Tag

Kerusakan lingkungan yang diikuti oleh pemanasan global sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Salah satunya adalah masalah keamanan pangan. Bebarapa tahun lalu, terjadi kelaparan di berbagai belahan dunia yang disebabkan pemanasan global.

Setidaknya ada tiga isu besar yang dihadapi terkait isu pangan yang berkenaan dengan lingkungan hidup. Isu pertama adalah jumlah penduduk yang meningkat, tentu saja menyebabkan kebutuhan pangan yang meningkat juga. Isu kedua adalah perubahan iklim, Perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada  terganggunya produksi pangan. Isu ketiga adalah alih fungsi lahan baik untuk perumahan maupun industri juga menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan.

Mengenai berkurangnya lahan untuk produksi pangan. Sebenarnya kita dapat membuat alternative lahan pertanian Mari berhitung berapa lahan kosong yang tersedia di sekitar rumah kita? Menurut kementrian Pertanian pada tahun 2011 Potensi lahan pekarangan di Indonesia mencapai 10,3 juta hektar. Jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian di Indonesia, maka potensi perkarangan mencapai angka 14%. Sampai saat ini, sebagaian besar lahan perkarangan masih belum dimanfaatkan sebagai areal pertanaman.

Saya melihat Angka di atas merupakan angka yang luar biasa besar bagi potensi penghijauan sekaligus sumber penyedia bahan pangan. Tulisan kali ini akan memerikan gambaran tentang penyelamatan bumi dari rumah dan lingkungan sekitar dengan model pemanfaatan perkarangan dan lahan tidur untuk penghijauan dengan sayuran dan ikan.

Mari menanam sayuran di pekarangan rumah

Keterbatasan lahan perkarang yang sempit dapat disiasati dengan cara budidaya tanaman sayuran menggunakan bahan untuk bertanam dari paralon secara vertikultur dan bahan dari kantong plastik (polybag). Budidaya tanaman sayuran dengan teknologi vertikultur dan kantong plastic tidak membutuhkan lahan luas, dapat memanfaatkan ruang-ruang di atas got atau teras rumah.

image002

contoh pemanfaatan pekarangan dengan polybag

Penanaman secara vertikultur adalah pemeliharaan tanaman yang ditata secara tegak, baik tegak lurus atau mengarah vertical dengan sudut tertentu. Nah contohnya adalah berikut ini:

image003

sayuran dengan teknik vertikultur

Pagar juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman sayuran ini. Jenis tamanam yang dapat digunakan adalah jenis yang merambat. Salah satunya adalah kecipir.

Beda rumah juga akan berbeda teknologi penanaman sayurannya. Hal ini disebabkan karena luas lahannya yang berbeda-beda. Berikut ini basis komoditas dan contoh model budidaya di perkarang rumah:

image013

Dari mana pupuknya?

Tidak usah jauh-jauh mencari pupuk untuk tanaman sayuran, juga tidak perlu membeli, karena kita dapat membuatnya sendiri dari sampah rumah kita. Setidaknya ada dua tahapan dalam mengelola sampah yang dihasilkan oleh keluarga kita. Saya akan jabarkan sebagai berikut:

Yang pertama adalah pengelompokan sampah. Sampah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu sampah organik dan non-organik. sampah organik dan non-organik ini dapat dikelompokkan lagi menjadi dapat didaur ulang dan tidak dapat di daur ulang. Contohnya adalah gambar di bawah ini:

image004

Setelah pengelompokan sampah. Tahap selanjutnya adalah pengomposan. Sampah-sampah organik yang tidak dapat didaur ulang diolah menjadi pupuk kompos. Pengomposan ini dapat dilakukan dengan menggunakan drum bekas atau pagar bambu. Kompos ini dapat digunakan untuk menanam sayuran maupun tanaman obat dengan media polybag maupun vertikultur.

Menanam ikan di halaman rumah

Kita juga dapat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam ikan dengan menggunakan teknologi kolam terpal. Teknologi kolam terpal berkembang dari budidaya lele. Kolam terpal pertama kali ditemukan dan diujicobakan pada tahun 1999 oleh Bapak Mujarob, seorang petani di Bekasi, Jawa Barat. Tujuannya adalah apabila banjir ikan tidak hilang hanyut terbawa banjir. Kini, budidaya terpal telah berkembang di beberapa daerah.

Kolam terpal merupakan salah satu alternatif teknologi  budidaya yang diterapkan pada lahan sempit, lahan minim air, atau lahan yang tanahnya porous, terutama tanah berpasir. Artinya kolam terpal merupakan salah satu solusi untuk pengembangan budidaya ikan di lahan kritis dan sempit.  Oh ya, air kolam lele sangat bermanfaat untuk mengairi pohon jeruk atau belimbing karena  bisa membuat buahnya jauh lebih banyak dan lebih manis.

image007

contoh pemanfaatan lahan perkarangan yang luas dengan kolam ikan

Di desa Serdang Wetan kecamatan Legok Kabupaten Tangerang ada contoh menarik tentang pemanfaatan pekarangan untuk menanam ikan lele. Nama programnya adalah satu rumah seribu ekor lele yang diiniasi oleh kelompok budidaya ikan Karya Mitra Abadi. Nah, Pakan lelenya berasal dari sisa makanan orang-orang loh, seperti nasi sisa dan tulang-tulang ikan.  Nah ternyata, lele-lelenya tumbuh dan terawat dengan baik juga tuh.

image009

dokumentasi kegiatan di desa Serdang Wetan

Penting juga untuk dilakukan adalah membuat sumur resapan alias biopori. Sumur resapan ini adalah untuk menampung air kolam sekaligus persediaan air tanah di sekitar rumah.

image010

pembuatan sumur biopori

Akhir kata Sebenarnya dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk penghijauan sekaligus produksi bahan pangan merupakan bentuk kepedulian dan kemauan memberi manfaat kepada lingkungan sekitar. Meskipun, banyak orang yang berumah sangat sederhana. Selain itu, keuntungannya adalah makanan yang ditanam dilokasi akan lebih segar karenanya lebih bergizi. Dan tentunya, dapat mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga.

Di atas telah dijabarkan beberapa solusi yang dapat dicoba oleh kita di rumah masing-masing. Selamat mencoba.