Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan. Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan. Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan.
Kita boleh saja menarik nafas lega karena ketika terjadi masalah krisis pangan dunia beberapa tahun lalu, kita mampu melewatinya bahkan mampu swasembada beras. Tapi, ancaman kelaparan selalu datang mengancam.
Setidaknya ada tiga isu besar yang dihadapi terkait isu pangan. Isu pertama adalah jumlah penduduk yang meningkat, tentu saja menyebabkan kebutuhan pangan yang meningkat juga. Isu kedua adalah perubahan iklim, Perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi pangan. Isu ketiga adalah alih fungsi lahan baik untuk perumahan maupun industry juga menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan.
Memang kita dapat membeli beras dari luar negeri, namun, Pasar beras dunia juga terbatas sehingga memaksa kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki dengan cadangan beras yang memadai. Terlebih beras masih sebagai kontributor utama terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali.
Belajar Ketahanan Pangan Pada Masyarakat Adat di Banten Selatan
Baduy Selatan, khususnya Kabupaten Lebak, memiliki kekayaan akan masyarakat adat, Kasepuhan adat Banten Kidul. Wilayah Kasepuhan adat Banten Kidul ini secara kasat mata dan data versi pemerintah termasuk daerah tertinggal. Tetapi, di daerah ini tidak pernah ada kasus kerawanan pangan. Di wilayah ini berdiri lumbung-lumbung padi besar seperti di Citorek, Cisitu, dan Cisungsang. Berbanding terbalik dengan kota yang masih saja menyisahkan masalah pelik kerawanan pangan. Tidak ada salahnya kalau kita menggali kearifan masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul dalam masalah ketahanan pangan
Ada komitmen adat turun temurun, masyarakat di Kasepuhan adat Banten Kidul yang menanam padi, hasilnya tidak diperbolehkan menjual hasil bumi yang berbentuk gabah atau beras karena, perbuatan itu tabu untuk dilakukan istilah orang sana disebut ” pamali ” sebab tanam padi diwilayah tersebut hanya diperkenankan setiap satu tahun hanya satu kali.
Selain itu, terdapat hokum adat di Kasepuhan adat Banten Kidul, bahwa setiap hasil panen padi masyarakat diwajibkan untuk mengisi lumbung induk, lumbung padi ini cukup besar yang berfungsi sebagai bahan pokok cadangan apabila masyarakatnya sedang mengalami kekurangan pangan, selain itu setiap masyarakat yang sudah berkeluarga diharuskan memiliki lumbung masing-masing.
“Leuit” dan kearifan
Lumbung padi disebut leuit oleh masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul. Leuit merupakan simbul ketahanan pangan bagi masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul. Padi yang dihasilkan dari huma merupakan sumber utama bahan pangan bagi masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul.
Leuit punya peran vital sebagai gudang menyimpan gabah atau beras hasil panen. Pada saat musim paceklik simpanan gabah itu ditumbuk untuk kemudian dijadikan pemenuhan kebutuhan makanan sehari-hari. Setiap lima bulan ditanam padi siap dipanen dan kemudian disimpan di lumbung/leuit.
Kepemilikan Leuit rata-rata 1 KK mempunyai 1 leuit. Tapi tergantung jumlah lahan dan hasil panen menjadikan 1 KK memiliki lebih dari 1 leuit. Letak leuit di lahan kosong sekitar rumah warga. Penentuan tempat bersifat bebas, Padi yang tersimpan bisa bertahan puluhan tahun.Dari sisi filosofi, leuit megadung makna sebuah kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui bahasa yang mudah dipahami. Artinya adalah bersama akan keharusan “ngeureut jeung neundeun keur jaga ning isuk” (menyisihkan untuk hari depan), inilah wujud tabungan yang sesungguhnya yang telah dipraktekkan dalam waktu yang sangat lama.

Kearifan Penggunaan Lahan
Penggunanan lahan untuk menanam padi di Kasepuhan adat Banten Kidul hanya sekali dalam setahun. Selanjutnya lahan tersebut dipergunakan untuk menanam ikan atau sayuran, kehidupan masyarakat ini sudah berlangsung sampai dengan saat ini, penanaman padi yang dilakukan hanya satu kali sesuai intruksi dari tokoh masyarakat sebagai panutan. Penanaman padi yang dilakukan ternyata sangat sinergi dengan Program Pengendalian Hama Terpadu dimana pergiliran tanam yang dilakukan masyarakat lebak selatan yaitu untuk memutus siklus hama yang akan menyerang pada tanaman padi. Sehingga di Kasepuhan adat Banten Kidul nyaris tidak pernah gagal dalam panen padi.
Kasepuhan adat Banten Kidul dimasukan katagori daerah tertinggal. Namun demikian, mereka menyimpan kearifan dan kazanah kekayaan ilmu pengetahuan dalam pengelolaan pertanian dan penanganan hasil panennya, tersimbolisasi dengan leuit lumbung padi pengamanan dan kerawanan pangan. Untuk itu kehidupan sosial masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul masih patut untuk dipelajari dan dijadikan contoh dalam mengantisipasi kekurangan dan kerawanan pangan.

tulisan ini dimuat di koran Satelit News, Kamis 4 April 2013