Tag

Air mengalir sampai jauh

Akhirnya ke laut

Itu adalah cuplikan lirik lagu legendaris dari Gesang. Bercerita tentang keindahan sebuah sungai. Namun kini, jika kita lihat di kota-kota besar terutama Jakarta ketika diguyur hujan, maka cuplikan lagu Gesang di atas tidak lagi cocok. Karena kenyataannya, tiap kali turun hujan maka akan diikuti oleh banjir. Bahkan Jakarta tidak diguyur hujan pun masih bisa kena banjir jika kebetulan di Bogor atau Depok mengirim aliran air hujan.

Kenyataan di atas menunjukkan adanya masalah dalm pengelolaan perkotaan di negeri ini. Kota-kota besar, khususnya Jakarta telah melewati batas daya dukung lingkungannya. Terutama tidak adanya daerah resapan air dan kondisi sungai yang rusak parah.

Daya dukung lingkungan menurut Soemiarno dkk (2008:81) adalah ukuran kemampuan suatu lingkungan mendukung sejumlah populasi jenis tertentu untuk bertahan hidup dalam lingkungan tersebut. dalam hal ini lingkuang dapat berupa sebidang tanah, wilayah geografis atau suatu ekosistem tertentu.

Dengan memperhatikan kemampuan lingkungan dalam mendukung populasi di atasnya, kita dapat menghitungkan kemampuan maksimum lingkungan tersebut. dengan demikian akan dapat diperhitungkan kepadatan populasi yang dapat didukung oleh leingkungan yang bersangkutan. Sehingga populasi tersebut dapat hidup dengan wajar. Apabila terjadi kelebihan populasi atau kepadatannya melebihi kepadatan yang mampu didukung oleh lingkungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa lingkungan tersebut telah sampai pada batasnya. Dan jika terus dipaksakan akan terjadi ketimpangan ekologi. Contoh nyatanya adalah Jakarta.

Manusia sang Perusak

Manusia memiliki andil dalam kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan terus berlanjut sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan mansuia sebagai penghuni bumi. Untuk melangsungkan hidupnya manusia memanfaatkan lingkungan demi kepentingannya sendiri. Parahnya sering tidak dimbangi dengan sikap memperhatikan kelestarian lingkuangan.

Salah satunya adalah eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Ekploitasi berlebihan ini menimbulkan perubahan-perubahan dalam ekosistem. Sehingga mempengaruhi pula sumber daya lain beserta lingkungannya, yang akibatnya dirasakan pula oleh manusia.

Perubahan dan gangguan terhadap sumber daya alam dan lingkungannya akan menimbulkan masalah lingkuangn hidup. Masalah lingkungan hidup ini ada yang bersifat langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat seperti merusak kesehatan, merusak usaha, menimbulkan keresahan sosial. Ada juga yang tidak dirasakan langsung oleh masyarakat seperti merosotnya produktivitas dan diversitas jenis tumbuhan, kelangkaan air minum, serta percepatan proses erosi yang disebabkan oleh eksploitasi.

Sungai Hitam di Jakarta

Jakarta dialiri 13 sungai yang semuanya mengalir ke Teluk Jakarta. Kondisi mayoritas sungai tersebut sangat memprihatinkan, berair hitam pekat atau warna-warni lain, ditimbun sampah plastik, kaleng, organik dan jenis sampah rumah tangga lainnya, serta dialiri limbah cair dari berbagai industri yang di antaranya tergolong bahan berbahaya beracun (B3).

Ekosistem sungai di Jakarta sudah rusak berat. Parahnya lagi Selain tercemar limbah industri dan limbah domestik, banyak badan sungai yang menyempit, mengalami pendangkalan, ditimbun untuk kepentingan bisnis, atau berubah menjadi riol tertutup.

Kondisi di atas membuat Jakarta sangat rawan terkena bencana banjir karena tidak memiliki daerah resapan air hujan, juga membuat Jakarta akan kekurangan pasokan air selain karena tidak adanya daerah resapan juga karena air hujan yang turun di Jakarta selalu dibuang ke laut. Tentu  ancaman di atas akan membuat Jakarta kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air.

