Rabu 22 Juni kemarin di acara Inspiration Days yang diadakan oleh Salam UI, saya bisa ketemu dengan pak Onno W Purbo. Jadi sekalin saja saya bertanya, jika harus beralih menggunakan os atau tiluna Open Source maka kita harus belajar lagi apalagi linux itu kan susah. Trus sebagain besar dari warga Indonesia kan sudah terbiasa dengan os windows dan ms Office, kalau mau beralih itu kan harus dimulai dari sekolah dan perlu juga instrukturnya?

Sebelum ke jawaban pak Onno, ada baiknya saya jelaskan dulu kenapa saya akhirnya bertanya demikian. Hal ini tak lain dan tak bukan karena pak Onno memberikan pengantar bahwa kalau os berlisensi seperti windows itu berbayar untuk professional dan satu kompputer harus bayar satu os yang harganya sekitar 3 jutaan, dan untuk aplikasinya harus bayar lagi, ms office sekitar 800 ribu. Jadi satu computer menghabiskan budjet sekitar 3-4 jutaan hanya untuk fungsi kerja kantoran (lumayan yah buat beli laptop). Nah kalo tidak original polisi bisa datang tuh merazia dan menyita Komputer.

Jawaban pak onno atas pertanyaan saya adalah:

Yah kita memang ahrus belajar menggunakan open source. Terus ia bercerita istrinya yang berkeliling ke ibu-ibu PKK di daerah Jakarta.istrinya pak Onno ngajarin ibu-ibu menggunakan computer selama dua pecan. Mulai dari menghidupkan sampai shut down (dalam benak ibu-ibu bersentuhan dengan computer itu hal yang horror, karena ditaku-takuti kesetrum). Selama dua minggu ibu-ibu itu dikenalkan dengan program office sampai akses ke internet. Setelah dua meninggu berjalan dan ibu-ibu sudah lancer. Maka istri pa Onno berkeliling lagi ke daerah lain, namun karena lagi hamil sekarang sedang istirahat di rumah. Nah setelah pelatihan banyak ibu-ibu yang kirim email ke istrinya pa Onno, “bu, komputer yang dirumah kok agak beda yah sama Komputer yang dipake sama pelatihan”. Jadi ibu-ibu saja bias kok kalo dilatih sambil praktek langsung kenapa yang lain ga?

Soal kurikulum. Sebenarnya Buku Sekolah Elektronik yang dipublish sama Kemendiknas untuk mata pelajaran TIK juga sudah berisi materi-materi open source seperti OpenOffice, tapi entah kenapa disekolah bukan itu yang diajarkan.

Konklusinya semua bisa kok menggunakan openOffice, selama itu gak dikasih tau kepeserta pelatihan kalo itu menggunakan linux.