image

Tangisan Messi

Ole.com.ar

bercucuran air mata dan langkah gontai ketika messi mengakhiri final copa America Centanario. Untuk kesekian kalinya Messi gagal membawa Argentina memenangi kompetisi mayor antar negara, meski empat kali tampil di final. Dan apesnya ia juga turut berperan atas kegagalan tersebut, ketika sepakannya dari titik putih jauh dari sasaran. Kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam terlukis jelas dari raut wajahnya. Dan mengambil sebuah keputusan emosional untuk pensiun dari timnas.

Tak berapa lama, gelaran piala eropa digelar. Diluar dugaan Portugal untuk pertama kalinya memenangi tropi pertama mereka. Dan kemenangan Portugal memberikan warna persaingan yang berbeda antar persaingan dua mega bintang sepak bola dunia: Messi vs Ronaldo. Kedua pemain hebat dengan capaian pribadi dan prestasi klub yang mentereng. Meski sama-sama hebat, sebelum tahun 2016 belum pernah ada diantara keduanya yang mengantarkan negara masing-masing merenggut mahkota juara di kompetisi antar negara. Tapi kemenangan Portugal atas Prancis meneguhkan pencapaian Ronaldo tidak hanya di level klub, dan membuatnya unggul atas Messi dari segi pencapaian bersama Timnas.

Lebih naasnya lagi, datang berita hukum terkait Messi. Peraih empat titel Pemain terbaik dunia ini tersandung masalah pajak. Membuat sang mega bintang Barcelona ini menyandang status pesakitan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Awan pekat menyelimuti kehidupan Messi. Bisa jadi inilah titik nadir dari karirnya sebagai pesepak bola.

Bagaimana rasanya jadi messi? Dalam benak saya pasti sangat kecewa. Ada rasa cemburu juga pastinya melihat saingan pecah telur dan melewati pencapaian sendiri!

Tapi sikap iri tidak akan menyelesaikan masalah. Malah menambah beban pikiran dan menggerogoti mental. Ditiap kesuksesan orang lain belum tentu ada jatah kesuksesan kita. Ada baiknya tidak usah iri apalagi sampai ingin merebut kebahagiaan orang lain.

Hal yang bisa dilakukan adalah melihat proses kesuksesan seseorang. Dibalik proses menuju kesuksesan ada pelajaran yang tersimpan di sana.

Mari flashback pada laga final piala Eropa antara Portugal vs Perancis. Sama seperti Messi, Ronaldo merupakan sosok yang menjadi tulang punggung bagi negaranya. Beban besar juga tersemat di pundak mega bintang Real Madrid tersebut. Dan pada menit ke 25, dunia pun menyaksikan Ronaldo menangis, seperti halnya Messi. Saat ia harus menyerah karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi melanjutkan laga. Tangis kesedihan yang dalam, meratapi nasib seolah harapannya pupus sudah untuk membantu negaranya menjadi juara eropa. Apalagi mengingat usia yang sudah menginjak 31, momen sekarang atau tidak sama sekali menghampirinya karena semua orang tahu, dengan sederet gelar juara di level klub maupun indivu, Cristiano belum pernah mengantarkan Portugal berjaya di Eropa dan kesempatan itu, kesempatan yang sudah di ada di depan mata, bagai sirna diterpa cedera.

Ronaldo ditandu keluar lapangan dengan sakit di hati yang lebih dalam dari sekedar cederanya. Meski demikian, loyalis Prancis yang mengetahui betul timnya diuntungkan, tetap menaruh rasa hormat pada sang bintang dengan memberikan aplaus.

Namun Ronaldo memberikan kejutan sekaligus pelajaran yang berharga. Alih-alih menyerah dan berbaring di ruang medis, ia memilih jalan lain. Masuk ke pinggir lapangan dengan lutut dibebat perban dan berperan sebagai motivator bagi rekan-rekannya. Ketidakhadiran di tengah lapangan digantikan dengan posisi motivator tim di tepi lapangan, pilihan yang membuat rekan-rekannya bangkit dan tak mau mengalah dari tuan rumah.

image

Ronaldo memotivasi rekan-rekannya dari tepi lapangan

Foto: (REUTERS/John Sibley)

Sang pencetak gol semata wayang pada final tersebut, Eder, mengakui pengaruh motivasi yang diberikan oleh Ronaldo. Menurut Eder, sang kapten masih memiliki pengaruh yang besar karena ia memberi kepercayaan diri untuk rekan-rekannya agar bisa meraih kemenangan tanpa dirinya. Eder pun menambahkan bahwa: “[Ronaldo] mengatakan kepada saya kalau saya bakal mencetak gol penentu kemenangan untuk tim,”

Hanya dalam hitungan jam, Ronaldo merubah keadaannya dari titik nadir menjadi di atas. Yah Roda nasib memang berputar kadang di bawah dan kadang di atas. Messi bisa jadi sedang berada di titik nadirnya. Tapi siapa tahu ia akan menuju puncak kejayaannya. Begitu pun kecepatan roda berputar ada yang cepat ada juga yang lambat.

