Ini salah satu buku bagus. Kumpulan cerpen HTR dari tahun 1992 sampai 2005. Bagi pembaca sastra mungkin nama HTR sudah taka sing lagi, apalagi bagi kalangan penulis FLP (HTR yang diriin).
berikut ini 2 resensi tentang buku itu yang diambil dari milis FLP.
*Bukavu: Cara Helvy Membuat Tuhan Tersenyum*
Oleh Lia Octavia
Judul buku : Bukavu
Penulis : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Tebal : 219 halaman
Cetakan : Pertama, April 2008
*Bacalah semua yang bisa kau baca, yang terbaca maupun tak terbaca dengan
nama Tuhanmu yang menciptakan*. Demikianlah berawal dari surat Al Alaq dalam
Al Qur’an, Helvy membaca berbagai peristiwa yang terjadi dan menuliskannya
dengan hati, dengan jiwa, dengan cinta. Bukan saja beberapa fakta sejarah
yang membalut kisah perjalanan hidup manusia di muka bumi ini, tetapi Helvy
juga mengeksplorasi arti di balik luka, impian, dan harapan yang terhempas
demi membaca cinta yang terbungkus lara.
Kumpulan cerpen ini berbicara lebih dari sekedar peristiwa, melainkan
membisikkan hingga meneriakkan segenap kekuatan yang berada di dalamnya
serta memaksa pembacanya untuk berenang-renang dalam lautan energi yang
dinamis dan, tidak bisa tidak, menyatu pada setiap tokoh rekaannya. Melalui
segenap perasaan dan pergumulan tokoh-tokohnya, Helvy membawa pembacanya
pada keniscayaan bahwa Tuhan tersenyum melalui berbagai cara.
Seperti dalam cerpen yang berjudul *Lelaki Semesta*, Helvy menggambarkan
seorang lelaki terbaik yang pernah diimpikan umat manusia. Penolong,
penghibur, lelaki yang senantiasa terdepan dalam kebajikan, cinta, dan
kedamaian bagi orang di sekitarnya. Namun manusia putih dan berkilau itu
ternyata tidak dapat membuatnya terhindar dari tuduhan dan fitnah hanya
karena ia berjanggut, bersorban, dan berjubah. Di tengah-tengah tawa iblis
yang membahana dan penyiksaan yang nyaris tak tertahankan, lelaki itu tak
putus mendoakan mereka yang menyiksanya agar Tuhan memberi mereka petunjuk
dan mencintainya. Sebuah gambaran kelapangan jiwa seorang manusia untuk
mencintai. Karena hanya dengan mencintai, ia pula memaafkan.
Helvy juga menggambarkan kerinduan seorang hamba yang menggelegak untuk
bersujud di Rumah Allah dalam *Juragan Haji*. Begitu rindunya tokoh Mak
Siti ini sehingga ia mendengar namanya dipanggil berulang kali oleh
suara-suara yang tak kelihatan wujudnya dan kemudian ia tiba-tiba berada di
depan Ka’bah. Hati yang begitu merindu Tuhannya membuat Mak Siti – yang
hanya seorang pembantu di rumah majikannya yang sudah berkali-kali naik haji
– telah naik haji dengan caranya sendiri.
Potret keadaan pasca peristiwa tsunami di Aceh juga digulirkan Helvy dengan
lincah dalam cerpennya yang berjudul *Ketika Cinta Menemukanmu*. Pergulatan
untuk keluar dari badai trauma psikologis seorang gadis belasan tahun, yang
kehilangan anggota keluarga dan lupa namanya sendiri, untuk tidak mau lagi
kehilangan lagi. Takut kehilangan cinta dari para relawan di tempat
pengungsian. Pergulatan untuk kembali berdiri dan berjalan di atas
reruntuhan duka hingga waktu mengobati segala.
Keteguhan dan kegigihan seorang muslimah muda untuk berperang, melawan
iblis berbentuk monster berwajah manusia yang membantai warga muslim di
tanah Ambon, mampu menghantarkan panggilan dari Sang Maha Agung kepada angin
untuk membantunya dalam *Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin*. Bersatunya
segenap makhluk dan ciptaan Tuhan yang penuh cinta menghadapi angkara dan
durjana untuk mempertahankan tanah kelahiran yang begitu menggetarkan.
