Penyalahgunaan bahan pustaka di Perpustakaan

Upaya pencegahan terhadap tindakan penyalahgunaan bahan pustaka dapat dilakukan untuk meminimalkan jumlah  bahan pustaka yang dirusak. Hal ini bisa dilakukan dengan cara antara lain: a. Mengatur tata ruang layanan bahan pustaka perpustakaan sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan pemustaka melakukan tindakan penyalahgunaan bahan pustaka dengan leluasa. b. Menciptakan keadaan perpustakaan yang kondusif baik itu untuk membaca ataupun untuk belajar sehingga menciptakan kenyamanan bagi pengunjung perpustakaan. c. Menyediakan fasilitas mesin fotokopi yang memadai, dengan harga yang terjangkau dan hasil yang memuaskan. d. Menambah jumlah eksemplar bahan pustaka yang banyak dibutuhkan oleh pemustaka. e. Menempatkan pengawas (pustakawan) secukupnya di ruang layanan bahan pustaka yang memungkinkan untuk dengan leluasa mengawasi seluruh ruangan dan untuk berpatroli berkeliling ke seluruh ruangan baca bahan pustaka untuk memonitor hal-hal yang tidak diinginkan. f. Memeriksa setiap bahan pustaka yang telah selesai dipinjam oleh pemustaka. g. Membekali staf perpustakaan dengan pengetahuan yang cukup mengenai preservasi bahan pustaka. h. Pemasangan sistem keamanan elektronik misalnya pemustakaan kamera pengintai untuk memantau kegiatan pemustaka di dalam perpustakaan.

Upaya Peningkatan Pemahaman Pemustaka dalam Pemeliharaan Bahan Pustaka.

Pengguan perpustakaan juga dapat didorong agar menjadi pemustaka yang baik dengan tidak merusak bahan pustaka. Ada beberapa cara yang penulisd kemukakan sebagai sebuah solusi, yaitu:

  • Pendidikan pemustaka. Lewat pendidikan pemustaka ini pustakawan dapat menyisispkan informasi tentang preservasi bahan pustaka. Dengan demikian perpustakaan diharapkan mempu berfungsi dalm mendidik pemustaka menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggung jawab.
  • Talkshow dan seminar. Lewat acara ini perpustakaan dapat memberikan pengetahuan kepada pemustaka tentang kegiatan preservasi di perpustakaan dan pentingnya melestarikan bahan pustaka agar informasi yang terkandung didalamnya dapat dimanfaatkan oleh pemustaka lain di generasi msekarang dan mendatang.
  • Pemustakaan media. Perpustakaan dapat memasang poster-poster yang berisi larangan melakukan tindakan penyalahgunaan bahan pustaka. Pemasangan denah dan petunjuk (rambu-rambu) perpustakaan yang memudahkan pemustaka dalam mencari informasi.
  • Memberlakukan sanksi yang tegas bagi pelaku tindakan penyalahgunaan bahan pustaka dan meminta kepada pemustaka jika melihat seseorang melakukan tindakan penyalahgunaan bahan pustaka di perpustakaan untuk segera melaporkan hal itu kepada pustakawan yang terdekat.

Penutup

Pemustaka perpustakaan meruapak salah satu komponen berdirinya perpustakaan. Keberadaan pemustaka perpustakaan ini memiliki dua sisi yang berbeda, ada yang bertanggung jawab dan ada juga yang tidak bertanggung jawab dengan merusak bahkan mencuri bahan pustaka yang ada di perpustakaan.

Pemustaka perpustakaan bisa diarahkan untuk menjadi pemustaka yang baik dan bertanggung jawab dengan berbagai cara. Mulai dari pendidikan pemustaka, pemanfaatan media seperti psoter dan leafleat, seminar dan talkshow, hingga sanksi yang ketat untuk perusak bahan pustaka. Semua itu dilakukan agar kerusakan bahan pustaka yang diakibatkan oleh pemustaka terminimalisir.

Daftar Pustaka

Ansor, Sokhibul. 2007. Perawatan Bahan Pustaka Perpustakaan Sekolah. Jurnal Perpustakaan Sekolah, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007

Hermawan, Rachman dan Zulfikar Zen. 2006. Etika Kepustakawanan . Jakarta: Sagung Seto

Pambudi Bayu S. 2010. Pentingnya Pemahaman Preservasi bagi Pustakawan. http://sebuahcatatanku.blogspot.com/2010/03/pentingnya-pemahaman-preservasi-bagi.html (Akses 1 Juni 2010)

Penyalahgunaan Koleksi Perpustakaan di Perguruan Tinggi. http://pustaka.uns.ac.id/include/inc_print.php?nid=17 (Akses 1 Juni 2010)

Rahayuningsih, F (ed). 2007. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.