Cepat Atau Lambat Roda terus berputar

Sebelum Ronaldo dan Portugal menjuarai Eropa, khalayak sudah dikejutkan terlebih dahulu oleh Leicester city yang menjuarai Liga Inggris dengan mempercundangi klub – klub super kaya yang bertabur bintang. Pada leicester city kita akan menukil kisah titik nadir sang manajernya Claudio Ranieri.

Claudio Ranieri pernah mengalami momen terburuk dalam karier kepelatihannya. Saat dirinya dipecat sebelum tugasnya benar-benar rampung di Chelsea. Bahkan media-media Inggris menyebutnya sebagai Dead man walking, alias zombie. Bagi anda yang lupa dengan pemecatan Ranieri, bisa digambarkan seperti berikut

Proses pemakzulan Ranieri sangat menyakitkan. Nasibnya sudah berada di ujung tiang gantungan, bahkan sebelum dia sempat merampungkan tugasnya di klub London Barat tersebut. Bagaimana tidak, beberapa jam sebelum timnya bertarung habis-habisan melawan AS Monaco di semifinal Liga Champions 2003-2004, para pejabat Chelsea bertemu dengan pelatih FC Porto saat itu Jose Mourinho.

Tak tanggung-tanggung, pemilik klub Roman Abramovich dan chief executive Peter Kenyon turun langsung menemui pelatih Portugal tersebut. Saat mereka mengumbar senyum, berjabat tangan, dan mungkin cipika-cipiki menyepakati kontrak kepelatihan musim selanjutnya, Ranieri seorang diri berteriak dari pinggir lapangan. Menyemangati anak asuhnya yang dihancurkan Monaco 3-1.

Ranieri bahkan tak diberi waktu untuk membuktikan dirinya layak. Musim sudah berakhir untuknya, meski beberapa laga masih tersisa. Empat pertandingan Premier League dan second leg Liga Champions melawan Monaco. Sejumlah media Inggris menyebut kondisi Ranieri seperti zombie, “Dead man walking.” Insiden itu membuat mantan pemain AS Roma tersebut mulai belajar bagaimana rasanya ditikam dari belakang. Pengkhianatan memang pahit.

Ranieri pun berkelana ke beberapa klub di berbagai negara dengan menyandang julukan Mr Runer up. Selain memiliki julukan ‘Tinkerman’ karena sering melakukan rotasi pemain, Ranieri juga mendapat julukan ‘Mr Runner-up’. Julukan itu didapat Ranieri karena prestasi terbaik pelatih 64 tahun itu di liga adalah selalu menjadi runner-up bersama Chelsea, Juventus, AS Roma, dan AS Monaco.

Sampai akhirnya awal musim 2015-2016 Ranieri ditunjuk menjadi manajer Leicester City menggantikan posisi Nigel Pearson. Ranieri diragukan banyak pihak, bahkan oleh legenda Leicester Gary Lineker. Namun, Ranieri berhasil menciptakan keajaiban dengan membawa Leicester menjadi juara Liga Primer dengan nilai skuad setara rekrutan anyar Manchester city bernama Kevin De Bruyne.

Tentu yang lebih istimewa dari keberhasilan Ranieri adalah tempat penasbihan gelar juara yang berlangsung di kandang Chelsea. Sebuah momen istimewa kembalinya Ranieri ke kandang Chelsea dengan membawa kesuksesan bersejarah bagi The Foxes. Pasalnya, Leicester City telah memastikan gelar juara musim ini, sementara Chelsea tidak mengejar finis di posisi tertentu pada klasemen.

image

Dan butuh11 tahun bagi pelatih asal Italia itu untuk membuktikan bahwa keputusan owner Chelsea Roman Abramovich memecat dirinya 11 tahun lalu adalah kesalahan besar. Sekaligus memupus julukan lamanya sebagai spesialis runer up.

Akhir kata, seperti roda nasib yang berputar, kita semua akan mengalami kondisi titik nadir… Jika berada di titik itu, jangan menyerah…