Tag

,

Hidup di Indonesia mengandung resiko keamanan, karena letak geografis Indonesia yang berada di daerah rawan bencana, mulai dari gempabumi, gunung meletus, longsor, banjir sampai ancaman tsunami. Bahkan, dalam catatan bencana kontemporer, Indonesia memiliki rekor dengan bancana terdahsyat yang menelan banyak sekali korban jiwa.

Tinggal di daerah rawan bencana seperti Indonesia jelas membutuhkan pengetahuan dan pemahaman akan potensi dan ancaman serta cara menghadapi bencana. Hal ini disebabkan oleh rapuhnya hubungan kita, manusia dengan alam sekitar tempat kita hidup. Sekali alam menggeliat aktivitasnya, kita langsung terkena dampaknya. Seperti hujan di Jakarta yang selalu diikuti banjir dan pohon tumbang.

Secara kasar kita bisa mengamati bahwa selama ini kita lebih banyak melakukan kegiatan pasca bencana berupa tanggap darurat dan pemulihan daripada kegiatan sebelum bencana berupa mitigasi dan kesiapan bencana. Padahal, apabila kita memiliki sedikit perhatian terhadap kegiatan-kegiatan sebelum bencana, kita dapat mengurangi potensi bahaya dan kerugian yang mungkin timbul ketika bencana.

Sekali lagi, kita tidak bisa menolak hadirnya bencana karena itu memang kehendak dari Sang Pencipta, tapi kita bisa meminimalisir jumlah korban dari tiap kejadian bencana. Hal itu dapat kita lakukan jika kita memiliki pengetahuan dan pemahaman akan bencana. Dalam mitigasi bencana tahap ini sering disebut tahap prabencana. Apalagi jika pengetahuan ini tertanam sejak dini, seperti yang dipraktekkan oleh masyarakat Simeule.

Dongeng sebagai mekanisme Transfer pengetahuan pada anak

Anak-anak bila dibandingkan dengan kelompoik umur lain merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban jika terjadi bencana. Hal ini terjadi kerena mereka belum miliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang bencana, berbeda dengan orang dewasa yang sudah lebih berpengalaman dan bisa mencerna informasi lebih baik bila dibandingkan dengan anak-anak.

Salah satu mekanisme pemahaman behaya bencana pada anak adalah lewat dongeng. Walaupun mungkin muncul pertanyaan dibenak kita, masih pentingkah mendongeng pada anak, sementara kegiatan bercerita bisa digantiklan oleh teknologi audio visual? Menurut hemat penulis, kegiatan mendongeng tetap penting bagi perkembangan anak, karena dengan mendongeng, imajinasi anak tidak terjajah. Selain itu juga untuk menghindari penggambaran realitas bencana yang bisa membuat anak ketakukan lewat gambar yang ditampilkan secara vulgar oleh media audio visual.

Penting juga untuk diingat bahwa bercerita tidak sama dengan membacakan cerita. Pada dongeng kita terlibat emosi dengan anak-anak. Kita juga bisa mengajarkan mereka akan pengetahuan baru secara halus.

Dengan kata lain, kegiatan mengajarkan dan menciptakan pengalaman bersama anak dengan melalui bantuan cerita secara tidak langsung dapat mengembangkan kemampuan anak menafsirkan peristiwa yang ada di luar pengalaman langsungnya.
Lewat dongeng juga anak tidak perlu mengalami sendiri kejadian-kejadian berbahaya untuk memahami adanya bahaya. Karena mereka bisa mengambil pelajaran dari tokoh dalam dongeng yang kita sampaikan.

Simeulue Sebagai Contoh

Kearifan lokal masyarakat Simeulue dalam mitigasi bencana sepertinya tak bisa dilewati begitu saja. Karena kearifan lokal mereka yang berupa dongeng turun temurun tentang smong (tsunami dalam bahasa Simeulue) telah membuat mereka menjadi perhatian ketika Tsunami maha dahsyat terjadi tahun 2004, karena di sinilah jumlah korban paling sedikit untuk ukuran daerah yang dekat dengan kejadian bencana.

Dongeng yang selalu diturunkan dari generasi ke genarasi itu berbunyi:

Engel mon sao surito /Inang maso semona/ Manoknop sao fano/ Uwilah da sesewan/ Unen ne alek linon/ Fesang bakat ne mali/ Manoknop sao hampung/ Tibo-tibo maawi/ Angolinon nek malo/ Oek suruk sauli Maheya mihawali/ Fano me senga tenggi/ Ede Smong kahane/ Turiang da nenekta/ Miredem teher ere/Fesan navi-navi da/ Smong rumek-rumek mo/ Linon uwak-uwak mo/ Elaik kedang-kedang mo/ Kilek suluh-suluh mo.

(Dengarlah suatu kisah/ Pada zaman dahulu kala/ Tenggelam suatu desa/ Begitulah dituturkan/ Gempa yang mengawali/ Disusul Air yang surut/ Tenggelam Seluruh negeri secara tiba-tiba/ Jika gempanya kuat/ Disusul air yang surut/ Segera carilah tempat/ Dataran tinggi agar selamat/ Itulah smong namanya/ Sejarah nenek moyang kita/ Ingatlah ini semua/ Pesan dan nasihatnya/ Smong (tsunami) air mandimu/ Gempa ayunanmu/Petir gendang-gendangmu/ petir gendang-gendangmu/ Halilintar lampu-lampumu)

Sudah saatnya kita peduli dan mau mencontoh kearifan masyarakat Simeulue dalam memberikan pengetahuan bencana pada generasi anak-anak. Di mulai dari keluarga sebagai pondasi dasar pemahaman bencana pada anak, kemudian dilanjutkan di tingkat sekolah dan masyarakat. Karena dengan memiliki pemahaman kita bisa mengurangi dampak kerusakan yang dtimbulkan oleh bencana. Cukup dengan cara yang sederhana, mendongeng. Jika orang tua tidak bisa membuat cerita tantang pemahaman bencana, maka BNPB atau pihak lain yang berkepentingan bisa membuat dongeng-dongeng tersebut lalu di unggah ke internet, sehingga siapa saja bisa membacanya untuk kemudian didongengkan kepada anak-anak.