Helvy bahkan menyoroti panggung sandiwara bernama kehidupan yang penuh
topeng dan kepura-puraan sehingga para pemainnya lupa untuk tersenyum dalam
*Mencari Senyum*. Dengan cerdas Helvy mengkritik realita peristiwa
penjarahan harta, kedudukan, dan kehormatan yang telah membawa pergi senyum
mereka melalui dialog-dialog antara lelaki tua, lelaki 1, lelaki 2, lelaki
3, dan badut. Begitu banyaknya kegetiran dan sinisme di dalam kehidupan yang
dialami tokoh-tokohnya sehingga mereka lupa bahkan tidak tahu bagaimana
caranya senyum dapat hadir kembali menghiasi bibir-bibir mereka. Sebuah
pencarian cahaya yang sia-sia.
Pertumpahan darah warga Palestina pun tidak luput dari pena Helvy yang
meneriakkan arti sebuah derita yang berkepanjangan melalui mata seorang
serdadu Yahudi di Yerusalem yang terperangkap dalam bayang-bayang hitam para
pendahulunya. Serdadu yang terbelah antara rasa kemanusiaan dan kepekatan
darah yang mengalir di tubuhnya dalam *Hingga Batu Bicara. *Dengan lincah
Helvy meliuk-liukkan kenyataan dan mimpi buruk sehingga tidak bisa dibedakan
lagi antara mimpi menjelma nyata atau nyata menjelma mimpi.
Hingga bisikan pilu *Kivu Bukavu* yang menyaksikan pembantaian etnis di
Afrika di mana gelimpang mayat bercampur sampah, air mata, dan darah,
menggetarkan pena Helvy begitu rupa saat di tengah derita yang
berkepanjangan ini, masih ada seorang gadis yang ingat untuk selalu dekat
dengan Tuhannya, menunaikan shalat di antara ratusan tengkorak yang belum
mati, hingga akhirnya ia pergi menghadap Penciptanya dalam doa yang tak
pernah putus. Begitu pilu. Begitu ngilu. Hingga danau tak dapat menangis.
Helvy berhasil menggubah cerpen-cerpennya dengan indah melalui
kepenyairannya. Kalimat-kalimat puisi yang merajut setiap peristiwa, rasa
dan makna menjadi secercah cahaya yang semula tidak terbaca kemudian
berpendar dan menerangi ruang jiwa mereka yang membaca karya-karyanya.
Membaca semua yang bisa dibaca melalui jendela yang Helvy bukakan untuk para
pembacanya. Dan entah disadari atau tidak, Tuhan mungkin sedang tersenyum
menatap Helvy dari suatu tempat di atas sana.
Jakarta, 31 Oktober 2008
Nah kalo yang satunya lagi dari Dani Ardiyansyah.
Bukavu: Diam Yang Begitu Gerak
Oleh Dani Ardiansyah
Banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi tanpa dapat terekam dengan baik oleh manusia,
yang dapat menuturkannya kembali. Mungkin para saksi sejarah itu tidak lagi
hidup ketika kondisi memungkinkan untuk menceritakaknya kembali. Atau, mungkin
mereka juga terlalu enggan, membuka kembali album hitam yang Telah dikubur dalam-dalam.
Tapi alam tak pernah berdusta, mereka menyimpan seribu peristiwa, merekamnya,
lalu menuturkan kembali dalam gejala-gejala kemanusiaan setelahnya. Dalam Kivu
Bukavu, Helvy mencoba menggali informasi dari sebuah danau yang menjadi
saksi sejarah sebuah peristiwa. Dalam Kivu Buakvu, bahkan Helvy
berimprofisasi dengan alam, diajaknya danau bertutur:
Kivu, kau yang terindah
Bisik hemingway.
Aku ingin menangis,
Namun danau tak dapat menangis
Tentu saja bukan karena Helvy kehilangan ide untuk menghidupkan karakter yang
lebih realistis dari hanya sebuah danau, tapi itulah keindahan puitik yang
terkadang menjadi representasi sebuah peta sejarah. Baris-baris puisi yang
terdapat dalam cerpen berjudul Kivu Bukavu, (hal. 193) dikutip pada
sampul depan kumpulan cerpen ini.
Cerpen Pertemuan di Taman Hening, membuka sua pembaca dengan Bukavu
(Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008) dan Jaring-jaring Merah,
cerpen yang sudah pernah dipentaskan dalam bentuk teater, mengakhiri kumpulan
cerpen ini. Dalam hampir setiap halaman Bukavu, terjadi pergantian nilai
rasa dalam percakapan dari kurang sopan menjadi lebih sopan.
Perbendaharaan kosa kata yang dimiliki oleh Helvy, rupanya tak disia-siakan
dalam Bukavu. Banyak sekali gejolak ego dan emosi dituturkan dengan
indah dan rupawan. Meskipun Helvy tidak bermaksud menulis puisi dalam Bukavu,
tapi citarasa bahasanya sebagai penyair, cukup berpengaruh dalam menuliskan
cerpen-cerpennya, sehingga hasilnya adalah narasi-narasi puitis, yang kadang
simbolik, konotatif, dan bermajas, layaknya baris-baris puisi.
