Tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di istana kepresidenan. Saya berkesempatan lebih dari sekali berkunjung ke sana. Bukan buat plesiran, apalagi berburu pokemon, tapi mengantar produk yang dibeli istana.

Di kesempatan kedua kalinya menginjakkan kaki di istana, saya malah terngiang kejadian-kejadian silam. Bukan kejadian yang terlalu mengenakan. Penggalan ingatan tentang hinaan-hinaan yang pernah didapat saat memulai usaha.

Sebelum mengulas apa saja itu. Saya ingin mengajak anda untuk terbang dulu ke negeri yang jauh di sana, terlampau waktu berpuluh tahun lalu.

Yah, di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari airuntuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “DENDAM POSITIF”Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.

Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. “Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak.

Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Tahukah Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia. Orang itu adalah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai 2011 menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Seperti kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi di atas, saya pun pernah mendapatkan momen di mana pernah dihina dan merasa direndahkan.

Kembali lagi ke istana. Yang membuat saya bisa menginjakkan kaki di sana adalah posisi perusahaan yang menjadi supplier Bran untuk pakan rusa. Bran yang dijual berasal dari Bogasari Flour Mils. Tapi tahukah anda bagaimana pengalaman pertama saya saat membeli produk bogasari? Tidak terlalu menyenangkan!

Saat itu, 2013. Sebagai peternak yang sedang belajar mengembangkan usahanya, kami berusaha mencari pakan langsung ke pabrik. Sebagai upaya untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Kami pun melakukan pembelian pertama, ternyata tidak bisa membeli langsung ke Bogasari, mesti ke perusahaan distributor. Akhirnya dapat juga DO menggunakan sebuah perusahaan di Jaksel.

Pengalaman yang paling tidak menyenangkan adalah sikap security pabriknya yang songong. Saya disebut kenek, padahal saya bayar lebih dari sepuluh juta buat DO. Bayangkan, disebut kenek. Kesel dan mangkel, jadi konsumen mau ambil barang yang sudah dibayar jauh-jauh hari malah disebut kenek mobil.

Tapi hanya butuh dua tahun untuk mengubah keadaaan. Penghujung tahun 2015, saat senja menyergap saya dapat telpon masuk, mengenalkan dirinya dari pihak bogasari. Ternyata Bogasari mengakuisisi PT. BIG di Tangerang, ia menawarkan beberapa produk cuci gudang dari pabrik untuk pakan ternak. Dan saya pun setuju untuk beli, harga pabrik selalu lebih murah dibandingkan harga distributor mana pun.

Ternyata orang itu adalah pimpinan marketing di Bogasari pusat. Untuk pembelian selanjutnya Kami pun diminta mengurus berbagai persyaratan untuk bisa mengeluarkan DO sendiri. Alhamdulillah sejak januari 2016 DO sudah atas nama CV. Nurbarokah Unggul Sejahtera. Saat ini, dengan kekuatan digital weblog kami malah bisa mengalahkan situs bogasari untuk term-term by product bogasari seperti pollard dan bran. Sampai akhirnya ada pemenang tender istana yang menemukan nomor telpon saya via simbah Google.

image

Tapi hinaan yang paling saya ingat adalah ketika kami pertama kali terjun ke B to B. Kami menjadi suplier untuk itik pada tahun 2014 untuk sebuah perusahaan. Hal yang membuat saya dihina adalah saat penagihan, saya sampai dibuat bengong.

Saat itu saya menagih ke direktur sebuah perusahaan yang jadi konsumen kami. Jumlah penagihannya lumayan bagi peternak seperti saya, nilainya lebih dari 50 jt. Masalahnya saya lihat dia gak bawa uang sebanyak itu. Ia Lihat memo terus ngambil buku kecil seukuran buku kwitansi. Coret-coret, trus tanda tangan dan diberikan kepada saya. Respon saya saat itu polos sekali,
“Bukan pake uang cash, pak?”
Si direktur cengengesan “Ini cek, pak yunus! Emang pak yunus belum pernah lihat cek?”
“Belum, pak”
Tawanya pecah, geleng-geleng kepala. “Pak yunus, itu sampeyan punya rekening bank, masa cek gak tau?”
Si direktur pemilik grup usaha yang punya 3 perusahaan itu terus saja ngakak, sampai ia pegang pundak saya, sambil berbisik. “Gedein usahanya, punya perusahaan sendiri trus buka cek sendiri!”
Akhirnya saya balik kanan, membawa selembar cek.Dan pergi ke bank untuk mencairkan cek pertama saya.

image

Saya saya ingat ucapannya, “Gedein usahanya”. Kalimat yang membuat saya jungkir balik membesarkan usaha. Meski ternyata membesarkan usaha tidak mudah. Kapasitas pribadi dulu yang dikuatkan dan dibesarkan. Karena semakin besar usaha semakin besar juga tantangannya.

Akhir kalam Rasanya saya harus berterima kasih kepada mereka, berkat mereka saya belajar membesarkan usaha. Sampai punya perusahaan sendiri dan kantor sendiri. Sampai istana pun bisa jadi konsumen kami.

Ditulis di Istana Kepresidenan RI Bogor, 18 Juli 2018