Tag

,

Humaniora Islamic Festival merupakan sebua acara terbesar dan terdahsyat di bulan Desember. Dengan tema: “Menyelami Budaya, Mendzikirkan Cakrawala” Sebuah festival yang akan menampilkan keindahan Islam dari sudut pandang budaya dan seni. Sebuah festifal yang diinisiasi oleh oleh Lembaga Dakwah Fakultas Forum Amal dan Studi Islam
(FORMASI) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). . Akan berlangsung pada tanggal 27-29 Desember 2010 bertempat di kampus UI  Depok.
Membuka cakrawala pesona kesucian Islam dengan membahas dan menampilkan Sastra, Film, dan Musik dari sudut pandang Islam. Melalui budaya kita dapat  menggemakan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan, melalui seni tersampaikan nilai islam dengan cara yang unik dan menarik. Adapun acara yang akan diselenggarakan adalah:

Seminar Sastra Islami

Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung simbol-simbol agama. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Lalu, sebenarnya bagaimana religi dalam pandangan sastra? Hal inilah yang menjadi inspirasi kami untuk mengadakan talk show dengan tema “Sastra dalam Religi” yang khususnya membahas religi Islami. Seminar ini akan dibagi dalam dua bagian yaitu, seminar tentang karya sastra puisi dan seminar tentang karya sastra prosa, dan didiskusikan oleh dosen dan para pakar dalam dunia sastra yaitu:

  1. penulis novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta, Habiburahman El Shirazi, yang berbicara tentang “Sastra Religi sebagai Pencerahan”
  2. penulis, cerpenis, dan redaktur sastra Republika, Ahmadun Yossi Erfanda, yang berbicara tentang “Menikmati Keindahan Sastra Religi”
  3. penulis, cerpenis, dan pendiri Forum Lingkar Pena, Helvy Tiana Rossa, yang berbicara tentang “Eksistensi Sastra Religi dalam Dunia Sastra”
  4. penyair, Taufik Ismail, yang berbicara tentang “Pengaruh Spiritualitas dalam Menulis Puisi”
  5. penyair dan guru besar FIB UI, Sapardi Djoko Damono, yang berbicara tentang “Religi dalam Puisi Kontemporer”
  6. dosen program studi Indonesia FIB UI, Sunu Wasono, yang berbicara tentang “Membangkitkan Nilai Spiritualitas dalam Puisi”

Seminar Film Islami

Di saat dunia perfilman nasional sedang ramai mengangkat genre horor dan komedi seksualitas, ada beberapa film yang berani tampil beda dengan mengangangkat genre Islami. Dengan keberanian tersebut, film-film itu berhasil memikat banyak perhatian masyarakat Indonesia. Film yang diangkat dari novel—yang juga menjadi best seller—karya Habiburrrahman El Shirazy ini berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Sesuai dengan novelnya, film ini dibuat menjadi dua sequel. Sequel kedua yang telah lama dinanti oleh para penggemarnya akhirnya telah berhasil dirilis. Sebelum KCB muncul di layar perfilman Indonesia, hadir terlebih dahulu film Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang juga diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy. Sama seperti KCB, AAC juga sukses menyedot perhatian penonton Indonesia dan menjadi film yang laris pada waktu itu.

Pada seminar film ini akan datang sebagai pembicara, yaitu:

  1. sutradara dan pemain film senior, Deddy Mizwar berbicara mengenai “Film Religi sebagai Film Pencerahan”
  2. aktor pemeran Azzam dalam film KCB, M. Cholidi berbicara mengenai “Pengaruh Figur Artis dalam Penyampaian Nilai Religiusitas”
  3. dosen program studi Jerman dan Manajer Riset dan Penelitian FIB UI, Lily Tjahjandari berbicara mengenai “Pengaruh Film Religi dalam Masyarakat”

Seminar Musik Islami

Saat ini dunia musik sedang berkembang dengan sangat pesat dan melahirkan genre-genre musik yang baru seiring berjalannya waktu. Salah satu genre musik yang juga berkembang adalah nasyid yang merupakan musik Islami. Oleh karena itu, seminar ini akan mencoba mengupas seperti apakah musik islami itu. Apakah ia hanya terbatas pada nasyid saja ataukah ada elemen-elemen tertentu yang membuat suatu genre musik disebut sebagai musik yang Islami. Adapun pembicara dalam seminar ini antara lain:

  1. Sony BMG “Musik Islami dalam Dunia Industri Musik”
  2. dosen program studi Sejarah, Abdurahman “Perkembangan Budaya Musik Islam”
  3. penyanyi religi, Opick “Pop Religi: Kenapa Tidak?”

LOMBA

Ada lima cabang seni yang akan diperlombakan, yaitu:

  1. Lomba Menulis Puisi
  2. Lomba Menulis Cerpen
  3. Lomba Marawis
  4. Lomba Nasyid
  5. Lomba Membuat Film Dokumenter

Pertunjukkan Teater

Pertunjukkan teater dilaksanakan pada HI FEST hari kedua, yang dibawakan oleh Teater Sastra FIB UI. Tema dalam pertunjukkan ini adalah “Kehidupan Religi dalam Berbudaya”. Cerita dan jalan cerita akan diserahkan kepada Teater Sastra untuk meramunya berkoordinasi dengan panitia HI FEST.

Pertunjukkan Seni

Acara ini dilaksanakan pada HI FEST di setiap harinya. Pada hari pertama ditampilkan musikalisasi puisi oleh kelompok Sasina, kelompok musikalisasi puisi dari program studi Indonesia. Selain itu, juga pembacaan puisi pemenang lomba oleh penulisnya dan ada pembacaa puisi oleh Taufik Ismail.

Pada hari kedua ada pemutaran film pemenang lomba film documenter dan pertunjukkan teater oleh teater Sastra FIB UI. Terakhir, pada hari ketiga ditampilkan Opick, Trassic, Gradasi, Izzis, Tim Nasyid Salman Salam UI, pemenang lomba nasyid, dan pemenang lomba marawis.

Nonton Bareng

Acara nobar ini dilaksanakan pada HI FEST hari ketiga. Acara nobar ini gratis untuk civitas akademika FIB, khususnya dan UI, umumnya, serta masyarakat umum. Film yang akan ditonton adalah The Kite Runner. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul The Kite Runner karya perdana dari Khaled Hosseini. Novel ini terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia, sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, dan sudah lebih dari 2 tahun bertengger di daftar New York Times Bestseller.

Film produksi Paramount Picture dan berlatar belakang Afganistan ini menceritakan seorang Amir yang telah mengkhianati sahabatnya, Hassan, ketika mereka masih kecil. Amir pergi meninggalkan Hassan. Setelah pengkhianatan itu rasa bersalah selalu menghantui Amir. Menyinggirkan Hassan dari pikiran dan hidupnya adalah satu-satunya jalan. Namun, Hassan telah tiada. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dari masa kecilnya. Seperti layang-layang putus, sebagian dari dirinya terbang bersama angin. Akan tetapi, masa lalu yang terkubur dalam-dalam selalu senantiasa menyeruak kembali membawa luka lama.

Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat di http://hifest2010.dagdigdug.com/

Atau menghubungi panitia lewat surel hifestformasifibui@yahoo.com