Sosial media! Bisa jadi kita kurang akrab terhadap definisi apa itu sosial media, tapi kita tahu ada situs jejaring sosial bernama Facebook dan Twitter. Sesekali kita terlibat di forum internet. Sesekali ketika mencari info di internet, kita mampir ke sebuah situs kolaboratif bernama Wikipedia. Nah, ternyata selama ini kita sudah sering berkelana di ranah sosial media.
Menurut Medhy Aginta dalam ebook Kamus Istilah Blogger mengatakan bahwa sosial media merupakan istilah umum yang digunakan untuk mendefinisikan situs dan aplikasi web dimana terdapat unsur interaksi sosial didalamnya (dalam bentuk teks, gambar, suara, video atau gabungan dari semuanya). Contoh situs sosial media adalah blog, forum online, situs jejaring sosial, Wikipedia dan lain-lain.
Dari segi angka, jumlah pengguna sosial media di negeri ini sangatlah besar. Pengguna Facebook dari Indonesia menurut Internet Sehat ada sekitar 30,1 juta orang dan merupakan nomor dua terbesar di dunia. Pengguna bloger di Indonesia diperkiran 2,7 juta orang. Sedangkan pengguna Twitter menurut internet Sehat mencapai 6,2 juta orang dan merupakan nomor tiga terbesar di Asia. Jumlah total pengguna internet di Indonesia, baik yang menggunakan komputer personal, laptop, maupun telepon seluler, mencapai angka 45 juta orang.
Melihat jumlah pengguna internet di negeri ini, seperti yang dipaparkan di atas, sungguh sangat besar dan menyimpan potensi yang sungguh luar biasa. Kita bahkan bisa menjadi opinion leader, seperti saat timnas kita yang menjadi tranding topic di Twitter saat pagelaran piala AFF. terlebih lagi, sebagian besarnya adalah kaum muda.
Hanya saja, masih sedikit orang yang menggunakan kekuatan sosial media untuk kegiatan yang lebih produktif. Status FB atau Twitter kita masih banyak yang sekedar update status dan tidak terlalu penting seperti, “kucing gua batuk”, “gua ngantuk” dan sebangsanya. Padahal kita bisa menggunakan media sosial untuk melakukan kampanye dari apa yang ingin kita lakukan.
Senjata ampuh untuk kampanye
Kampanye menurut ahli komunikasi bernama Rogers dan Storey (1987) adalah “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”
Dari definisi di atas ada empat hal yang terkandung dalam setiap aktivitas kampanye, yaitu tindakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu, jumlah khalayak sasaran yang besar, dipusatkan dalam kurun waktu tertentu, dan melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisir.
Selain itu, segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi, yaitu mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye pada prinsipnya adalah contoh tindakan persuasi secara nyata.
Roby Muhammad dalam tulisannya berjudul Kampanye di internet, menuliskan ada tiga keuntungan kampanya di internet yaitu, Internet adalah media yang penggunanya aktif berinteraksi satu sama lain sehingga membentuk komunitas. Internet menjadi alat koordinasi yang murah dan efektif untuk mengatur sebuah kampanye Internet dapat menjadi tempat di mana informasi sosial politik didiskusikan sebagaimana terjadi terjadi di kantor, sekolah, atau pos ronda. Dengan kalimat lain, Internet sebagai pencetus efek domino. Selain itu, internet juga tidak mengenal batasan geografis, sehingga informasi dari satu orang di suatu tempat bisa diketahui oleh orang di tempat lain. Waktu penyebaran informasi juga sangat cepat dan direspon dengan cepat pula.
Mereka yang Berkampanye Lewat Sosial Media
“Saya mengikuti jejak Obama, kampanye dalam bidang yang lain. saya kampanye yang ada hubungannya dengan pekerjaan saya…
itu adalah penggalan kalimat Hary Van Yogya, seorang tukang becak di Yogyakarta, dalam film dokumenter Linimas(s)a. Hary Van yogya adalah tukang becak yang punya Facebook dan menggunakan Facebook untuk memasarkan jasa tukang becaknya, bahkan ada turis luar negeri yang datang ke Yogyakarta karena terpikat untuk menggunakan jasa keliling kota menggunakan becak.
Lain Hary, lain juga dengan Valencia Randa yang memanfaatkan kekuatan Internet untuk menyelamatkan sesama lewat aksi bertajuk Blood For Life. Valencia menjadi pengantara bagi mereka yang membutuhkan donor darah dan mereka yang mau menjadi pendonor.

Ada juga Jalin Merapi yangmelalui pengelolaan media informasi yang tepat, Jalin Merapi mampu menggalang 3000 lebih relawan dan mengambil peran sebagai penyedia data dan informasi saat bencana merapi.
Contoh kasus yang paling berpengaruh dan poaling dikenal public dari penggunaan sosial media untuk kampanye sosial adalah gerakan “Koin Peduli Prita” yang mengajak masyarakat khususnya para pengguna internet mengumpulkan uang koin untuk disumbangkan kepada Prita Mulyasari. Semua kepedulian itu berawal dari keprihatinan para pengguna milis sehat dan berkembang menjadi gerakan bersama dan disebarkan melalui Facebook dan Twitter. Selain kasus prita, tentu kita masih ingat dengan kasus Cicak vs Buaya yang melibatkan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Dukungan terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditahan Kepolisian Republik Indonesia itu pertama kali muncul di situs jejaring sosial Facebook dan diprakarsai oleh seorang dosen pengguna Facebook.
Kaum Muda dan Ide Besarnya
Kaum muda identik dengan ide-ide segar dan pelopor perubahan. Tentu saja tidak semua ide yang ada di benak para kaum muda sudah terlealisasi. Salah satu kendalanya adalah ide-ide itu masih mengendap di kepala dan belum dilakukan secara nyata. Masih banyak yang bingung untuk memulainya dari mana.
Bagi saya, ide besar maupun aksi sekecil apapun yang bisa memberikan arti, seperti kampanye memotivasi orang dapat dimulai dengan langkah kecil dan nyata, yaitu mengkampanyekannya lewat sosial media. Mengisi status kita dengan pesan kampanye dari ide kita.
Akhirnya, kita sudah membahas sosial media, sungguh dahsyat bukan daya ledaknya sosial media untuk kampanye. So, jika kamu-kamu punya ide kreatif yang ingin kamu suarakan, maka jangan ragu untuk menggunakan sosial media sebagai alat kampanye. Jika tukang becak aja bisa, kenapa kita tidak bisa.