tulisan ketiga dari Rantai tataniaga dan fungsi-fungsi pada tataniaga.

Dalam penyaluran produk dari produsen ke konsumen terdapat efisiensi yang disebut dengan efisiensi tataniaga. Menurut Mubyarto (dalam Yogi dan Rantaningtyas, 2012: 118) tataniaga dinyatakan efisien apabila mampu menyampaikan produk dari tangan produsen ke konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya dan adanya perlakuan yang adil dalam pembagian keuntungan diantara para lemabaga pelaku tataniaga. Yogi dan Rantaningtyas (2012: 118) mengatakan bahwa suatu saluran tataniaga dianggap lebih efisien dibanding dengan saluran tataniaga yang lain apabila margin tataniaganya lebih rendah dan pembagian keuntungannya adil sesuai dengan jumlah pengorbanan yang disumbangkan pada saluran tataniaga tersebut.

Dalam saluran tataniaga di bidang pertanian, pada umumnya yang mendapatkan keuntungan tertingi adalah pedagang besar, dan keuntungan terendah adalah petani produsen. Padahal pengorbanan tertinggi dikeluarkan oleh petani produsen. Pedagang dalam proses pengaliran produk hasil pertanian hanya dalam hitungan hari, sedangkan petani produsen membutuhkan waktu yang lebih lama dapat mencapai tiga bulan, yaitu dari penanaman sampai pemanenan. Dengan demikian seharusnya petani produsenlah yang layak mendapatkan keuntungan tertinggi.

Salah satu penilaian efisiensi tataniaga adalah bagan harga yang diterima oleh petani atau farmer share. Rumus farmer share adalah sebagai berikut:

Fs=Hp/Hk X 100%

Keterangan:

Fs = Farmer Share

Hp = Harga yang diterima petani

Hk = Harga yang dibayar konsumen

Apabila nilai farmer share semakin tinggi, maka semakin besar bagian yang diterima petani. Hal ini menurut Yogi dan Rantaningtyas (2012: 119) mencerminkan keadilan pembagian tataniaga. Dengan demikian semakin tinggi farmer share maka semakin efisien tataniaga tersebut.

Indikator lain untuk mengukur efisiensi tataniaga adalah indicator yang diajukan oleh Calcin dan Hu Mei Wang (1978). Menurut Calcin dan Hu Mei Wang (dalam Yogi dan Rantaningtyas, 2012: 119) efisiensi tataniaga dapat diukur dengan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknis mengukur efisiensi tataniaga berdasarkan biaya yang dikeluarkan dbagi dengan berat dan jarak produk dari produsen ke konsumen. Sedangkan efisiensi ekonomis mengukur efisiensi tataniaga berdasarkan jumlah keuntungan yang dambl oleh pedagang-pedagang yang terlibat dibagi dengan biaya tataniaga.

Efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis tataniaga di rumuskan sebagai berikut:

Indek efisiensi teknis

Tij= Vij/wij/Dij

Indeks efisiensi ekonomis

rumus efisiensi

Keterangan:

Tij= efisiensi teknis

Eij= efisiensi ekonomis

Wij= berat akhir produk

Dij= total jarak yang ditempuh

k= jenis pedagang yang terlibat

𝞹= keuntungan

I= keuntungan

Dari rumus tersebut terlihat bahwa jika nilai efesiensi teknisnya kecil artinya biaya tataniaga yang di keluarkan akan membawa jumlah produk hasil pertanan yang banyak atau tinggi dengan jarak tempuh yang jauh. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan adalah efisen. Sedangkan jika efsiensi ekonomisnya rendah maka jumlah keuntungan yang diambil para pelaku tataniaga kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Apabila keuntungan yang di ambil kecil maka perbedaan harga antar produsen dengan konsumen rendah. Hal itu bisa mengakibatkan harga di tingkat produsen tinggi dan harga di tingkat konsumen rendah. Dengan demikian bisa mensejahterakan petani dan menolong konsumen. Dari hal tersebut apabila nilai efesiensi ekonomisnya rendah maka tataniaga tersebut adalah efisien.

Menurut hemat penulis, efisiensi tataniaga juga dapat dilakukan dengan memotong rantai tataniaga. Misalnya pada rantai tataniaga usaha ternak terlihat bahwa rantainya cukup panjang, jika rantai tersebut dipangkas dari peternak ke pedagang pengecer tentu saja akan lebih efisien, dimana peternak bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dan pedagang pengecer mendapatkan harga yang lebih murah jika dibandingkan harus membeli ke pedagang besar.

Kepustakaan:

Yogi dan Sudrajati Rantaningtyas, 2012. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bandung: Penerbit ITB