Kata siapa mau sehat harus mahal? Kita bahkan dapat memulai dari kebiasaan nenek moyang kita dengan mengkonsumsi jamu yang bahan bakunya dapat kita tanam sendiri di rumah.Budaya bangsa Indonesia telah mewariskan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi obat tradisional untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta rehabilitasi kesehatan.

Pada tahun 1980-an, WHO menghimbau Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, agar menggunakan bahan lokal alami untuk pengobatan.Dan kini pemanfaatan herbal Bahan Alam (OBA) di dunia medis telah meningkat di seluruh dunia. Kesadaran dalam menempuh upaya kesehatan preventif dan pencarian obat yang bersifat aman dan sedikit mungkin memberi efek samping, suatu efek-efek yang banyak dimiliki oleh kebanyakan obat-obat sintetik, mendorong untuk “kembali ke alam” sehingga dalam pengobatan orang semakin menginginkan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Januwati memaparkan bahwa Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia pada tahun 2008 memiliki data menarik, bahwa persentase pertumbuhanan obat herbal dari tahun ke tahun meningkat terus dan berada di atas rata-rata pertumbuhan obat modern. Banyak alasan mengapa obat herbal cenderung tumbuh subur.  Obat herbal diyakini lebih aman. Dari sisi produk dan kompetensi tersedia cukup banyak.  Dari sisi investasi juga tidak terlalu tinggi. Sehingga bagi perusahaan farmasi merupakan potensi pasar sangat menjanjikan, baik domestik maupun ekspor.

Asal usul Jamu

Menurut Theresa C.Y Liong dalam bukunya yang berjudul The Martha Tilaar Way disebutkan bahwa jamu merupakan unsur penting kebudayaan Jawa yang menyebar sampai ke pulau Bali pada zaman Majapahit. Jamu biasanya digunakan untuk kesehatan dan kecantikan.Jamu dibuat dari dedauanan, akar-akar, dan rempah-rempah yang telah dikeringkan.Jamu diracik menurut resep tradisonal yang telah diturunkan sejak beberapa generasi.Racikan jamu yang berupa campuran bahan yang telah dikeringkan itu digiling halus lalu diolah menjadi serbuk, pil, minuman, dan balsam atau obat gosok. Perawatan cara jamu dilakukan dengan mengkonsumsi campuran ini, sedangkan untuk balsam atau obat gosok dipakai untuk pijat,.

Dalam buku yang sama Liong juga memaparkan bahwa jamu sudah ada sejak zaman neolitik. Para sejarawan menemukan bukti bahwa jamu dibuat pada zaman prasejarah. Di Museum Nasonal misalnya, terdapat koleksi lumpang dan lesung serta alu dan cobeknya yang terbuat dar batu zaman neolitik, yang dipakai untuk menggiling atau menumbuk dedaunan menjadi ekstrak dan serbuk. Selain itu, di candi Borobudur juga terdapat relief yang melukiskan pembuatan jamu, pahatan tu melukiskan penumbukan daun-daunan yang kemudian dioleskan ke dalam tubuh wanita, yang rupanya ditunjukan untuk kesehatan dan kecantkan para pemakainya. Keterangan asal usul jamu juga terdapat dalam dokumentasi kuno berupa tulisan tangan pada daun lontar yang dtemukan di Bali dan di keraton-keraton Jawa.

Perkembangan industri jamu

Perkembangan industri jamu seperti yang dipaparkan oleh Liong mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi zaman yang berubah-ubah. Adapun periodedisasi perkembangan industry jamu adalah sebagai berikut:

Industri jamu di Indonesia berawal pada permulaan perang dunia ke II, pada zaman pendudukan jepang tahun 1942-1994.Karena kekurangan obat, pemerintah jepang, menghimbau agar jamu dgunakan sebagai obat lokal alternatif. Hal ini diperkuat dengan didirikannya komite Pengobatan Tradisional Indonesia oleh profeseor Sato yang menjabat kepala departemen kesehatan pada waktu itu, komite yang dirikan pada bulan juni 1944 ini dikepalai oleh ketua ikatan dokter Indonesia, ia bertugas mengatur para pengusaha jamu tradisional. Pengobatan dengan jamu tradisional terus digunakan selama perang kemerdekaan Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1950), industri jamu tumbuh pesat, hal ini disebabkan karena pengobatan modern sulit didapat pada waktu itu.Sejak itu, pengusaha jamu mencoba menarik perhatian umum dengan mengadakan konferensi, pameran, seminar, dan penelitian ilmiah yang yang sangat mendorong perkembangan industri jamu.

Pada tahun 1980-an sesuai dengan imbauan WHO untuk menggunakan bahan lokal alami untuk pengobatan. Pemerintah Indonesia menganjurkan agar dilakukan penanaman tanaman obat dan didirikan delapan pusat peneltian guna mencapai suatu sistem tata tertib pada industri jamu yang belum teratur.

