Tag

,

Seorang yang optimis melihat peluang dalam setiap bencana, dan orang yang pesimis melihat bencana dalam setiap peluang ( Herbert V Prochonow)

Indonesia merupakan negara yang berada di garis depan pertemuan antar tiga lempeng paling aktif di dunia, yaitu lempeng Austronesia, Asia, dan Pasifik. Gesekan antar lempeng itu-terutama antara Australia dan Asia-membuat bawah bumi Indonesia selalu bergejolak dan mendidih. Selain berada di garis tumbukan tiga lempeng (Indo-Sutralia, Eurasia, dan Pasifik), Indonesia juga masuk ke dalam wilayah Ring of Fire (cincin api). Oleh sebab itu Indonesia selain dikenal sangat kaya dengan limpahan alamnya juga dikenal sebagai wilayah “supermaket bencana” karena  banyaknya jenis ancaman bencana dan seringnya terjadi bencana yang memakan korban jiwa dan harta benda. Jika didaftar maka akan sangat panjang rentetan bencana yang terjadi di negeri ini. Mulai dari bencana skala kecil sampai bencana mahadahsyat seperti tsunami Aceh tahun 2004.

Hanya saja, ditengah rentetan bencana itu, kita masih belum juga beranjak untuk lebih siap dan siaga ketika bencana terjadi. Wajah panik dan bingung tidak tahu harus berbuat apa masih tampak jelas dari raut wajah korban bencana di negeri ini. Wajah yang selalu terulang dari satu daerah bencana satu ke daerah bencana lain. Kepanikan tentu saja bisa menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.

Hal ini yang harus kita ubah. Kita tidak bisa menghalangi datangnya bencana, namun kita bisa meminimalisir dampak kerusakan dan jumlah korbannya. Tentu saja hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesiapan masyarakat kita untuk menghadapi datangnya bencana yang tiba-tiba.

Pelajaran dari negeri Sakura dan Perbandingannya dengan Indonesia

Di Jepang ada prosedur penyelamatan diri dari bencana yang diajarkan kepada setiap warga negara, termasuk orang asing yang ada di sana. Bahkan pendidikan bencana sudah menjadi bagian dari kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia pun sudah ada beberapa sekolah yang melakukan simulasi bencana. Tentu ini patut diapresiasi karena bencana belum menjadi kurikulum wajib di sekolahan. Selain itu, pendidikan bencana juga sudah dilakukan oleh masyarakat lokal, Salah satu contoh terkenal adalah Smong di Simeulue.

Simeulue adalah pulau seluas 198.021 hektar yang terletak di Samudra Hindia, dengan jumlah total penduduk 78.000 jiwa. Saat gempa dan tsunami Desember 2004 terjadi, dilaporkan “hanya tujuh orang” yang meninggal dunia di pulau ini, sementara di Aceh daratan ratusan ribu orang tewas dihantam gelombang air laut.

Jumlah korban yang relatif amat kecil itu disebabkan karena persiapan menghadapi bencana, yang telah dipelajari penduduk sejak kecil. Para tetua di Simeulue mewariskan petuah agar waspada dengan kegentingan lingkungan. Di tengah masyarakat pulau ini, petuah itu abadi diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Ada pantun rakyat yang selalu diingat, “Tak usah takut anak cucuku, tsunami itu mandi-mandimu dan gempa itu ayun-ayunanmu,”

Hampir semua warga, mulai dari anak SD apalagi tetua di pulau itu tahu persis bahwa jika terjadi gempa, maka mereka menunggu lebih dulu untuk melihat air surut dan setelah itu memutuskan lari ke gunung untuk menghindar dari smong (smong dalam bahasa Simeulue berarti tsunami).

Contoh di atas adalah sedikit dari sekelompok kecil masyarakat kita yang telah melakukan pendidikan kebencanaan. Sedangkan sebagian besar lagi masih asing dengan pendidikan kebencanaan. Maka, perlu ada kemauan dari BNPB dan Kemendiknas untuk memasukkan pendidikan kebencanaan kedalam kurikulum yang diajarkan pada murid-murid di sekolah.

Pelajaran kedua adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP di Jepang memiliki satu ruang besar, yang selain dipakai untuk acara penyambutan atau kelulusan juga diperuntukkan untuk barak pengungsian ketika terjadi bencana.

Di Indonesia pun pada kenyataannya sekolah juga dijadikan tempat pengungsian sementara ketika terjadi bencana. Namun, tidak seperti sekolah-sekolah di Jepang yang ketika pembangunannya sudah di desain untuk menjadi barak pengungsian ketika bencana, Indonesia masih sangat sedikit sekolah yang mempunyai ruang aula, apalagi yang didiseain untuk barak pengungsian. Nah, ini menjadi tugas kita bersama untuk mulai memikirkan hal ini. Mencoba menerapkan konsep aula sekolah-sekolah di daerah rawan bencana sebagai tempat pengungsian alternatif ketika terjadi bencana.

Pelajaran ketiga adalah meski bencana besar mengguncang, seperti gempa dan tsunami Jepang maret lalu, semangat untuk bangkit kembali dari masyarakat Jepang sangat tinggi. Bahkan acara-acara televisi di Jepang pun banyak menampilkan pahlawan-pahlawan lokal saat bencana yang bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Begitu juga iklan-iklan layanan sosial di televisi dan koran-koran lebih banyak menayangkan dan berisi motivasi.

Bagaimana Indonesia? Setiap bencana terjadi di pelosok negeri ini, semangat untuk berbagi dan menolong langsung menyeruak. Hal ini terbukti dengan banyaknya sumbangan baik barang maupun uang untuk disalurkan kepada para korban. Tentu hal ini patut kita pertahankan. Namun ada catatan hitam yang mencoreng wajah media. Pada kasus erupsi merapi tahun 2010 ada pemberitaan negatif dari salah satu infotainment yang membuat panik pengungsian. Hal ini yang harus kita hindarkan, karena media justru bisa tampil sebagai garda terdepan penyebaran  informasi dan edukasi tentang bencana kepada masyarakat luas.

Akhirnya, kita harus sadari bahwa kita hidup di negeri rawan bencana, oleh karena itu kita harus mulai siap menghadapi bencana yang hadirnya tiba-tiba. Kesiapan itu bisa kita dapatkan dengan pelatihan dan edukasi bencana. Mempersiapkan jalur evakuasi dan tempat pengungsian untuk bencana. Serta tanggap akan kondisi darurat. Semuanya itu meminta keterlibatan semua pihak. Karena ujung dari kesiapan menghadapi bencana adalah timbulnya kemampuan kita untuk berusaha bangkit dan tegak kembali setelah luluh lantak dihantam bencana.