Tag

-sabtu pagi baru pulang dari pelatihan di bogor. sekarang dalam bus ke jogja, 1 minggu pelatihan lagi disana. tidak ada kata istirahat saat ini. ngejebur di laut mungkin minggu depan skaligus ngambil bakau-

Itu adalah status FB saya tanggal 29 april 2012. Hari yang masih pagi dan melelahkan karena kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Pulang dari pelatihan di IPB, langsung ketemu klien sampai jam 11 malam. Sabtu siang panen ikan lele di kolam dan malamnya menginap di kajian bulanan masjid An Nur. Namun, komitmen lama dengan ketua DPC Himpikindo Kab. Tangerang, Kang Sapri, membuat saya berangkat juga ke Jogja.

Maret, April, dan Mai adalah bulan-bulan melelahkan karena banyak perjalanan bisnis dan perjalanan pribadi yang dilakukan. Dari ujung Banten, Tangerang, Jakarta, Depok, sampai Jogja. Namun perjalanan itu tidak pernah saya sesali karena banyak hal yang saya dapatkan termasuk perjalanan pendidikan di Jogja.

Sungguh luar biasa belajar ekonomi kreatif di kota berbudaya tingkat tinggi ini. Mereka benar-benar kreatif dan ramah-ramah. Saya yang pemula di bidang kerajinan tangan mendapatkan cakrawala yang lebih luas di bisnis ini.

Salah satu mentornya adalah Mas Anton Wahono, Direktur CV sanggar punakawan Bantul. Mas Anton sangat ramah dan baik hati. Banyak ilmu yang diserap darinya, terutama teknis pahat dan pewarnaan batik. Karena ia berlatar belakang usaha batik kayu yang sudah ekspor ke berbagai Negara.

hasil karyaku

Hari terakhir dipakai untuk kunjungan ke sentra industry. Saya belajar pola bisnis dan cara ekspor dari tempat-tempat yang saya kunjungi. Namun, sanggar punakawan desa wisata krebet bantul lah yang benar-benar membuat saya iri. Bayangkan saja, usaha kerajinan tangan di tengah hutan dan pasarnya adalah pasar ekspor. Selain itu, pemberdayaan masyarakatnya juga luar biasa, dimana tetangga mas Anton juga diajak untuk jadi pengerajin. Selain proses produksinya yang zero waste dan ramah lingkungan.

pengerajin batik kayu di sanggar punakawan yang tak lain adalah tetangga mas Anton Wahono

Ada catatan yang saya dapat kali ini, meski batik kayu sangat sulit untuk diterapkan di Tangerang. Karena ongkos produksinya yang jauh lebih mahal dari Jogja. tapi ada potensi lain yang bisa dikembangkan di Tangerang seperti kerajinan kayu lukis, sepatu lukis, juga kerajinan dari batok kelapa

Selain itu, sifat usahanya yang padat karya dapat dijadikan wahana pembedayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Nah kedepan itu yang akan saya bidik…