Pada tahun 1990-an, adanya krisis ekonomi 1997 telah membuat biaya produksi farmasi meningkat dan harga obat menjadi mahal, sehingga situasi ini mendorong masyarakat menggunakan bahan alami, sehingga industry jamu kembali bergairah.

Januwati dalam tuliannya melaporkan bahwan saat ini industri jamu terus berinovasi dan terstandar.Standarisasi simplisia yang digunakan sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monografi terbitan resmi dari pemerintah sebagai pembina dan pengawasan dan mengikuti acuan sediaan herbal yang telah ada (BPOM, 2006), sehingga dapat memenuhi tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (Mutu-Aman-Khasiat). Bahan baku yang sudah distandarisasi tersebut, mempunyai perbedaan zat aktif sangat kecil, demikian juga yang terdapat dalam setiap sediaan minuman fungsional (tablet, kapsul, sirup).  Dengan standarisasi ini, diharapkan adanya  korelasi kuat antara manfaat dan kandungan aktif dapat dicapai.

Sehat dari pekarangan

Permasalahan terbesar industry jamu di abad ini menurut Liong adalah sangat berkurangnya tanaman obat yang masih tumbuh di alam bebas. Pembakaran hutan, penebangan hutan rimba secara besar-besaran, dan eksploitasi yang berlebihan terhadap alam Indonesia sangat mengancam keberadaan jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan.

Selain itu ketersedian lahan juga akan tetap menjadi permasalah pokok di sebagian besar Negara di dunia seiring dengan semakin besarnya jumlah penduduk, peningkatan daya beli dan dinamika iklim global. Upaya membangun ketahanan dan kesehatan keluarga, salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, diantaranya melalui pemanfaatan lahan perkarangan.

Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tinggal. Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan sesuai dengan selera dan keinginan kita. Misalnya dengan menanam tanaman produktif seperti tanaman hias, buah, sayuran, rempah-rempah dan obat-obatan.Lahan pekarangan merupakan salah satu sumber potensial untuk menaman tanaman penghasil obat alternatif yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Tidak usah khawatir dengan lahan sempit di pekarangan.Karena lahan yang sempit di pekarangan rumah, bukan halangan bagi kita untuk menanam tanaman obat. Teknik hidroponik dapat menjadi alternatif menanam berbagai macam tanaman obat.

Keuntungan Budidaya Tanaman Obat di Pekarangan Rumah adalah sebagai alternatif pengganti obat herbal yang ada di pasaran.Sehingga andakita pun dapat menghemat uang karena kebutuhan obat keluarga terpenuhi dari rumah sendiri. Selain itu, jika hasil budidaya berlebih, maka kita dapat menjualnya yang uangnya dapat menambah penghasilan keluarga.

Contoh aplikasi penerapan tanaman obat model Rumah Pangan Lestari di pekarangan sesuai dengan luas perkarangan

No Kelompok Lahan Model Budidaya Basis Komoditas
1 Rumah tipe 21 (luas tanah sekitar 36 m2) tanpa halaman –                      Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)

–                      Pot/polibag/tanam langsung

Benih/bibit

–                      Kencur, antana, gempur batu, daun jinten, sambiloto, jahe merah, binahong, sirih

–                      Jahe, kencur, kunyit, temulawak, kumis kucing

2 Rumah tipe 36 (luas tanah sekitar 72 m2) halaman sempit –                      Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)

–                      Pot/polibag/tanam langsung

Benih/bibit

–                      Kencur, antana, gempur batu, daun jinten, sambiloto, jahe merah, binahong, sirih

–                      Jahe, kencur, kunyit, temulawak, sirih hijau/merah, pegagan, lidah buaya

3 Rumah tipe 45 (luas tanah sekitar 90 m2) halaman sedang –                      Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)

–                      Pot/polibag/tanam langsung

Benih/bibit

–                      Kencur, antana, gempur batu, daun jinten, sambiloto, jahe merah, binahong, sirih

–                      Jahe, kencur, kunyit, temulawak, sirih hijau/merah, pegagan, lidah buaya, sambiloto, kumis kucing, gempur batu

4 Rumah tipe 54 (luas tanah sekitar 120 m2) halaman luas –                      Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)

–                      Pot/polibag/tanam langsung

Benih/bibit

–                      Kencur, antana, gempur batu, daun jinten, sambiloto, jahe merah, binahong, sirih

–                      Jahe, kencur, kunyit, temulawak, sirih hijau/merah, pegagan, lidah buaya, sambiloto, kumis kucing

Kepustakaan:

Januwati, M. Saintifikasi Jamu : Membangun kesejahteraan dan Kesehatan Masyarakat. Diturunkan dari http://balittro.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/informasi-terkini/112-saintifikasi-jamu-membangun-kesejahteraan-dan-kesehatan-masyarakat

Liong , Theresa Catharina Ying. The Martha Tilaar Way. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, [2010]

Mardharini, Maesti, dkk. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Bogor; Balai Pengkajian dan Pengembanga Teknologi Pertanian. [2011]