Tag




John C. Maxwell berujar, ”Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda
ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli.”

 

Peta piramida penduduk Indonesia membuat beberapa negara lain cemburu. Tahun 2000, kelompok usia terbesar penduduk Indonesia terdiri kaum muda yang berusia di bawah 30 tahun. Diperkirakan, tahun 2025, kelompok usia terbesar penduduk Indonesia akan berisi kalangan produktif, berusia antara 30 sampai 50 tahun.

Sementara di negara-negara maju, kelompok usia terbesar penduduknya terdiri kalangan usia lanjut, di atas 60 tahun, akibat terjadi peningkatan usia harapan hidup. Tingginya kelompok lanjut usia itu seringkali menjadi beban bagi negara. “Ini yang membuat negara lain cemburu pada Indonesia,” kata Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, saat berbicara tentang kebijakan mengembangkan kepemimpinan melalui pendidikan, dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jum’at malam, 7 Mei 2010.

Kabar di atas memang tersirat akan harapan yang lebih baik, akan tetapi kita harus menyadari kenyataan hari ini. Indonesia dengan bentangan alamnya yang sangat luas dan keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah, ternyata tidak menjamin rakyatnya makmur. Kesejahteraan lebih banyak tampak di pusat kota, sedang desa selalu tampak sendu dengan kemiskinan dan pengangguran.

Ada gambaran jelas mengenai fenomena ini tiap tahunnya. Memasuki akhir arus balik, Jakarta dan kota-kota besar lainnya kembali kebanjiran pendatang. Jakarta yang sudah hamil besar semakin bertambah masalah. hal ini terkait erat dengan sikap masyarakat Indonesia. Masyarakat kita, seperti yang disinyalir oleh Robert MZ Lawang dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar sosilogi, sebagai masyarakat AntiDesa.

Kenapa demikian? pada tahun 2004 staf Sosiologi Pedesaan melakukan penelitian, hasilnya ditemukan bahwa tidak semua desa-desa di Indonesia memiliki tingkat perkembangan yang sama. semakin jauh sebuah desa dari ibu kota kabupaten atau kecamatan, semakin tinggi tingkat kesulitannya. kurangnya perhatian pemerintah dan sektor swasta pada pembangunan sarana prasarana jalan, pendidikan, kesehatan, perbankan di daerah pedesaan, membuat desa menjadi tempat penuh masalah dan tidak teratasi.

Menjadi wajar kalau orang tua mengirim atau membiarkan anak-anak usia produktif meninggalkan desanya menuju kota yang penuh “gula-gula” pembangunan. Memang sudah menjadi pandangan sebagian besar masyarakat bahwa desa bukanlah masa depan.

Akibatnya jelas: kota-kota besar kebanjiran pendatang. Jakarta yang hamil tua semakin kepayahan dengan hadirnya pendatang baru yang juga menyisakan masalah sosial dan budaya. Bagi desa lebih tragis lagi, desa kehilangan penduduk potensial yang seharusnya membangun desa. Ucapan retoris tentang pembangunan dareah yang merata pun menjadi basi. Bagaimana desa bisa membangun kehidupannya jika orang-orang potensialnya tidak ada lagi di desa dan berebut rizki di kota?

Padahal, Robert MZ Lawang dalam simposium tanah untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat di UI pada bulan Mei lalu, mengharapkan agar orang yang masih hidup di pedesaan untuk bisa berkembang sesuai struktur sosialnya, hingga menjadi struktur alternatif.

Sikap Pemuda terhadap Desa.

Sebagian besar pemuda kita bisa dibagi menjadi dua tipe: pertama. Pemuda dengan kecukupan materi yang keluar dari desa menuju tempat kuliah yang diimpikan sampai selesai dan bertahan demi mengejar mimpi di kota. Kedua. pemuda yang kurang mampu dari segi ekonomi yang keluar dari desa menuju kota untuk berebut rizki, bahkan banyak yang keluar negeri menjadi buruh rendah demi menghidupi keluarga.

Kedua tipe di atas menunjukkan sikap AntiDesa, sedangkan pemuda yang bersikap tetap memilih tinggal atau kembali ke desa setelah mengenyam pendidikan di kota jumlahnya sangat sedikit.

Menurut saya, pemuda boleh saja menuntut ilmu di kota, bahkan kalau perlu sampai jenjang yang setinggi-tingginya. Akan tetapi, bagi pemuda yang berasal dari desa, alangkah baiknya jika setelah selesai menuntut ilmu di kota, ia kembali ke desa tempat ia berasal..

Rekonstruksi Paradigma

Paradigma mengandung arti sesuatu yang dipikirkan, dipercayai, dan dilaksanakan oleh seseorang. Paradigma ada yang bermakna positif dan ada juga yang negatif. Yang bermakna negatif salah satunya Paradigma lama yang menggelayuti kita tentang kehidupan desa dan kota, kota selalu lebih baik dari desa. Paradigma seperti ini harus diubah secara radikal. Kota seharusnya tak lagi dijadikan tujuan hidup, walupun kota secara kasat mata menjajikan kehidupan yang lebih baik dari desa. Kota tetap menyimpan bara persaingan yang sengit antar penduduknya.

