image

Seperti akhir tahun lalu, kali ini saya juga ingin menulis catatan perjalanan yang sudah terlalui di tahun 2015 ini. Setiap perjalanan memang memberikan cerita tersendiri. Mari kita mulai buka cerita perjalanan yang berbeda dari tahun sebelumnya

Tahun 2015 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu banyak perjalanan keluar provinsi Banten.  Tahun 2015 ini tidak ada perjalanan jarak jauh keluar Banten, tidak ada cerita naik pesawat, kereta, atau kapal laut.

Yah, tahun ini lebih banyak keliling ke pelosok Banten. Seiring dengan perkembangan usaha yang melebarkan pasarnya. Jadi kendaraan yang dinaiki pun berganti truk dan losbak meniti satu tempat ke tempat lain. Seperti membuka mata untuk melihat daerah sendiri.

Tahun 2015 ini genap sudah semua kabupaten kota se Banten terjamahi. Sebelumnya saya belum pernah menjejakan kaki di Kabupaten Lebak, Rangkasbitung khususnya. Ternyata perjalanan bisnis saya ada yang ke arah sana.

Perjalanan Pun Dimulai

Selain Tangerang, daerah pertama yang saya disinggahi adalah Pandeglang. Tak tanggung-tanggung, perjalanan kali ini lebih jauh dari dua tahun sebelumnya yang hanya ke Mandalawangi. Kota pelajar Pandeglang, Menes tempat berdirinya ormas besar Mathlaul Anwar adalah lokasi pertama yang saya jejaki. selanjutnya adalah kecamatan Pulosari, tidak jauh dari Menes, hanya naik-naik gunung dikit. Saya ingat perjalanan itu berangkat jam 4 pagi, pulang jam 4 pagi lagi.

Lebak pun menyusul beberapa bulan kemudian. Tak tanggung-tanggung lokasi pertama jaraknya 114 Km dari rumah, namanya Cigemblong. Menyusuri Rangkasbitung menuju Malingping. Saya sangat ingat di bangunkan jam 1 pagi buta buat perjalanan ini. Jalanannya kecil, naik turun dan sunyi ditambah kabut yang bikin suasananya benar-benar menegangkan. Sampai juga di lokasi jam 6 pagi, walaupun ketika pulangnya jauh lebih lama, memilih jalur lain melewati Leuidamar yang kesohor dengan masyarakat adat Baduynya.

image

Sampai Tangerang jam 2 siang. Droping barang lanjut ke lokasi ke dua, Kecamatan Cibadak, sepelemparan batu dari Rangkasbitung. Untuk menghemat biaya, saya selalu menerapkan sistem distribusi dua titik dalam satu hari. Dan perjalanan pertama ke Lebak pun berakhir jam 10 malam, lebih dari 20 jam perjalanan.

Hari berganti, satu bulan kemudian saya kembali melakukan perjalanan ke Lebak. Cipanas lokasi ke tiga. Daerah ini bersisian dengan Jasinga Bogor. Dari peta yang disediakan si mbah google, saya diarahkan lewat Tigaraksa, Tenjo, Jasinga, lalu pasar Gajrug yang jadi pemberhentian. Aneh juga berangkat dari Tangerang Banten ke Cipanas Banten harus melewatin Bogor Jawa Barat.

image

Saya hanya mengirim pakan saja di sini, beberapa hari kemudian orang saya yang mengirim itik ke sini. Nah ketika saya mengirim pakan ke tempat ini, perjalanannya sangat lambat. Banyak titik jalan yang dicor, membuat waktu perjalanannya makan waktu lama, apalagi selesai nurunin barang jam sepuluh malam. Sopir yang saya pakai ngajakin nginep di rumah temannya. Takut pulang, karena jalan sepi dan gelap. Akhirnya saya juga ikut nginep, tapi jangan bayangin tidur di kasur soalnya diajak tidur di bale-bale rumah bambu tepi sungai besar. Dingin dan tak ada nyamuk yang ganggu, posisi lelah membuat mata cepat terlelap. Esok pagi, ketika langit cerah baru kami pulang.

Dan yang paling gila adalah perjalanan terakhir yang lebih dari 300 km dalam sehari. Di mulai dari Cisoka Tangerang, kami kemudian menuju Maja ke Rangkasbitung, masuk ke Pandeglang menuju titik ke dua di pagelaran Pandeglang. Dari Pagelaran menyusuri ujung barat Banten, ke Labuan turun ke arah selatan melewati Panimbang. Perjalanan belum usai, terus menyusuri pantai selatan Banten yang membiru indah, di beberapa titik ada karangnya, melewati Malimping sebelum menyentuh Bayah ke Pelabuhan Ratu, mobil minggir untuk penurunan akhir di Cihara.

image

Punggung rasanya ngilu. Di setiap pemberhentian hanya sebentar dan langsung cabut. Istirahat lebih lama di alun-alun Malimping. Jalanan yang dilalui juga tidak semuanya mulus, di beberapa jalan juga sedang dibeton. Arah pulang dari Malingping ke Cigemblong juga rusak parah, knalpot mobil sampai copot. Alhamdulillah pulang dengan selamat, meski berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 6 pagi lagi. Mirip lagu yah.

Saya tersadar bahwa Banten luas. Alamnya indah, lautnya begitu luas dan indah. Sangat potensial untuk pariwisata. Pohon sawit juga banyak ditanam, satu-satunya pabrik Cpo di jawa juga ada di Banten, kebetulan terlewati di Malingping. Meski demikian, jalannya belum semuanya bagus. Akses transportasinya masih terbatas.

Selain itu, Pandeglang dan Lebak terlalu luas. Bayangkan dari Cihara ke  Rangkasbitung ibukota kabupaten Lebak waktu tempuhnya 5 sd 6 jam perjalanan. Atau dari Sumur ujung kulon ke Pandeglang Kota waktu tempuhnya 5 sd 6 jam perjalanan. Bayangkan saja mau buat akte kelahiran sejauh itu. Padahal jarak dari Rangkasbitung ke Pandeglang kota hanya satu jam kurang.

Saya mendoakan semoga Pandeglang cepat dimekarkan untuk memudahkan pembangunan dan pelayanan publik di sana. Begitu juga dengan Lebak, semoga kabupaten Cilangkahan dengan ibukota Malingping-nya cepat terwujud.

Dan demikianlah perjalanan tahun 2015 yang dapat saya ceritakan.

Posted from WordPress for Android