Tag

Apa artinya jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari dua ratus juta jiwa di mata ahli marketing kelas kakap?

Jawabannya, Indonesia adalah pasar maha besar dan menjanjikan. Hal ini yang membuat produsen dari manca negara membidik Indonesia sebagai target pemasaran. Terlebih lagi orang Indonesia juga gemar belanja.

Melihat Kondisi di atas sebenarnya produsen lokal tidak perlu khawatir kehilangan pasar. Karena Penduduk Indonesia adalah pasar yang potensial untuk memperkuat pasar domestik. Justru yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya orang Indonesia mau menggunakan produk-produk yang mampu dihasilkan oleh bangsa sendiri. Salah satu caranya adalah dengan menggali kembali kecintaan Kita terhadap produk Indonesia.

Masalahnya, masih banyak orang Indoensia yang “Malu” menggunakan produk dalam negeri dan lebih memilih belanja di luar negeri dengan alasan gengsi. Sedangkan kampanye cintai produk Indonesia juga belum menunjukkan kemajuan berarti sejak digulirkan puluhan tahun lalu. Tentu harus ada cara lain.

Di Cina ada salah satu provinsi yang mempunyai kebijakan unik untuk menguatkan produk domestik di pasaran. Hubei Provinsi itu, sebagai penghasil rokok, pemerintah Hubei mewajibkan pegawai negeri di lingkungan pemerintahannya untuk membeli rokok lokal dan menjatuhkan denda jika ada yang membeli rokok produksi provinsi lain.

Mungkin soal rokok kita bisa silang pendapat. Namun pelajaran yang ingin kita petik adalah kebijakan untuk memperkuat kedudukan produk lokal.

Bagaimana dengan Indonesia, kita juga pernah punya pemimpin seperti Jusuf kalla yang bangga dengan Sepatu Cibaduyut-nya dan merazia sepatu para menteri serta menghimbau bawahannya untuk menggunakan produk lokal. Ini tentu patut diapresiasi, hanya saja kampanye cinta produk Indonesia belum sampai pada tindak nyata dan penerapannya belum setegas seperti yang diterapkan di Hubei.

Maka, sekarang saatnya kita menantikan apakah pemerintah serius dengan kampanye cintai produk Indonesia-nya? kalau iya, tentu merekalah pihak yang pertama kali menggunakan produk dalam negeri dan menggunakan produk dalam negeri ketika berkunjung ke luar negeri. Apakah bisa para pemimpin kita bertindak seperti itu?