Walhi merilis analisa kebutuhan air minum di Jakarta pada tahun 2005 sebagai berikut,

Estimasi penduduk jakarta tahun 2005 sebesar 10 juta jiwa

Kebutuhan air per orang                               = 150liter/jiwa/hari

Kebutuhan air penduduk Jakarta                   = 547,5 juta m³/th

Pemenuhan oleh PDAM                               = 54% (295,6 juta m³/th)

Pemakaian air bawah tanah               = 46% (251,8 juta m³/th)

Potensi air bawah tanah                                = 532 juta m³/th

Batas aman pengambilan air bawah tanah      = 30-40%, jadi batas aman untuk Jakarta adalah 186,2 juta m³/th

Dari data di atas jelas bahwa ada eksploitasi air bawah tanah. kelebihan pengambilan air bawah tanah di Jakarta adalah 66,6 juta m³/th. Tentu bukan angka yang sedikit terlebih kondisi Jakarta yang semakin buruk ekosistemnya.

Data di atas adalah data pada tahan 2005. Itu adalah gambaran tujuh tahun silam. Bisa jadi sekarang jauh lebih parah kondisinya, karena maraknya pembanguan gedung-gedung baru di Jakarta. Harus ada sesuatu yang dilakukan agar Jakarta tidak melulu Kebanjiran atau terancam kekurangan air untuk kehidupan manusia yang tinggal di atasnya.

Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan.

Selama ribuan tahun, penduduk asli di berbagai pelosok muka bumi telah mengembangkan praktik-praktik tradisional untuk melestarikan alam. Praktik-praktik tradisional inilah yang kemudian dikenal dengan kearifan lokal (local wisdom). Fenomena kearifan lingkungan yang berbasiskan masyarakat ini menurut Witoelar, seperti yang dikutip oleh Majalah Sabili sudah ada sejak zaman pra-sejarah dulu. Menurutnya, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Kearifan lokal ini dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat, yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Perilaku ini pun berkembang menjadi sebuah kebudayaan yang hidup di suatu daerah dan berkembang secara turun-temurun.

Baduy

Baduy, jika mendengar kata ini pasti pikiran kita langsung tertuju pada suku yang primitif dan konservatif. Namun, mereka memiliki karifan lokal dalam mengelola lingkungannya. Di Baduy banyak hunian pendudukan berdekatan dengan sungai, tetapi tidak terjadi bencana banjir melanda permukiman. Hal ini karena masyarakat Baduy memiliki metode pengelolaan alam khususnya hutan di kawasan Bumi Baduy.

Ignas Triyono, Pemenang Terbaik Kategori Umum Lomba Opini Hutan Lindung, PP 02/2008 dan Keselamatan Rakyat menulis dalam Belajarlah Lingkungan Hidup ke Bumi Baduy. Tanah di Baduy dibagi menjadi tiga peruntukan; yaitu sebagai lahan perladangan, permukiman, serta hutan lindung. Suku Baduy mempunyai areal yang dijadikan hutan lindung. Hutan lindung berfungsi sebagai areal resapan air. Pepohonan di areal ini tidak boleh ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk untuk ladang. Hutan ini juga membantu menjaga keseimbangan air dan kejernihan air di Baduy, terlebih di Baduy Dalam.

Kesadaran masyarakat Baduy terhadap lingkungan hidup, khususnya dalam menjaga kelestarian hutan dan air sungguh luar biasa. Ada di sana ada pikukuh (adat yang kuat) yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satu pikukuh itu berbunyi

        Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang diruksak, Larangan teu meunang dirempak, Buyut teu meunang dirobah, Lojor teu meunang dipotong, Pondok teu meunang disambung

        (Gunung tidak boleh dihancurkan, Lembah tidak boleh rusak, Larangan tidak boleh langgar,Amanat tidak boleh dirubah, Panjang tidak boleh dipotong, Pendek tidak boleh    disambung)

Makna pikukuh itu antara lain tidak mengubah sesuatu, atau dapat juga berarti menerima apa yang sudah ada tanpa menambahi atau mengurangi yang ada. Insan Baduy yang melanggar pikukuh akan memperoleh ganjaran adat dari puun (pimpinan adat tertinggi) seperti dikeluarkan dari kelompoknya.. Pengamalan pikukuh yang taat menyebabkan masyarakat Baduy memiliki kearifan dalam berhubungan dengan alam.

