Tag

image

Merek waralaba lokal

Waralaba dalam PP No 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, di definisikan sebagai berikut:
“Waralaba adalah hak khusus yang di miliki oleh orang  perorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.”

Dari definisi di atas, waralaba memiliki setidaknya tiga elemen yaitu sistem bisnis, barang dan jasa yang terbukti berhasil (penekanan pada merek), dan perjanjian waralaba. Tulisan kali ini akan membahas ketiga elemen di atas dengan referensi dari buku Percaturan Waralaba Indonesia karya Amir Karamoy

(lihat resensi buku di sini).

Merek

Merek atau dalam bahasa inggris disebut trademark, mempunyai pengertian yang sama dengan brand name. Amir Karamoy mendefinisikan merek sebagai tanda (mark) yang diberikan atau dilekatkan kepada suatu  atau jasa untuk menunjukan kekhususan dan perbedaannya dengan produk atau jasa lain.

Merek dalam bisnis memiliki peran penting. Merek mewakili keseluruhan citra dan reputasi perusahaan, serta kualitas produk dan jasa yang ditawarkan. Konsumen pun cenderung membedakan kualitas suatu produk atau jasa yang sejenis berdasarkan mereknya. Sehingga konsumen cenderung membeli suatu produk atau jasa karena mereknya, bukan karena produk atau jasa itu sendiri. Bahkan banyak pakar berpendapat bahwa merek lebih berharga dari pada produk atau jasa itu sendiri.

Salah satu persyaratan bagi perusahaan yang ingin mewaralabakan bisnisnya ialah memiliki merek yang dikenal luas. Amir Karamoy beranggapan bahwa merek seharusnya dijadikan salah satu syarat utama bagi perusahaan yang berminat mewaralabakan bisnisnya, karena merek (terkenal) menjanjikan tersedianya pasar atau pelanggan.

Amir Karamoy melanjutkan bahwa salah satu keunggulan waralaba adalah ketika pihak penerima waralaba atau terwalaba memulai usahanya, tidak perlu repot melakukan promosi dan pemasaran, karena pelanggan telah tersedia. berbeda jika kita memulai bisnis independen (non waralaba), pasti disibukkan dengan promosi dan pemasaran yang biayanya tidak sedikit.

Sistem Bisnis

Merek terkenal dan produk berkualitas tidak datang dengan  sendirinya. Merek terkenal dan produk berkualitas berasal dari sistem bisnis yang baik. Sistem bisnis yang baik akan membangun produk bermutu dan dengan sendirinya mengembangkan citra merek yang positif. Sistem bisnis itu seperti ‘roh’ bagi merek.

Sistem bisnis sendiri menurut Amir Karamoy adalah totalitas dari proses-proses dan keteraturan kerja yang terintegrasi dalam manajemen / organisasi, administrasi, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, yang menghasilkan keluaran (output) produk atau jasa yang kualitasnya sesuai dengan standar yang ditentukan.

Sistem bisnis biasanya dituangkan ke dalama bentuk SOP (standard operating procedures) yang menjadi tuntunan bekerja dan berbisnis perusahaan. SOP dari kegiatan-kegiatan maupun program dibuat dalam bentuk buku (dapat pula DVD dan media lain) yang disebut manual waralaba. Manual waralaba sendiri merupakan salah satu kriteria hukum yang dipersyaratkan dalam PP No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba.

Sistem bisnis ini menjadi salah satu elemen dan keunggulan waralaba. Membeli waralaba, dalam kedudukan sebagai terwalaba, berarti membeli suatu konsep usaha yang sudah mapan atau sistem bisnis yang sudah teruji. Terwalaba tidak usaha membuat konsep bisnis sendiri kerena sudah ada. Dengan demikian, proses uji coba yang beresiko ketika memulia dan menjalankan bisnis, relative sudah tidak ada lagi.

Amir Karamoy menambahkan bahwa sebagai terwalaba tidak perlu lagi repot untuk membuat standar produk/bahan baku, sistem pembukuan, sistem pemasaran sampai dengan sistem operasional usaha. Salah satu keunggulan waralaba sebenarnya terletak pada dimilikinya SOP yang baku dalam rangka pengawasan akan kualitas, baik produk, cara kerja, pelayanan, sampai dengan pilihan jenis dan spesifikasi peralatan, dll.

Perjanjian Waralaba

Dari pembahasan di atas waralaba adalah lisensi merek sekaligus sistem bisnis atau sistem penjualan/ pemasaran yang telah teruji. Adanya imbalan berupa fee atas izin penggunaan atau pemanfaatan merek dan sistem bisnis. maka kerjasama usaha atau bisnis dikukuhkan dalam suatu perjanjian waralaba.

Amir Karamoy beranggapan bahwa dengan adanya perjanjian waralaba maka dapat dikatakan bahwa waralaba pada dasarnya adalah peristiwa peminjaman atau penggunaan/pemanfaatan HKI (utamanya merek) serta sistem bisnis oleh pihak lain dari pemilik atau penguasa HKI, berdasarkan perjanjian waralaba. Artinya, bila merek dan sistem bisnis tidak dipinjamkan atau digunakan/dimanfaatkan kepada pihak lain, digunakan sendiri, maka waralaba belum terjadi. Yang terjadi adalah pembangunan gerai milik sendiri.

Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa hal yang membedakan antara gerai milik sendiri dan dikelola sendiri dengan gerai terwaralaba adalah adanya perjanjian. Maksudnya, gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri, tidak ada perjanjian. Sedangkan gerai waralaba, pasti memiliki perjanjian antara perwarala dengan terwalaba.

Pengertian perjanjian waralaba menurut Amir Karamoy adalah perjanjian (waralaba) antara pewaralaba dengan terwalaba yang bermitra dalam rangka memasarkan suatu produk atau jasa terkait dengan penggunaan merek (HKI) dan sistem bisnis yang baku milik pewaralaba, serta kewajiban membayar fee oleh terwaralaba untuk jangka waktu tertentu.

Berdasarkan PP No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, perjanjian waralaba memuat klausul paling sedikit:
1. Nama dan alamat para pihak
2. Jenis HKI (Hak Kekayan Intelektual)
3. Kegiatan usaha
4. Hak dak kewajiban para pihak
5. Bantuan, fasilitas, bimbingan operasional, pelatihan, dan pemasaran yang diberikan pemberi waralaba kepada penerima waralaba
6. Wilayah usaha
7. Jangka waktu perjanjian
8. Tata cara pembayaran imbalan
9. Kepemilikan, perubahan kepemilikan, dan hak ahli waris
10. Penyelesaian sengketa
11. Tata cara perpanjangan, pengakhiran, dan pemutusan perjanjian.

Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, perjanjian waralaba yang ditulis dalam bahasa asing, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disampaikan paling sedikit dua minggu sebelum penandatanganan perjanjian. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada calon terwaralaba untuk dipelajari terlebih dahulu. Ditetapkan pula, bahwa perjanjian waralaba mendudukkan para pihak secara setara dan terhadap mereka berlaku hukum Indonesia.