Tag

,

Hari ini tidak sengaja bertemu dengan teman yang lagi nenteng buku “Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana”. Buku yang sebenarnya ngebet banget pengen ngebaca. Akhirnya dengan wajah memelas luluh juga tuh orang. Baik saya akan mengulas sedikit saja tentang buku ini. Buku ini ditulis oleh Dr. R. Cecep Eka Permana dan diterbitkan oleh Penerbit Wedatama Widya Sastra. Buku ini merupakan abstraksi hasil penelitan lapangan dalam rangka Hibah Riset Kompetensi DIKTI tahun 2010. Setidaknya ada empat hal penting yang melatari penelitian ini, yaitu 1) masyarakat Baduy tidak pernah mengalami bencana kebakaran hutan meskipun mereka melakukan tebang-bakar hutan untuk membuat ladang; 2) di wilayah Baduy banyak hunian pendudukan berdekatan dengan sungai, tidak terjadi bencana banjir melanda permukiman; 3) walaupun rumah dan bangunan masyarakat Baduy terbuat dari bahan yang mudah terbakar, jarang terjadi kebakaran hebat, dan 4) wilayah Baduy yang termasuk dalam daerah rawan gempa Jawa bagian Barat, tidak terjadi kerusakan bangunan akibat bencana gempa.

Apalabila bicara mitigasi, maka kita akan bicara pengertiannya terlbih dahulu. ecara umum mitigasi bencana diartikan sebagai perencanaan yang tepat untuk meminimalkan dampak negatif terhadap manusia. Mitigasi bencana merupakan kegiatan pertama dari tiga kegiatan utama dalam manajemen bencana, yakni kegiatan prabencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta peringatan dini. Dua kegiatan lainnya adalah saat terjadi bencana, mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan Search and Rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian; dan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Kegiatan pada tahap prabencana selama ini banyak dilupakan, padahal kegiatan pada tahap prabencana sangatlah penting karena mencakup baik perencanaan maupun pelaksanaan tindakan untuk mengurangi risiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi. Oleh karena itu, masyarakat harus mengetahui dan memahami serta mampu menyiasati cara hidup berdampingan dengan bencana.

Masyarakat Baduy sadar akan kondisi lingkungannya, karena itulah mereka bisa hidup harmoni dengan alam. Apalagi di sana ada pikukuh (adat yang kuat) yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satu pikukuh itu berbunyi lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungkan (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh sambung). Makna pikukuh itu antara lain tidak mengubah sesuatu, atau dapat juga berarti menerima apa yang sudah ada tanpa menambahi atau mengurangi yang ada. Insan Baduy yang melanggar pikukuh akan memperoleh ganjaran adat dari puun (pimpinan adat tertinggi). Pengamalan pikukuh yang taat menyebabkan masyarakat Baduy memiliki kearifan dalam mitigasi bencana.