Tag

ada sebuah kisah tentang seorang pedagang yang menjelang sholat dia meninggalkan barang daganganya (di toko) dan di serahkan kepada saudaranya. Ketika itu datanglah seorang badui untuk membeli Kain. Sang penjaga toko kemudian mengambilkan kain seharga tujuh dirham, dan menawarkan sepuluh dirham dan tidak boleh di tawar. Akhirnya terjadi kesepakatan jual beli kain tersebut dengan harga sepuluh dirham.

Ditengah perjalanan pulang, sang Badui bertemu dengan pedagang yang menitipkan dagangannya kepada saudaranya itu. Pedagang itu lalu bertanya kepada si badui yang membawa barang kain, kain yang sangat dikenal oleh sang pedagang karena berasal dari tokonya. Pedagang yang baru saja selesai menunaikan sholat itu bertanya kepada badui, “Berapakah harga barang ini kamu beli?”

Badui itu menjawab, “Sepuluh dirham.”

“Tetapi harga sebenarnya hanya tujuh dirham saja. Mari ke toko saya supaya saya dapat kembalikan uang selebihnya kepada saudara.” Kata pedagang itu lagi.

“Biarlah, itu tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang sepuluh dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling lebih mahal dari sepuluh dirham.”

Tetapi pedagang itu tidak mau melepaskan badui itu pergi. Setelah di desak tetap saja badui itu tidak mau kembali dan tetap saja dia ingin pulang ke kampungnya.

Pedagang itu pun pulang dan berbicara kepada saudaranya sambil marah, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali lipat?”

“Tetapi dia sendiri yang bersedia membelinya dengan harga sepuluh dirham.” Kata Saudaranya.

Pedagang itu pun berkata lagi, “Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan  diri kita sendiri.”

Itulah kisah seorang pedagang di masa tabiin bernama Yunus bin Ubaid. Beliau bukanlah termasuk orang yang memiliki slogan jual beli adalah permainan  harga alias curang. Karena beliau hanya mengambil un­tung tanpa ada unsur kedzaliman atau curang.

Bagaimana sikap beliau ketika membeli? lebih menakjubkan lagi.

Ketika datang seorang wanita di pasar Khuzz, sedang Yunus dalam keadaan berdagang, wanita tersebut membawa jubah-jubah Khuzz untuk dijual. Dia menawarkan kepada Yunus, lalu beliau bertanya: “Dengan harga berapa anda hendak menjualnya?”

Wanita itu berkata: “lima puluh dirham”

Yunus berkata: “Jubah ini terlalu ba­gus untuk harga sekian.”

Wanita itu berkata, “Bagaimana jika enam puluh dirham?”

Yunus menjawab: “Masih terlalu bagus untuk harga sekia­n.” Yunus terus menambah harga hingga beliau membelinya dengan harga seratus dirham!

Beliau tidak memanfaatkan kelengahan wanita yang menjual jubah tersebut. Beliau menghargai barang tersebut dengan harga yang pantas dengan kwalitasnya karena beliau suka memperlakukan saudaranya dengan sesuatu yang beliau suka diperlakukan seperti itu.

Seperti Yunus bin Ubaid-lah seharusnya pengusaha muslim bersikap. Jujur dalam berwirausaha dan tidak berbuat licik serta menjadikan usahanya berkah. Yunus sangat sadar akan peranan ekonomi bagi pengembangan dakwah Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta.

Dalam kisah di atas kita bisa mengambil pelajaran bagaimana Yunus ingin usahanya mendapatkan berkah dan bermanfaat bagi orang lain, ia memarahi saudaranya yang menjual harga kain sampai dua kali lipat dari harga yang ditetapkannya. Ia sadar jika barang itu dijual dengan harga semahal itu, kemudian kain itu dijual lagi oleh orang baduy di kampungnya, tentu harga kain tersebut akan jauh lebih mahal. Dan ini akan menyulitkan orang lain yang membutuhkan barang tersebut sementara uangnya terbatas, padahal kalau harga normal maka orang tersebut bisa membelinya.

Realita dunia saat ini yang cenderung kapitalis dengan selogan modal sedikit tapi untuk sebanyak-banyaknya telah membuat masyarakat global begitu materialis dengan mengejar kesenangan materi dan hedonis dengan  mencari kenikmatan dunia. Kapitalis ini membuat pembagian kekayaan menjadi timpang di mana ada segilintir orang yang kaya raya sementara sisanya adalah menengah ke bawah. Dan kehilangan nilai spiritualitasnya.

Peran pengusaha muslim sebagai penggerak ekonomi yang bernilaikan ajaran Islam dan menebar manfaat bagi semesta inilah yang harus diambil. Kita tidak hanya sekedar mencari keuntungan materi lewat usaha yang kita lakukan. Namun, kita juga memiliki kewajiban moral untuk berusaha secara jujur dan amanah. Serta memiliki kewajiban sosial dimana kita tidak hanya mengejar materi dengan mengusahakan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sedikit-dikitnya, namun juga meringankan beban orang lain lewat usaha kita.

Awalnya memang sulit karena bisnis bersifat profir oriented, namun jika kita geser sebagai ibadah, maka kita bisa melakukan peran itu dengan baik. Karena dalam usaha kita ada nilai ibadah seperti menafkahi keluarga dengan usaha yang halal, mengeluarkan zakat, dan menolong sesama. Tidak semata-mata mengejar dunia tetapi hanya meletakkan dunia di tangan.

Semangat berbagi dan menjadi rahmat bagi semesta lewat usaha ini juga sukses dilakukan oleh Muhammad Yunus lewat Gramen bank-nya. Ia menggunakan kekuatan kapitalnya untuk memajukan ibu-ibu di negaranya lewat pengembangan usaha berbasis rumah. Sudah ada contoh bagaimana pengusaha muslim berperan bagi masyarakat di sekitarnya.

Kalau saja peran ini bisa kita lakukan dengan baik, bahkan menular kepada orang lain, bukan tidak mungkin system ekonomi islam yang lebih adil dan menetramkan jiwa manusia bisa menggantikan sistem kapitalis yang individualis dengan nalar kompetitivisme di mana yang kuat yang bertahan dan yang lemah yang tersingkir, paham yang saat ini sedang digugat eksistensinya.