Di tengah krisis yang mengguncang dunia saat ini, banyak bisnis yang terimbas sehingga memengaruhi produksi maupun penjualan. Krisis menyebabkan perubahan dalam dinamika bisnis. Sehingga diperlukan cara agar bisnis tetap dapat bertahan di tengah persaingan. Terlebih adanya desakan terkait dengan kelestarian lingkungan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan. Begitulah kata pepatah. Perubahan juga terjadi di berbagai hal, termasuk dalam bisnis. Bahkan Bill Gates lebih keras lagi dengan mengatakan bahwa ”Siapapun yang tidak mau berubah akan dijungkirbalikkan karena memang demikianlah aturan di dunia ini.

Karena itu, Inovasi menjadi hal penting dalam kelangsungan hidup sebuah bisnis. Terlebih, sejatinya Pengusaha atau wiraswastawan adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup.

Sehingga, dengan kata lain esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Salah satu inovasi ini adalah dengan menerapkan konsep Blue Economy dalam kegiatan produksi bisnis.

Konsep Blue Economy

Penggagas konsep Blue Economy adalah Prof. Gunter Pauli seorang Peneliti dari Amerika Serikat, diluncurkan pada tahun 2010 di Hawaii. Blue Economy secara konseptual ditujukan untuk menjawab semua kebutuhan dasar dengan apa yang kita miliki. Blue Economy, seperti yang dijabarkan oleh Aji Sularso, merupakan suatu cara baru dalam merancang bisnis yaitu memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam mengalirkan sistem, dimana limbah suatu produk menjadi input untuk menciptakan suatu aliran uang  (cash flow) baru. Dengan cara tersebut akan tercipta tenaga kerja, modal sosial terbentuk dan pendapatan bertambah, sambil menjaga lingkungan untuk menyangga kehidupan kita tidak lagi rusak dan terpolusi.

Contoh inovasi produk dari Blue Economy yang sudah dipasarkan antara lain pembuatan plastik dari polusi asap pabrik berupa CO2 yang diproses dengan katalis Cinc dan Cobalt, pembuatan super antena dengan super formula terbuat dari bahan plastik yang jauh lebih murah dari antene dengan bahan logam dll.

Contoh lain penerapan Blue Economy seperti yang dilakukan oleh STP Jakarta Kampus Serang yang mensinergikan budidaya udang dengan kegiatan lain sesuai dengan pendekatan Blue Economy, yaitu pemanfaatan limbah budidaya untuk pertumbuhan vegetasi mangrove dan bandeng, bunga mangrove untuk pengembangan lebah madu, daun mangrove untuk konsumsi binatang ruminansia seperti kambing, serta pemanfaatan lahan sekitar mangrove untuk budidaya kepiting. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi limbah yang terbuang tanpa dimanfaatkan (zero waste).

Dari dua contoh di atas, maka esensi konsep blue economy ala Gunter Pauli tersebut pada intinya memberikan peluang untuk mengembangkan investasi dan bisnis yang lebih menguntungkan secara ekonomi dan ramah lingkungan yaitu melalui pengelolaan sumberdaya alam yang lebih efisien dan ramah lingkungan, mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan bersih, menghasilkan produk yang berkualitas dan nilai tambah ekonomi lebih besar, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan memberikan kesempatan untuk menghasilkan benefit kepada setiap kontributor secara lebih adil. Dengan satu ciri penting yaitu produk tanpa sampah, karena limbah pun diolah menjadi produki bernilai ekonomi.

Konsep blue economy merupakan konsep inovasi bisnis yang menarik dan dapat diterapkan oleh wirausaha pada bidang bisnis apapun agar bisnis dapat tetap bertahan dan menguntungkan ditengah persaingan yang ketat. tentu disesuaikan dengan kondisi bisnis yang dijalankan. Apakah anda tertarik untuk mencobanya?

Bahan rujukan:

Aji Sularso. Industrialisasi Vs Blue Economy. http://ajisularso.com/industrialisasi-vs-blue-economy/

http://www.bpsdmkp.kkp.go.id/home.php/detail_berita/peningkatan_kapasitas_sdm_mendukung_implementasi_ekonomi_biru#sthash.pQ5l1P9a.dpbs