Harim Zone

Salah satu kearifan yang berasal dari ajaran agama adalah harim zone. Fachruddin Mangunjaya penulis buku Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi seperti yang dikutip oleh Majalah Sabili mengatakan bahwa, harim zone mewajibkan setengah dari lebar sungai ke kiri dan ke kanan, terbebas dari bangunan dan membiarkan vegetasi serta tumbuhan bebas sebagai penyangga sungai. ”Selain itu, hal ini untuk membuat daerah resapan sungai. Di zaman Rasulullah pendirian bangunan di bantaran sungai dilarang untuk memelihara ekstensi air,” jelasnya. Tradisi ini dihidupkan kembali sebagai sumbangan pada pemeliharaan lingkungan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.

Kearifan dari Sangga Buana di Kali Pesanggrahan

Jakarta pun memiliki daerah sungai yang dikelola dengan baik oleh masyarakat, yaitu Kali Pesanggrahan. Di lahan seluas 40 hektar, kelompok tani Sangga Buana  pimpinan Chaerudin atau yang biasa di sapa bang Idin menanam lebih dari 60 ribu tanaman buah dan pohon langka seperti Buni, Jamblang, Kirai, Mandalka, Krowokan, dan Bisbul. Penanaman sejak dua puluh tahun lalu, dimana isu lingkungan belum menjadi perhatian banyak orang.

Bersama kelompok ini, Bang Idin bisa konservasi hutan, hingga ribuan kepala keluarga di kawasan Kali Pesanggrahan bisa menikmati hasilnya. Selain itu, dengan kondisi sungai yang bagus membuat warga di Kali Pesanggrahan melakukan ternak ikan. Mereka bisa memanen Ikan Mas, Mujair atau Gurame sebanyak satu ton dalam seminggu. Hasil panen ikan yang dibudidayakan secara bersama-sama juga bebas untuk dikonsumsi langsung atau dijual.

Epilog

Kehidupan masyarakat Baduy maupun hutan konservasi buah tangan Bang Idin bersama Kelompok Tani Sangga Buana yang kini menjadi hutan tropis percontohan di tengah kota. Merupakan contoh dari pengelolaan lingkungan yang bersandar pada kearifan lokal. Tentu kita bisa mengambil pelajaran dari mereka untuk mulai mengelola lingkungan sekitar sungai dengan lebih baik.

Kita bisa menerapkan ketiga kearifan lokal di atas untuk memperbaiki kualitas sungai di kota-kota besar. Baduy yang terletak di pegunungan adalah contoh untuk pengelolaan lingkungan di daerah hulu. sedangkan harim zone untuk daerah bantaran sungai dari hulu hingga hilir. Sedangkan yang dilakukan oleh bang Idin adalah untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar sungai agar masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai mau menjaga lingkungannya dengan baik karena jika kondisi sungainya baik bisa dimanfaatkan untuk pertanian maupun perikanan serta bisa diolah mejadi bahan baku air minum.

  Kita harus mulai dari sekarang karena bagaimanapun juga sungai memiliki peran sentral dalam menungjang kehidupan manusia, terutama masalah sanitasi dan ketersediaan air untuk kehidupan kita. Jika kita tidak peduli dan masih hidup dengan gaya merusak lingkungan, maka bukan mustahil bencana yang jauh lebih besar dan berat akan mengancam kita di kemudian hari. Akhir kata, jika masyarakat yang tidak mengenal pendidikan modern seperti Baduy saja bisa mengelola lingkungannya dengan baik, kenapa masyarakat yang berpendidikan dan lebih modern tidak mampu?

Referensi

Majalah Sabili. Kembali Pada Kearifan Lokal. Majalah Sabili No. 23 Th XVI 4 Juni 2009

Soemiarno, Slamet dkk. Buku Ajar III, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian terintegrasi (MPKT) cet. Kedua. 2008: Bangsa, negera, dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Depok: Penerbit FE UI

Triyono, Ignas. Belajarlah Lingkungan Hidup ke Bumi Baduy. http://www.jatam.org/content/view/466/21/  (Akses 2 Oktober 2011)

Walhi. Jakarta Cermin Buruk Pengelolaan Lingkungan di Indonesia. Handout Seminar Jakarta and it’s Enviromental Problematic yang diselenggarakan oleh Suara mahasiswa UI, 28 September 2011 di Gedung M Fisip UI.

Pejuang Tepian Sungai. http://metro.vivanews.com/news/read/5385-pejuang_tepian_sungai (Akses 2 Oktober 2011)