Tokoh-tokoh unik baik dari karakter maupun identitas tokoh, mulai bermunculan
dari cerpen pertama dalam Bukavu. Pertemuan di Taman Hening. Kas
& Sih dengan semua masalah hubungan suami istri yang sangat manusiawi. Dua
tokoh yang jika namanya disatukan, maka saya yakin akan menyaingi kepopuleran Rome dan Juliet. Hingga
Sih, ditakdirkan Helvy Menjadi perempuan yang hanya bisa meratapi nasibnya
dengan imaji. Mencari solusi di taman yang bahkan tak pernah ada.
“Sejuta lelaki yang semuanya entah mengapa adalah Kas tapi tak
sepenuhnya Kas. Lelaki-lelaki itu mengatakan mencintainya seperti surga. Kas
tak pernah berkata seperti itu. Sih ber-istighfar. Perlahan dihapusnya
sisa-sisa airmata yang ada. Dengan gemetar jari-jari kurusnya mulai bergerak di
atas mesin tik. Kas tak akan pulang lagi malam ini. Dan Sih, akan pergi ke
tempat itu lagi. Ke taman hening”.
Tanpa bermaksud mengungkit luka lama dalam tragedi bom bali, Lelaki kabut
dan Boneka yang mendapat Anugerah Pena (2002) ini bertutur dengan
deskripsi yang surealis. Meski begitu, pembaca akan dengan mudah mengetahui
latar histori realita yang menjadi sumbu dari cerpen ini. Angkara yang
digambarakan lewat tokoh aku, seakan mempu membuat hidung kita mencium bau
hangus jelaga, ketika peristiwa pemboman itu terjadi.
Cerpen yang berjudul Idis (hal. 21) akan membawa kita seakan menelusuri
kembali legenda kepahlawanan masyarakat Kalimantan
selatan. Menelusuri belantara hutannya. Merasakan keberanian Gahara, seorang
perempuan muda dengan dendam kepada para penjajah.
Lalu Ze, seorang pemuda di Lorosae yang menjadi menjadi korban pembagian
wilayah negara. Ketika keberpihakan tak lagi menjadi berharga
“Apa bedanya aku pro atau tidak pada kelompok-kelompokm itu?”
tanya Ze, pelan (hal. 41).
Sikap lain dari keinginan yang tidak pernah mendapatkan tempat bagi otoritas.
Ze tak peduli, merah putihkah, atau bintang terangkah yang berkibar. Ze hanya
ingin hidup, dia tak pernah ingin ditembak. Dalam Ze Akan Mati Ditembak
(hal. 41)
Membaca Darah Hitam (hal. 69), seperti mendengarkan kembali seorang
teman saya yang berasal dari kalimantan dan sebagai seorang anak dari Suku Dayak.
Saya mendapatkan visi yang jelas ketika membaca cerpen ini dengan referensi
tambahan cerita teman saya tersebut. Deskripsi yang sama, pengalaman yang sama,
dalam tragedi yang sama.
Nerang berhasil membuat saya benar-benar merasa muak pada sifat jahat yang
bersembunyi dan membela diri dengan alasan mempertahankan tanah leluhur.
Karakternya benar-benar mampu memanfaatkan situasi yang buruk demi egonya.
Helvy menceritakannya seolah ia adalah perempuan yang bahkan tak mampu
mengingat namanya sendiri dalam cerpen tersebut. Sedangkan teman saya
menceritakan hal itu dengan sorot matanya yang aneh ketika seorang pedagang
sate madura melintas.
Kita akan merasakan puitisasi prosa dalam cerpen-cerpennya yang lain. Ketika
Cinta Menemukanmu (hal. 119), Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (hal.
129), Lelaki Semesta (hal. 151), Pulang (hal. 183), dan Kivu
Bukavu (hal. 193).
Bagi para penikmat karyanya, Helvy cukup familiar menyuguhkan ragam realita
dalam setiap cerpen yang ia tulis. Kita seperti menyaksikan sebuah fragmentasi
peristiwa dalam visualisasi cerpen-cerpen didalam buku ini. Bahwa kata adalah
senjata, difahami betul oleh Helvy. Tak usah heran ketika Anda tengah membaca Bukavu,
ada lintasan memori yang menguatkan deskripsinya, mungkin suatu ketika, kita
pernah menyaksikan ulasan berita kejadian tersebut di televisi.
Pangkalan Jati, Depok
29 Oktober 2008