Berkumpulnya orang-orang potensial dalam satu wilayah bernama kota tidak baik bagi wilayah lain bernama desa. Karena desa bisa kehilangan orang yang seharusnya mengelola Sumber Daya Alamnya. Akan terjadi krisis kepemimpinan di daerah, apalagi bentangan wilayah kita sangat luas dan memerlukan pengelolaan yang baik. Desa harus mulai dijadikan tujuan hidup pemuda kita dengan paradigma baru bahwa desa dengan segala potensinya tetap menjanjikan untuk masa depan.

Memang bukan hal mudah, tapi dibutuhkan jiwa besar dan keikhlasan untuk tetap memilih desa sebagai masa depan. Membangun desa juga membutuhkan kreativitas dan usaha ekstra keras serta dukungan pemerintah dari segala level.

Resolusi Baru

Setelah paradigma berubah dan desa menjadi tujuan pemuda, maka tahap selanjutnya adalah aksi nyata. Yang bisa membangun desa dengan radikal adalah pemuda. Ya pemuda!

Fathi Yakan berpendapat bahwa Pada hakikatnya usia muda seorang pemuda ialah usia yang penuh dengan cita-cita yang tinggi  dan darah yang gemuruh serta idealisme yang luas. Iaitu usia yang memberi pengorbanan dan  menebus semula. Usia yang menabur jasa, memberi kesan dan emosional.

Nursalam AR dalam tulisannya yang berjudul “Siapakah Pemuda?” menggambarkan hal-hal yang merupakan ciri pemuda: perubahan, semangat dan
kemandirian. Perubahan sarat dengan muatan visi, gagasan, kepedulian
dan harapan.

Pemuda memiliki darah muda yang radikal dan berkeinginan utuk mendobrak kebakuan, inilah ciri pertama dari pemuda: perubahan. Sementara semangat mewakili aksioma optimisme dan proaktif. Menurut Stephen R Covey, ”Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi rintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif menunjukkan  ingkat kecerdasan emosional yang tinggi.” Sikap ketiga adalah kemandirian, sikap yang tidak ingin lagi menggantungkan kebutuhan hidupnya pada orang lain, sikap ini yang akan mendorong pemuda untuk terus bergerak dan berbuat.

Lantas perubahan apa yang bisa dilakukan pemdua dalam membangun desa?

Perubahan. Sebuah kata ajaib yang diharapkan banyak orang, terutama dalam kondisi sulit dan penuh ketidakpastian. Perubahan, akan menjadi daya kekuatan yang kita cari dan perjuangkan.

Tak perlu menunggu waktu terlalu lama apalagi sampai harus menunggu memiliki kekuasaan terlebih dahulu untuk melakukan perubahan dan pembangunan di desa. Pemuda bisa memulai perubahan dan pembangunan desa dari hal yang kecil dan sederhana sekalipun selama itu memiliki nilai kebaikan dan perubahan yang lebih baik.

Sekedar contoh, teman saya di UI, Tri Mukhlison Anugrah dan kawan-kawannya tergerak untuk melakukan aksi nyata ketika melihat kehidupan desa yang berbanding terbalik dengan kota. Ia dan kawan-kawannya menelurkan ide dalam sebuah gagasan tertulis yang membahas tentang incubator kewirausahaan sosial sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakat, terutama pada daerah tertinggal. Gagasan tertulis itu diganjar sebagai Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis terfavorit dalam Pimnas tahun 2010 yang berlangsung di Bali.

Desa menawarkan tantangan yang menarik untuk pengabdian. Pemuda yang memiliki paradigma membangun desa harus memiliki resolusi baru: apa yang bisa saya lakukan dan karya apa yang bisa saya berikan untuk membangun desa? Pemuda bisa bergabung membangun desa dengan menjadi pamong pemerintah atau menjadi pihak swasta.

Kesimpulan

Bentangan alam kita yang luas dan kaya menyimpan permasalahan pelik, yaitu krisis kepemimpinan di tingkat lokal. Pemuda yang seharusnya memimpin di daerah lebih terpikat magnet pembangunan kota. Hal ini berkaitan dengan paradigma bahwa hidup di kota lebih baik dari pada hidup di desa.

Perubahan paradigma diperlukan untuk pembangunan desa yang lebih baik. Desa tetap menyimpan potensi yang dapat menjadikan kehidupan lebih baik bagi penduduknya selama dikelola dengan baik dan benar oleh orang-orang yang bervisi dan potensial. Untuk itulah pemuda sebaiknya menjadikan desa sebagai masa depan dan mulai bekarya dan bekerja di sana. Karena desa takkan pernah maju jika kaum muda potensialnya malah lari ke kota!