Awal minggu ini, saya mendapatkan kiriman buku. Walau bukan buku baru tapi terasa special, karena berkisah tentang TKW dan uniknya lagi ditulis oleh para TKW yang bergabung dalam FLP Hongkong. Biar gak penasaran sama buku itu, judulnya adalah Hong Kong, Namaku Peri Cinta.

“Buku Hongkong, Namaku Peri Cinta ini mendobrak sejarah penulisan cerpen Indonesia. Tujuh pengarang muda perempuan kita, seluruhnya pekerja imigran di luar negeri (dalam hal ini Hongkong) merekam duka derita mereka, direndahkan, diremehkan, didiskriminasi. Ketabahan mereka luar biasa. Cita-cita mereka sederhana meningkatkan derajat kemanusiaan, menghilangkan energi negatif, mengobati stres psikologi dan mendekatkan diri pada Allah. Ketujuh pengarang baru ini mewakili beribu-ribu nasib rekannya senasib di seluruh dunia. Salut saya sangat tinggi untuk Forum Lingkar Pena.”

Kalimat di atas adalah komentar dari Taufiq Ismail. Sedangkan bagi saya dan kamu yang lagi pada belajar menulis, yang paling membuat buku ini menarik adalah pengantar dari Asma Nadia dan alasan para TKW itu menulis.

Yah, para TKW itu menulis di tengah keterbatasannya. Dan alasan mereka bermacam-macam, mulai dari yang tidak mau dilecehkan, mengembangkan bakat, meningkatkan harga diri, sampai ada yang demi membahagiakan orang-orang terkasih. Walaupun saya menangkap bahwa, alasan yang terkuat adalah balas dendam dengan menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk di hati mereka ke dalam tulisan.

 

Akhir kata, jika TKW saja yang memiliki keterbatasan waktu, sarana dan fasilitas mampu melahirkan karya, kenapa kita tidak bisa?