Tag

, , ,

Dongeng Menara Pengawas Tsunami

Ahmad Yunus

Pada masa libur sekolah. Seorang anak kelas lima bernama Andi berlibur ke rumah kakeknya yang tinggal di sebuah desa dekat pesisir pantai.

Rencananya dua minggu Andi di sana untuk berlibur dan belajar hal-hal baru yang tidak ditemuinya di kota.

Sesampainya di rumah kakek, Andi sangat bahagia karena sudah lama tidak ketemu dengan kakeknya. Terakhir ketemu pas lebaran tahun lalu. Tapi karena kecapekan, setelah bertemu kakek dan meletakkan barang-barangnya, Andi langsung istirahat.

Keesokan harinya, Andi langsung bermain bersama Arif, temannya selama di desa kakek. Mereka bermain air dan berenang di pantai.

Sampai mata Andi tidak sengaja melihat sebuah menara berdiri di sebuah bukit agak jauh dari pantai. Andi bingung melihatnya, karena ketika ia berlibur tahun lalu menara itu belum ada.

“Rif, itu menara apaan yah?” Tanya Andi sambil jemari telunjukknya mengarah ke menara.

Arif menengok ke arah Andi, “oh, itu. Itu menara pengawas Tsunami. Baru dibangun tiga bulan yang lalu”

“Tsunami? Apaan tuh?” Tanya Andi penasaran

Arif garuk-garuk kepala bingung mau jawab apa.

“loh kok, garuk-garuk kepala?”

“hmm, pokoknya kalau ada tsunami kita lari ke bukit. Yang sering cerita itu kakekmu, Andi”

“Kakek? Yuk kita tanya kakek! Aku penasaran nih.” Ajak Andi.

Mereka berdua pun pergi ke rumah kakek. Ternyata kakeknya Andi sedang duduk membaca Koran di teras rumah.

“kek, tadi Andi lihat ada menara di bukit. Kata Arif itu menara pengawas tsunami. Tsunami itu apa sih, kek?” tanya Andi pada kekaknya.

Kakeknya Andi langsung meletakkan Koran. Ia menatap Andi penuh kasih sayang. “cucu mau tahu tentang tsunami?”

Andi mengangguk.

“baiklah kakek akan cerita”

“hore!” teriak Andi senang.

Kakek kemudian mulai bercerita,

“Dengarlah suatu kisah. Pada zaman dahulu kala. Ada suatu desa yang tenggelam. Begitulah dituturkan oleh nenek moyang kita. Awalanya desa itu diguncang gempa kemudia disusul air laut yang surut. Tiba-tiba tenggelamlah seluruh desa itu..

Nak, jika gempanya kuat. Disusul air laut yang surut. Segera carilah tempat  di dataran tinggi agar selamat. Itulah tsunami namanya. Sejarah nenek moyang kita. Ingatlah ini semua!.”

Andi ternyata masih bingung. Ia kemudian bertanya, “kek, kalau air pantai surut kan pasti banyak ikannya tuh, kenapa harus lari ke bukit? Trus kenapa juga desanya bisa tenggelam, kan airnya surut?”

Kakek tersenyum mendengar pertanyaan Andi.

“Itu karena pertanda akan datang gelombang besar yang tingginya setinggi pohon kepala. Kalau tidak pergi ke bukit kita akan terseret oleh gelombang itu, itulah tsunami.”

“oh begitu. Serem juga yah tsunami itu” kata Andi lagi.

“Betul itu!” kata Arif yang dari tadi cuma mendengarkan.

Arif kemudian meminta izin pada kakek untuk mengajak Andi ke menara pengawas. Dan dengan senang hati kakek mengizinkannya.

Akhirnya Andi dan Arif pergi ke menara pengawas di kampung utara dengan naik sepeda. Ternyata petugas di sana adalah pamannya Arif yang bernama mang Udin. Andi dan Arif disambut dengan ceria oleh mang Udin.

“mang ini teman Arif, namanya Andi” Arif memperkenalkan Andi pada mang Udin.

Mang Udin kemudian mengajak Arif dan Andi naik ke atas menara pengawas yang tingginya melibihi tinggi pohon kelapa. Awalnya Andi yang tidak biasa naik tangga setinggi itu kecapekan. Tapi pas tiba di atas menara. Andi bisa melihat pemandangan kampung kakeknya dan pantai yang sangat indah dari atas menara yang menjulang berdiri di bukit itu.

Ternyata di menara itu ada teropong besar sekali mengahadap ke laut terus ada juga tombol yang bertuliskan alarm.

Andi yang baru melihat dua benda aneh itu langsung bertanya. “Mang, buat apa teropong sebesar itu?”

Mang Udin tersenyum mendengar pertanyaan dari Andi. Ia pun menjelaskan bahwa

“teropong itu untuk sengaja diarahkan ke laut untuk melihat air laut kalau surut. Dan kalau setelah gempa tiba-tiba air laut surut, maka mang Udin akan menekan tombol alarm. Nah, alarm ini akan berbunyi sangat keras yang bunyinya bisa kedengaran hingga kecamatan. Ini buat memberitahu warga kalau terjadi bencana tsunami, terus warga yang mendengar alarm akan pergi menuju bukit untuk menyelamatkan diri. Begitu Andi.”

“Oh begitu”

Andi dan Arif kemudian diajarkan cara menggunakan teropong oleh Mang Udin. Mereka berada di menara pengawas itu sampai sore hari. Setelah itu mereka pulang ke kampungnya di pesisir pantai.

Liburan sekolah ini benar-benar memberika pengalaman baru bagi Andi. Ia bisa belajar menggunakan teropong dan tahu apa itu tsunami dan tahu apa yang harus dilakukan kalau tsunami datang.

***

Dongeng ini diikutsertakan di lomba Menulis Cerita Anak (Dongeng) yang diadakan oleh Sarikata.com dalam rangka ulang tahun yang ke-9 pada tahun 2011.