Tag

, ,

Bencana gempabumi dan tsunami yang menerjang Jepang memberikan hikmah yang bias kita petik, yaitu pentingnya pelatihan bencana untuk masyarakat. Karena kita tidak bisa menghalangi datangnya bencana, namun kita bisa meminimalisir dampak kerusakan dan jumlah korbanya. Salah satunya adalah dengan pelatihan bencana bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana.

Setali tiga uang dengan Jepang yang terletak di daerah rawan bencana,  Negara kita pun juga terletak di daerah yang rawan bencana pula, bahkan ancamannya lebih vareatif seperti gempabumi, tsunami, rob, banjir, longsor, kekeringan dan sebagainya.

Namun, dari layar kaca yang memberitakan berita terkait ancaman tsunami kiriman dari Jepang, kita dengan jelas bisa menangkap wajah panik dan kebingungan dari masyarakat  kita, mereka tak tahu harus berbuat apa. Dan ternyata kejadian seupa hamper terjadi di semua kejadian bencana yang terjadi di negeri kita.

Fenomena kepanikan dan kebingungan yang terpancar dari masyarakat kita menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak terlatih untuk menghadapi situasi bencana dan belum mau belajar dari kejadian bencana yang sudah ada, padahal kita hidup di daerah rawan bencana. Sungguh ironis, mengingat jumlah masyarakat kita yang jumlahnya sangat banyak dan rentan menjadi korban bencana.

Maka perlu adanya upaya untuk melatih masyarakat kita dalam menghadapi situasi bencana. Dalam mitigasi bencana tahap ini adalah tahap prabencana, dan sering disebut juga simulasi bencana. Tujuannya jelas, agar masyarakat siap ketika dalam kondisi darurat menghadapi bencana, tidak lagi panik dan tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan dirinya.

Sebuah tugas berat bagi semua pihak yang berkempentingan, mulai dari pemerintah hingga swasta. Namun, perlu dicatat bahwa program pelatihan bencana ini tidak hanya sekali dijalankan lantas berpuas diri, tetapi harus program yang terus menerus dilakukan agar masyarakat kita benar-benar terlatih untuk menghadapi situasi bencana.