Marc Prensky, seorang ahli pendidikan, membagi manusia menjadi 2, yakni generasi digital immigrant dan digital native. Digital native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal internet.Usia mereka saat ini mengubjak remaja. Sedangkan digital immigrant adalah generasi yang mengenal dunia internet setelah mereka dewasa.Digital Immigrants belajar bagaimana mengoperasikan komputer, membuat dan menggunakan e-mail dan jejaring sosial, namun proses itu berlangsung “terlambat” dibanding Digital Native yang mengenyam teknologi sejak dini.

Anak-anak dan remaja saat ini adalah penduduk asli dunia digital.Sedangkan orangtuanya dan orang dewasa lainnya hanyalah pendatang di dunia maya ini.Penduduk asli dan pendatang tentu memiliki karakteristik yang berbeda.Tentu si penduduk asli lebih menguasai lika-liku dunia digital dibandingkan dengan para pendatang. Pemahaman mereka yang tumbuh di era digital atau digital natives tentang internet menjadikan mereka satu tingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dibanding generasi digital immigrants.

Apakah dengan demikian otomatis digital native lebih cerdas menggunakan internet dengan lebih cerdas dibanding generasi yang lebih tua?

Kenyataannya tidak! Ada laporan menarik dari laporan tahunan Freshman Survey yang dilakukan UCLA, sepanjang tahun 2011, hanya 38,1% saja lulusannya yang memiliki kemampuan rata-rata mengoperasikan komputer.  Dan hanya 3,2% saja yang benar-benar serius menekuni studi yang berhubungan dengan komputer. Padahal, pelajar di Amerika sudah dikenalkan dengan skill komputer seperti memproses kata-kata, mengoperasikan aplikasi presentrasi, dan spreadsheet sejak sekolah menengah.

Mayoritas generasi digital native memanfaatkan teknologi untuk kesenangan dan bermain. Survei yang sama menyebutkan bahwa 94,8% lulusan perguruan tinggi selalu online di Facebook atau social media lain sejak SMA.

Angka di atas adalah gambaran umum tentang fenomena bahwa generasi digital native Manfaatkan Teknologi Sebatas Main-main. Kenyataan di Amerika sana, bahwa meskipun generasi muda cukup familiar dengan teknologi sejak lahir, bukan berarti mereka sangat paham teknologi. Justru mereka dinilai tidak produktif dengan teknologi, bahkan tak paham bagaimana menavigasikan aplikasi. Seorang profesor dari University of Notre Dame misalnya, mengaku bahwa mahasiswanya seringkali tak bisa menjalankan aplikasi komputer.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Sama saja!Generasi muda kita sebagain besarnya menggunaka internet hanya sebatas main-main dan tidak produktif.

Beberapa kasus juga cukup mencengangkan dan desktruktif.Ada beberapa kasus remaja putri yang “hilang” setelah berkenalan dengan seseorang melalui facebook.Prostitusi remaja juga menggunakan media sosial sebagai sarana promosi dan menjual diri.Belum lagi perjudian terselubung ataupun terang-terangan.Ditambah lagi jerat pornografi yang merajalela.

Di sisi lain. Ada juga yang menggunakan internet secara cerdas dan menjadikannya ladang yang produktif untuk menopang hidupnya. Bahkan datang dari kalangan dewasa alias digital immigrant juga dari kalangan kecil.

Hary van Yogya adalah salah satu contoh orang yang dengan cerdas memanfaatkan internet untuk menopang kehidupannya. Hary Van yogya adalah tukang becak yang punya Facebook dan menggunakan Facebook untuk memasarkan jasa tukang becaknya, bahkan ada turis luar negeri yang datang ke Yogyakarta karena terpikat untuk menggunakan jasa keliling kota menggunakan becak.

Lain Hary, lain juga dengan Valencia Randa yang memanfaatkan kekuatan Internet untuk menyelamatkan sesama lewat aksi bertajuk Blood For Life. Valencia menjadi pengantara bagi mereka yang membutuhkan donor darah dan mereka yang mau menjadi pendonor.

Habibie Afsyah, seorang anak muda penderita Tuna Daksa (cacat tubuh, tidak bisa berjalan dan memegang secara sempurna) tapi sukses dengan bisnis Internet Marketing. Bahkan disebut sebagai suhu internet marketing dan telah mengisi berbagai seminar diberbagai kota.

Kenapa ada yang hanya bermain-main dengan internet tapi juga sebaliknya ada yang [roduktif berkat internet? Jawabannya adalah pilihan dari masing-masing individu. Apa mau destuktif atau produktif menggunakan internet. Jika ingin produktif, tentu saja seseorang dituntuk kreatif dan cerdas dalam menggunakan internet sehingga potensi dirinya terdongkrak tinggi.

Maka wajar saja pendapat Dahlan Iskan, bahwa dengan internet (facebook, youtube, email, dst) tidak ada lagi perbedaan antara golongan bawah dan golongan atas. Dengan internet, kesempatan itu sama bagi golongan bawah yang kreatif dapat menembus barikade dan blokade sistem bisnis yang lama. Sehingga Selain motor, internet adalah revolusi yang membawa orang masyarakat menengah untuk bersaing dengan kalangan atas

Akhir kata, Internet hanyalah media. Sebagai media ia memiliki dua sisi seperti pisau bermata dua. Terserah anda mau menggunakannya seperti apa. Mau digunakan untuk menusuk diri sendiri atau membantu anda menyelesaikan pekerjaan. Karena cerdas berinternet itu sebuah pilihan!